Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Penjelasan


__ADS_3

Sementara itu di villa, setelah melihat Arron pergi dengan membawa Kiara, Queen merasa begitu kesal, sekaligus juga malu karena saat Arron marah padanya mereka jadi pusat perhatian dan tentu saja hal tersebut membuat para mahasiswa yang lain pun tahu jika Queen telah menjebak Kiara. Termasuk Lia, salah satu sahabat Kiara yang melihat dan juga merekam bagaimana kemarahan Arron pada gadis itu.


Saat ini, Queen ada di dalam kamar sambil mondar-mandir. Dia juga merasa panik jika sampai ada yang menceritakan hal tersebut pada orang tuanya maupun orang tua Arron. Dan sebelum hal itu terjadi, Queen pun ingin mencegahnya dengan menghubungi Inez terlebih dulu.


[Halo Tante.]


[Ya, ada apa Queen?]


[Begini Tante, sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin kuceritakan pada Tante.]


[Ada apa Queen? Bukankah kalian saat ini sedang mengadakan acara di Puncak?]


[Iya Tante, tapi ada sedikit masalah, wanita gatel itu yang selalu mendekati Arron, mencoba memfitnahku dengan melakukan jebakan seolah-olah dia yang terzalimi olehku. Dan sekarang, Arron semakin membenciku, Tante.]


[Apa, lancang sekali dia berbuat seperti itu padamu?]


[Iya tante, karena itulah sekarang Arron dan teman-teman membenciku. Tapi, Tante percaya padaku kan? Aku tidak mungkin berbuat seperti itu pada orang lain?]


[Iya Queen, kau tenang saja. Hanya kau satu-satunya yang tante percaya dan juga kaulah yang pantas menjadi menantu tante.]


[Terima kasih banyak tante, bolehkah aku minta satu hal lagi pada tante?]


[Tentu saja, apa yang kau minta Queen?]


[Setelah Arron pulang ke Jakarta, maukah tante untuk memisahkan mereka berdua?]


[Kau tenang saja, sebentar lagi bukankah Arron selesai kuliah? Tante tidak akan mengizinkan Arron melanjutkan program pasca sarjananya di Universitas yang sama dengan wanita itu. Setelah kalian selesai sarjana, kalian akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Bagaimana kau setuju kan?]


[Tentu saja Tante, terima kasih banyak. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya Tante, ini sudah malam selamat beristirahat.]


[Selamat beristirahat, Queen.] jawab Inez, dia kemudian menutup telepon tersebut. Sementara itu, di ujung sambungan telepon Queen tampak tersenyum smirk.


"Sampai kapanpun, hanya akulah yang akan memilikimu Arron."


***


"Sadar Kiara, kenapa kok kamu jadi nakal gini sih?" ujar Arron sambil menggelengkan kepalanya.


"Tampan, aku mau yang seperti tadi!" sahut Kiara sambil memajukan bibirnya. Aaron pun mendaratkan kecupan di bibir Kiara.


"Kok cuma kayak gitu sih!"


"Terus mau kamu apa?"

__ADS_1


"Mau jilat-jilatan."


Arron pun terkekeh. "Dijilat, diputer, dicelupin?"


"Hahahahaha... Iya, aku mau dicelup-celup. Celup aku dong!" pinta Kiara seraya memainkan matanya, disertai gerakan bibir yang menggoda.


Melihat tingkah Kiara, Arron pun menggelengkan kepalanya seraya memijat pelipisnya. Namun, tanpa aba-aba Kiara tiba-tiba kembali mencium bibirnya.


Tentu saja hal itu membuat Arron merasa terkejut. Kiara yang sudah sangat sensitif karena pengaruh obat mulai melompat, menaikkan badannya ke atas tubuh Arron.


Arron yang tak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu dari Kiara kemudian membetulkan letak gendongan Kiara yang awalnya seperti koala, sekarang laki-laki itu pun membopong tubuh mungil Kiara di atas pundaknya.


Bersamaan dengan itu, pintu lift pun terbuka. Arron pun menggendong Kiara keluar dari lift sambil mencengkram erat tubuh Kiara di pundaknya. Cengkraman itu, membuat tubuh Kiara menggeliat.


Hal itu sebenarnya dilakukan agar Kiara tak banyak bergerak, tetapi gadis itu malah semakin terangsang dan menjilati daun telinga Arron, sekali Kiara juga meniupnya hingga membuat bulu kuduk laki-laki itu kembali meremang.


Setelah mereka sampai di kamar, Arron menurunkan Kiara agar berdiri di depannya, lalu menatap tajam pada gadis itu.


"Ayo tampan kita lakukan yang lebih menyenangkan. Diputar, dijilat, dicelupin. Aku mau dicelupin, tampan. Hihihihi..."


Kiara terkekeh sambil bergelayut manja di tubuh Arron, namun hanya dibalas senyuman simpul oleh laki-laki itu.


"Kau sudah siap kan Kiara?" balas Arron seraya melepaskan pelukan Kiara di tubuhnya.


"Aaaaaaaahhhh!"


***


Keesokan harinya, Kiara mulai membuka matanya saat mendapatkan kembali kesadarannya. Dan hal terakhir yang Kiara ingat adalah saat Queen meninggalkannya bersama seorang laki-laki di dalam sebuah bungalow di belakang villa.


Mengingat hal itu, membuat Kiara berkali-kali menekuk salivanya dengan kasar. Rasa takut kian merasuki dirinya dia pun menggigit bibir bawahnya seraya menatap ke langit-langit kamar


Di saat itulah, dia baru menyadari jika saat ini dia bukan berada di bungalow.


"Aku di mana?" lirih Kiara.


"Apa tadi malam sudah terjadi sesuatu antara aku dan laki-laki itu?" Mengingat hal tersebut, membuat dada Kiara begitu sesak, tubuhnya pun melemas, berbagai pikiran buruk kian menari dalam benaknya.


"Oh Tuhan, apa aku sudah tidak suci lagi?"


Seketika, butiran bening itu air pun kian mengalir deras dari kedua sudut matanya. Mendengar isakan Kiara, Arron pun terbangun.


"Kiara, kamu sudah sadar?"

__ADS_1


Mendengar suara seorang laki-laki yang dikenalnya, Kiara pun menoleh dan melihat sosok Arron yang saat ini duduk di samping ranjangnya.


"Kau? Kenapa kau ada di sini, Kak? Kita ada di mana?" Kiara pun semakin terlihat panik.


"Kau tenang saja, kau aman Kiara. Kita ada di hotel."


"Apa hotel? Apa yang sebenarnya telah kau lakukan padarku, Kak? Apa kau telah bertindak kurang ajar padaku? Lancang sekali kau membawaku ke sini?"


Kiara menyipitkan matanya di sela deru nafasnya yang tampak begitu tersengal-sengal. Gadis itu terlihat begitu emosi setelah mengetahui keberadaan mereka sekarang.


"Kiara aku bisa jelaskan semuanya."


"Tidak usah kau jelaskan, Kak. Kau memang lelaki kurang ajar! Kau pasti sengaja membawaku ke sini dan melakukan sesuatu yang buruk padaku kan!"


PLAK


"Tidak Kiara, percayalah padaku. Aku nggak lakuin apapun ke kamu."


"Cukup Kak, aku tidak mau mendengar penjelasan dari laki-laki buaya darat sepertimu!"


"Kiara, tolong beri aku waktu buat jelasin semuanya ke kamu."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Kak. Lebih baik sekarang antar aku pulang!"


Arron pun mengangguk putus asa. sedangkan Kiara bangkit dari atas ranjang lalu bergegas keluar dari kamar tersebut. Saat mereka berjalan di lobby tampak tatapan aneh tertuju pada mereka berdua, beberapa tamu hotel yang berada di lobby berbisik.


"Bukankah gadis itu yang mabuk tadi malam?"


"Ya, mereka berdua pasti sudah melakukan hal messum di hotel ini. Dasar, anak jaman sekarang. Kelakuannya sungguh binnal!"


Sayup-sayup terdengar suara bisik-bisik dari beberapa tamu hotel tersebut hingga membuat Kiara merasa begitu sedih, dan juga tertekan. Gegas dia keluar dari hotel tersebut sambil menangis.


"Kiara, tolong jangan dengarkan perkataan mereka. Tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita."


"Diam Kak Arron, lebih baik kau diam. Apa belum cukup kau merusak masa depanku!"


"Tapi Kiara..."


"Tolong jangan ganggu aku lagi Kak, dan jangan pernah temui aku lagi. Lebih baik, aku pulang sendiri daripada melihat wajahmu yang memuakkan itu!" bentak Kiara lalu berjalan meninggalkan Aron masuk sebuah taksi.


"Tunggu Kiara!" cegah Arron. Akan tetapi, saat dia akan mengejar Kiara, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Mama..."

__ADS_1


__ADS_2