
"Masa lalu."
"Ada apa dengan masa lalu, Ara?"
"Ada kepingan masa lalu yang belum kuceritakan padamu, Mas."
Arron menggenggam tangan Kiara, seraya menatap manik hitam wanita itu sengan tatapan hangat. "Ceritakan padaku, Ara. Jangan ada yang kau tutupi."
***
FLASBACK ON
Sebelas Tahun Sebelumnya...
Kiara tampak menatap kedua orang tuanya yang saat ini sedang menikmati makan malam. Sebenarnya ada hal yang ingin dia sampaikan, tetapi dia ragu. Namun, tekad yang begitu besar membuatnya mencoba untuk memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Maaf Ayah, Ibu, Kiara mau ngomong sesuatu."
"Ngomong saja Ara ada apa sih?" sahut ayahnya, Yanuar.
"Begini Ayah, Ara mau minta ijin untuk kuliah di Universitas yang sama seperti Kak Tya di Jakarta. Kebetulan, lagi ada pendaftaran Ujian Masuk jalur mandiri, kalau boleh Ara mau ikut daftar."
Yanuar menarik nafas, kemudian terdiam dan melirik pada istrinya, Heni. "Serius kamu, Sayang? Kamu bisa hidup sendiri? Kamu kan manja, apa bisa mengurus diri kamu sendiri? Kamu bisa hidup tanpa ibu?"
"Kan disana ada Kak Tya, Ara juga pingin kuliah di salah satu Universitas terbaik di Indonesia."
"Ya masa kamu mau ngrepotin Tya, dia kan juga kuliah apalagi sekarang sedang ngerjain skripsi pasti sibuk," sahut Heni. Wanita paruh baya itu tampak cemas untuk melepas putrinya, tetapi tidak dengan Yanuar yang memang menginginkan putri bungsunya untuk bisa hidup mandiri.
"Kamu boleh kuliah di Jakarta Ara..." sahut Yanuar, tapi kata-katanya terhenti, lalu matanya mulai melirik pada Heni yang masih tampak begitu cemas.
"Kamu boleh kuliah di Jakarta, asal kamu jangan merepotkan Tya, kamu yang mandiri disana. Jaga diri baik-baik, apalagi sekarang Tya sedang mengerjakan skripsi, dia pasti sangat sibuk." Heni pun melanjutkan kata-kata Yanuar yang tadi terputus, karena laki-laki itu sudah memberikan kode untuk memperbolehkan putri bungsunya itu. Spontan, Kiara pun melonjak kegirangan lalu merangkul Yanuar dan Heni.
"Makasih Ayah, Makasih Ibu, kalian terbaik. Muah, muah, muah!"
"Jangan nangis, jangan manja!" gerutu Heni.
"Siap Bu..."
"Ya sudah kamu istirahat, besok pagi ayah antar kamu ke tempat Tya." Kiara mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar. Namun, entah mengapa matanya terasa begitu sulit terpejam, rasanya dia sudah tak sabar menanti hari esok. Tetapi, tidak hanya itu, ada sebuah debaran lain yang entah dia tak tahu apa.
__ADS_1
Keesokan harinya Yanuar, mengantar Kiara pergi ke Jakarta. Mereka memang sengaja berangkat pagi, agar bisa bertemu dengan Tya sebelum gadis itu berangkat ke kampus. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, pukul 08.00 pagi akhirnya mereka pun sampai di tempat kost Tya.
Saat membuka pintu kamar kostnya, Tya pun tampak terkejut dengan kedatangan Ayah dan adiknya, karena mereka tidak memberi kabar terlebih dulu.
"Ayah, Ara, yuk masuk. Kok nggak kasih kabar dulu, Tya lagi sarapan, ayo sarapan bareng!" sapa Tya saat melihat Kiara dan Yanuar.
"Kamu sehat kan Tya?" balas Yanuar.
"Iya, Yah. Tumben ke sini, ada perlu apa?"
"Begini, Ara kan sudah lulus sekolah, dia pingin kuliah di Universitas yang sama sepertimu Tya."
Sejenak Tya terdiam lalu memandang Kiara dan tertawa terbahak-bahak. "Yang bener saja Ara, masuk ke kampus itu susah loh. Setahu kakak, nilai kamu dulu jauh di bawah rata-rata. Maaf Ara, kakak ngga yakin kamu bisa keterima," sahut Tya sambil menahan senyum.
"Iiiih Kak Tya, kok ngomong gitu sih. Nggak baik meragukan adik sendiri tau!" Yanuar hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Tya kamu nggak boleh gitu sama adik kamu, dia udah bukan gadis kecil yang manja dan malas kaya dulu. Lebih baik, kamu bantu dia belajar."
"Ya.., ya.., ya... Ya udah, besok kamu bisa ikut kakak buat ambil formulir pendaftaran, tapi inget masuk ke Universitas ini ga mudah loh Ara, sebelum Ujian Masuk kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh."
"Iya.., iya.. Kak Tya tenang aja deh. Tapi Kak Tya juga bantuin Ara belajar ya."
"Iya Ayah."
"Kiara kamu juga belajar yang benar dan jangan merepotkan Tya."
"Siap yah, Ayah hati-hati di jalan." Yanuar mengangguk, lalu pulang meninggalkan putri mereka.
Keesokan harinya, setelah melakukan pendaftaran online, Tya mengajak Kiara untuk melihat-lihat kampus, agar adiknya semakin bersemangat untuk bisa diterima di Universitas tersebut. "Ara, kamu tunggu di sini sebentar ya. Kakak mau ambil nilai semester dulu di bagian administrasi."
"Iya Kak."
Wanita itu pun menunggu kakaknya di bagian taman. Namun, saat sedang menunggu Tya, tiba-tiba ada seorang lelaki mendekat pada Kiara dan mengulurkan tangan padanya
"Kenalin aku Arron, kamu calon mahasiswi baru ya? Boleh minta nomor HP kamu nggak?" ucap sebuah suara dari laki-laki tampan yang kini berdiri di depannya. Selain tampan, penampilan laki-laki itu pun juga terlihat keren.
"A-apa?"
"Boleh minta nomor HP kamu nggak? Ponselku gatel pengen save no kamu."
__ADS_1
"Idihhh..."
"Kenapa? Kok malah diem? Oh iya, aku baru inget bidadari emang nggak punya HP ya? Pakenya telepati, pantes aja tadi malem radarku bunyi, nging ngung nging ngung ternyata mau ketemu bidadari secantik kamu, cie, cie cie.."
Kiara yang merasa kaget dengan laki-laki yang tiba-tiba berceloteh di sampingnya sontak merasa takut, dan pergi meninggalkannya begitu saja. "Ih dasar cowo gila, sok kenal banget. Dia pikir dia siapa? Sok cakep banget sih, tapi emang cakep sih. Astaga, Kiara kamu ngomong apa sih!" gumam Kiara sambil mendekat pada Tya yang baru saja keluar dari ruang administrasi.
"Kenapa Ara?"
"Oh gapapa Kak, Ara cuma lagi cari Kak Tya. Udah beres belum Kak?"
"Udah, yuk kita pulang," sahut Tya, Kiara pun mengikuti di belakangnya, tentunya disertai dengan degup jantung yang berdetak begitu kencang, merasa parno dengan laki-laki yang baru saja dijumpainya.
"Ara, Kakak mau minta maaf sama kamu."
"Emangnya kenapa, Kak?"
"Kayaknya kakak nggak bisa bantuin kamu belajar deh. Kamu kan tau kakak lagi ngerjain skripsi juga, sulit bagi waktunya, Ara."
"Hah? Terus aku gimana Kak, Kakak kan tau otak aku standar, nggak pinter kayak Kak Tya. Aku nggak mungkin bisa belajar sendiri!" celoteh Kiara manja.
"Oh kalo itu, kamu nggak perlu khawatir. Temen Kak Kevin, ada yang mau ajarin kamu kok."
"Hah beneran? Bisa dipercaya nggak tuh?"
"Tenang aja, Ara. Pokoknya bisa dipercaya deh, kokoh tak tertandingi kaya semen lima roda."
"Kak kok malah ngledek sih."
"Beneran dia pinter, cakep lagi. Nanti sore, dia sama Kevin dateng ke kost-an kakak, kamu kenalan sekalian belajar bareng sama dia ya." Terpaksa, Kiara pun menganggukkan kepalanya.
***
Sorenya...
Kiara baru saja selesai mandi tatkala mendengar suara dari berisik yang berasal dari arah depan kost Tya. "Pasti Kak Kevin dan temannya udah dateng. Aku siap-siap dulu aja deh," gumam Kiara sambil merapikan penampilannya.
"Ara!"
"Iya Kak sebentar," jawab Kiara, lalu berjalan ke arah depan kost tersebut. Namun, saat baru saja Kiara keluar, gadis itu sontak membelalakkan matanya saat melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Kamu? Ngapain kamu di sini? Usir orang gila ini, Kak!"