Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Seorang Figuran


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu, Kiara dan keluarganya memutuskan untuk pulang ke Bandung karena kesehatan papa Kiara yang memburuk. Kiara pun keluar dari perusahaan tempat dia bekerja, meskipun berat tapi semua itu dia lakukan demi orang tuanya.


Bagi Kiara, orang tuanya adalah orang yang berjasa menemaninya saat dia terpuruk. Jadi, di kala usia mereka sudah menginjak senja seperti ini, Kiara lebih memprioritaskan mereka dibandingkan dirinya.


Walaupun orang tua Kiara selalu meyakinkan putrinya itu jika kebutuhan mereka akan tercukupi dengan uang pensiunan mereka, akan tetapi Kiara tidak mau mengandalkan semua itu. Kiara tetap menjadi sosok yang mandiri dan tidak mau bergantung pada kedua orang tuanya.


Wanita itu pun tetap berusaha mencari pekerjaan demi menghidupi anak semata wayangnya, lebih tepatnya anaknya dengan Arron yang keberadaannya tidak diketahui oleh mantan suaminya tersebut. Beberapa hari setelah pindah ke Bandung, seorang laki-laki yang sangat akrab dengan keluarga Kiara mengunjungi rumah tersebut.


"Mas Alvian," sapa Kiara saat laki-laki itu berdiri di depan rumah mereka.


"Lama tidak bertemu, Kiara."


"Iya, kurang lebih 3 tahun."


"Maaf kalau saat itu aku pergi mendadak ke luar negeri, karena tiba-tiba saja aku mendapatkan beasiswa magister, dan aku sangat sibuk mengurus dokumen. Jadi, aku hanya sempat berpamitan padamu lewat ponsel."


"Tidak apa-apa, Mas."


"Kudengar 3 tahun yang lalu kau dan keluargamu juga pindah ke Surabaya?"


Kiara pun mengangguk. "Ya, kebetulan aku mendapatkan pekerjaan di Surabaya jadi Papa dan Mama memutuskan untuk ikut denganku. Aku hanya ingin membuka hidup baru, Mas, karena aku sudah bertekad untuk menutup luka lama itu."


Mendengar perkataan Kiara, Alvian pun menarik kedua sudut bibirnya. "Baguslah kalau begitu, memang sudah harusnya seperti itu. Kau harus menutup luka lamamu dan membuka lembaran baru. Kau harus bisa keluar dari belenggu masa lalu kelam itu."


"Iya Mas."


"Lalu apa rencanamu, Kiara?"


"Tentu saja aku akan mencari pekerjaan di sini."


"Apa perlu kubantu?"

__ADS_1


"Terima kasih."


***


Berapa bulan kemudian, Kiara sudah mendapatkan pekerjaan dengan dibantu oleh Alvian. Kiara mendapatkan pekerjaan kembali di sebuah perusahaan konstruksi,


sudah satu minggu lamanya Kiara bekerja di perusahaan tersebut


Sebenarnya pekerjaan di perusahaan itu begitu menyita tenaga dan pikirannya, akan tetapi Kiara nyaman dengan ritme kerjanya tersebut karena hanya dengan larut pada pekerjaan, dia bisa melupakan Arron.


Ya, Arron, sebuah nama yang sangat sulit Kiara lupakan meskipun sudah hampir 7 tahun lamanya Kiara berpisah dengan laki-laki itu. Akan tetapi entah mengapa sangat sulit melupakan mantan suaminya itu. Padahal, dia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada Kiara.


Meskipun dia sudah menunjukkan penyesalannya dan permintaan maafnya, akan tetapi luka itu masih ada. Walaupun di samping luka itu, juga ada rasa bersalah pada Arron yang telah membuat laki-laki itu hampir kehilangan nyawanya, ketika meminta maaf pada Kiara 3 tahun yang lalu.


Saat ini, sebenarnya Kiara merasa penasaran bagaimana rumah tangga Arron dengan Queen. Akan tetapi, dia tidak memiliki keberanian untuk membuka luka itu kembali karena dia sudah bertekad untuk benar-benar melupakan Arron meskipun nyatanya sampai saat ini masih sangat sulit melupakan laki-laki itu.


Siang ini, ketika Kiara sedang makan siang dan menscroll akun media sosial miliknya, secara tidak sengaja dia melihat saran pertemanan dari pemilik akun bernama Queen. Kiara pun begitu bimbang, jantungnya berdebar begitu kencang, ada rasa penasaran untuk melihat akun tersebut. Akan tetapi, di dalam lubuk hatinya dia merasa takut jika harus kembali merasa sakit manakala melihat kebahagiaan Queen dan Arron.


Beberapa saat Kiara terdiam, namun akhirnya dia memutuskan untuk membuka akun profil tersebut, lebih tepatnya untuk memastikan jika Arron benar-benar telah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Dan dia pun mungkin harus melakukan yang sama, bahagia dengan putri semata wayangnya.


Akan tetapi, Kiara tidak terlalu mempedulikan itu karena yang ada di dalam benak wanita itu, dia mengambil kesimpulan jika Arron memang telah hidup bahagia dengan Queen. Hal itu dibuktikan dengan dengan kehadiran seoran putra dalam kehidupan rumah tangga mereka.


"Sepertinya kalian sudah menjadi keluarga yang bahagia, aku senang kau bisa seutuhnya melupakan aku. Tidak seperti diriku yang masih terjebak dengan belenggu masa lalu."


***


Sorenya...


Saat Kiara berjalan di lobby kantornya, netranya tertuju pada sosok laki-laki yang sangat dia kenal.


"Mas Alvian."

__ADS_1


Laki-laki itu pun tersenyum, lalu mendekat ke arah Kiara. "Aku sengaja jemput kamu, kamu mau nggak ikut sama aku sebentar"


"Kita mau ke mana, Mas?"


"Ikut saja," ajak Alvian. Kiara pun mengikuti langkah Alvian menuju ke mobilnya.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di cafe tepi pantai. Di meja yang akan mereka duduki, sudah ada sebuket bunga mawar.


"Buat kamu, Kiara," ujar Alvian sambil memberikan buket bunga itu.


"Terima kasih, Mas," jawab Kiara. Sebagai seorang wanita, tentunya Kiara sudah tahu sebenarnya apa maksud Alvian.


Mereka pun duduk seraya berbincang, di sela perbincangan mereka, tiba-tiba Alvian berlutut di depan Kiara, lalu membuka sebuah kotak cincin.


"Apa kau mau menjadi istriku, Kiara?"


Sejenak Kiara terdiam, dia pun tidak tahu harus menjawab apa. Jauh di dalam lubuk hatinya, Kiara sebenarnya tidak mencintai Alvian. Akan tetapi, laki-laki itu begitu baik padanya.


Kiara sungguh sangat sungkan untuk menolak laki-laki sebaik Alvian, meskipun ini terdengar jahat dan munafik, tetapi tidak ada salahnya membalas kebaikan Alvian dengan cara yang sebenarnya salah, karena tidak ada rasa cinta di dalam hati Kiara. Akan tetapi, mungkin seiringan seiring berjalannya waktu, cinta itu akan datang, begitu yang ada di dalam benak Kiara.


"Kalau Mas Arron sudah memiliki kehidupan baru dan bisa hidup bahagia, kenapa aku tidak? Aku pasti bisa membuka lembaran baru dengan mas Alvian," batin Kiara.


"Bagaimana Kiara? Apakah kamu mau menerima lamaranku?"


Kiara masih terdiam dan diliputi rasa gundah.


"Kiara?"


Detik berikutnya, wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, aku mau menikah denganmu," jawab Kiara, meskipun disertai rasa sakit di dada.

__ADS_1


Laki-laki itu pun tersenyum lalu menyematkan cincin di jari manis Kiara.


"Aku hanyalah sebatas figuran pada sebuah kisah yang berjudul bahagia. Sebut saja, figuran munafik yang telah berbohong pada semesta hanya untuk menutupi sebuah luka. Maafkan aku, Mas Alvian."


__ADS_2