
Meskipun tubuh Kiara masih begitu lemas, Kiara tetap mengikuti kemauan Arron. Dengan langkah gontai Kiara keluar dari apartemen tersebut, walaupun rasanya begitu berat meninggalkan tempat yang selama beberapa bulan ini penuh kenangan manis bagi mereka berdua.
Kiara merasanya hal tersebut seperti mimpi, Arron yang begitu mencintainya dengan mudahnya meragukan kesetiaan dirinya.
Setelah diusir Arron, Kiara pulang ke rumah Tya. Dia masih berharap seiring berjalannya waktu Arron bisa mendengarkan penjelasannya dan mau memaafkan dirinya.
Setelah sampai di rumah Tya, ketika Kiara berdiri di depan rumah itu, tiba-tiba kepalanya semakin sakit. Bahkan, rasanya wanita itu sudah tak sanggup lagi berdiri. Detik selanjutnya, semuanya menjadi gelap. Kiara tak sadarkan diri di depan rumah Tya.
"Ara, kamu kenapa? Wajah kamu pucat. Lalu kenapa kamu bawa barang-barang kaya gini? Kemana Arron? Apa kamu udah ijin pergi ke rumah kakak? Hubungan kalian baik-baik aja kan, Ara?" cerocos Tya, tak ayal semakin membuat Kiara merasa pusing.
Wanita itu pun mulai terisak dan menggelengkkan kepalanya. "Kak, kepala Ara pusing."
"Sabar ya Ara, kakak udah panggil dokter, sebentar lagi dokter pasti datang."
Beberapa menit kemudian, seorang dokter pun datang. "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Tya dengan penuh kecemasan.
"Sebenarnya tidak ada yang terlalu dikhawatirkan, dugaan saya Nyonya Kiara sedang hamil, untuk memastikan hal terssbut, sebaiknya nanti di USG saja ke rumah sakit. Atau, jika kondisinya belum memungkinkan bisa menggunakan alat test kehamilan yang dijual di apotek."
Raut wajah Tya begitu bahagia, akan tetapi tidak dengan Kiara. Arron sudah menalaknya, dalam benak Kiara, entah dia mau mengakui anak ini atau tidak Kiara pun tak tahu.
"Selamat ya Ara, sebentar lagi kamu akan jadi ibu, sekarang kamu harus beritahu Arron secepatnya, dia pasti seneng banget denger kamu hamil."
Mendengar perkataan Tya, Kiara hanya bisa menangis. "Ngga Kak, Mas Arron sudah menalakku, dia pasti nggak percaya anak yang aku kandung adalah darah dagingnya."
Mendengar perkataan Kiara, Tya pun begitu panik. "Loh kok bisa, sebenarnya apa yang udah terjadi sama rumah tangga kalian berdua, Ara?".
__ADS_1
Kiara pun menceritakan semua yang terjadi pada Tya. "Ara, kamu tenang aja. Kak Tya dan Kak Kevin, akan coba bicara sama Arron besok, semoga dia masih mau dengar penjelasan kami. Rumah tangga, itu bukanlah sebuah permainan, kamu harus bisa mempertahankan rumah tanggamu."
Kiara hanya mengangguk kemudian menangis. 'Mengapa kemalangan ini harus terjadi dalam rumah tanggaku, Tuhan?' batin Kiara dalam hati. Setelah itu, Kiara mencoba berulangkali menghubungi Arron. Akan tetapi, ternyata nomer Kiara sudah diblokir olehnya.
Keesokan harinya Tya dan Kevin pergi menemui Arron, namun saat Kiara melihat mereka pulang dengan raut wajah kecewa, tanpa bercerita wanita itu pun tahu apa jawabannya. Ya, Arron bahkan sama sekali tak mau menemui keduanya.
Seakan tak ada harapan, Kiara pun memutuskan pulang ke rumah orang tuanya di Bandung. Kiara begitu terpuruk saat menjalani kehamilan, bahkan ada sebuah rasa trauma yang begitu besar hingga membuatnya terkadang tiba-tiba berteriak dan menangis sejadi-jadinya.
"Mas Arron, maafin aku, Mas. Aku nggak pernah selingkuh, aku cinta sama kamu, jangan tinggalin aku, Mas."
Melihat tingkah Kiara, keluarganya pun merasa sedih. Tak mau melihat hidup Kiara semakin kacau, orang tuanya akhirnya memutuskan untuk membawa Kiara menjalani terapi dengan seorang psikiater, yang bernama Alvian.
Alvian selalu memberikan semangat di tengah keterpurukan itu. Alvian selalu memberikan kenyamanan pada Kiara yang saat itu terlihat begitu rapuh.
Setelah menerima surat cerai itu, dia mulai bangkit ditemani keberadaan keluarga dan Alvian di sampingnya yang selalu menguatkan hatinya. Meskipun saat itu sebenarnya posisi Alvian hanya sebatas psikiater bagi Kiara, akan tetapi laki-laki itu, melakukan hal lebih di samping tugasnya.
Di sela waktu luangnya, dia selalu menemani Kiara, bahkan dia lah yang selalu mengantar Kiara ketika pemeriksaan kandungan. "Ara, everything is gonna be okay. Ada aku di sini, aku akan selalu temenin kamu jalani hidup ini."
"Makasih Mas Alvian," jawab Kiara. Setelah itu, dia meraba perut besarnya. "Nak, kita baik-baik saja tanpa kehadiran Papamu, kita pasti bis hidup bahagia berdua, mari kita membuka lembaran baru ya sayang," batin Kiara.
Semangat Kiara pun semakin tumbuh saat mulai merasakan kehadiran janin di rahimnya. Apa lagi, saat janin itu mulai bergerak-gerak, ada sebuah kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Saat ini Kiara sudah membuka kehidupan baru tanpa memikirkan Arron dan berusaha membuangnya jauh-jauh laki-laki itu dari ingatannya. Apalagi ada Alvian yang selalu ada di sampingnya.
Tak terasa hari dan bulan berlalu dengan begitu cepat. Kiara melahirkan seorang bayi perempuan yang begitu cantik, kulitnya putih, matanya begitu teduh, dan hidungnya sangat mirip dengan Arron. Kiara memberinya nama Eveline.
__ADS_1
Setelah melahirkan Evelyn, tak henti-hentinya Kiara memandang wajahnya. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah kerinduan kembali hadir ketika Kiara menatap wajah Eveline yang begitu mirip dengan Arron.
"Mas anakmu udah lahir, aku kangen kamu Mas, tapi..." Kiara tak melanjutkan lagi kalimatnya, wanita itu kini pun hanya bisa terisak seraya menatap Evelyn di gendongannya.
Eveline tumbuh menjadi bayi yang begitu lucu, tubuhnya berisi, dan tingkahnya pun sangat menggemaskan. Semua keluarga Kiara begitu menyayanginya, bahkan Alvian menyuruhnya memanggil dengan sebutan daddy. Laki-laki itu, sering menghabiskan waktu menemani Kiara untuk merawat Eveline.
Tak terasa kini Eveline sudah berusia satu tahun. Suatu hari, saat Evelyn sedang tidur siang, dan Kiara sedang duduk di balkon kamar. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan rumah orang tua Kiara. Jantung Kiara berdetak begitu kencang, saat melihat seseorang keluar dari dalam mobil. Sosok yang saat ini begitu Kiara benci.
"Mas Arron," gumam Kiara. Tak berapa lama, pintu bel rumah Kiara pun berbunyi. Ya, saat ini Arron sedang menemui kedua orang tuanya untuk meminta maaf. Akan tetapi, Kiara bersikukuh tidak mau bertemu dengan mantan suaminya itu. Hati Kiara, rasanya sudah begitu sakit apalagi mengingat semua sikapnya 2 tahun yang lalu.
"Tolong maafkan saya, Pa, Ma. Saya baru tahu jika dulu Mama yang sudah memfitnah Kiara." Sayup-sayup permintaan maaf Arron pun terdengar di telinga Kiara. Akan tetapi, hati wanita itu seakan sudah membatu. Dia tak mau lagi mendengar penjelasan apapun dari Arron karena selama 2 tahun terakhir ini, dia menjalani semua rasa sakit itu dengan begitu berat. Bahkan juga sampai mengalami trauma.
Arron terus-menerus meminta maaf, bahkan berulang kali meminta kedua orang tua Kiara untuk mempertemukannya dengan mantan istrinya itu. Akan tetapi, Kiara tetap saja tidak mau bertemu dengan Arron, bahkan Kiara hanya menimpali perkataan Arron dari dalam kamarnya saja, karena dia sudah tak sanggup melihat wajah mantan suaminya itu, rasanya begitu sakit.
"Oh jadi dulu mamamu yang memfitnahku, Mas? Sungguh sangat picik kelakuannya, Mas."
"Kiara, tolong maafkan aku, ampuni aku, beri aku waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku padamu."
Meskipun tak melihat wajah Arron, tapi Kiara tahu jika laki-laki itu saat ini sedang menangis. Namun, hati Kiara rasanya sudah membatu, tak sedikitpun dia luluh dan merasa kasihan melihat sikap Arron.
"Sudah cukup Mas, silahkan kamu pergi, kami tak punya banyak waktu untuk meladeni drama busukmu itu."
Merasa putus asa Kiara tak mau bertemu dengannya, Arron pun memutuskan untuk berpamitan. Akan tetapi, ternyata laki-laki itu tidak pulang ke rumahnya, melainkan terus berdiri di depan rumah Kiara sambil menatap jendela kamar mantan istrinya itu. Berharap melihat sosoknya, meskipun hal itu terlihat sia-sia karena Kiara belum mau bertemu dengannya.
"Maafkan aku, Ara. Aku akan tetap berdiri di sini sampai kamu mau maafin aku. Aku akan tetap meminta maaf padamu meskipun harus menghabiskan seumur hidupku, aku cinta sama kamu Ara."
__ADS_1