Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Di Villa


__ADS_3

Siangnya...


Saat orientasi telah selesai, Arron tampak mendekat pada Kiara yang sedang berjalan bersama Lia. Tentu saja, hal tersebut mengundang perhatian beberapa mahasiswa di sekitar mereka. "Ara, pulang bareng yuk!" ajak Arron.


Lia pun mencubit tangan Kiara, karena wanita itu tampak begitu cuek dengan sikap Arron. "Maaf, aku ada janji mau nemenin Lia ke toko buku," jawab Kiara.


"Eh ngg..." protes Lia, tetapi Kiara buru-buru mencubit Lia agar wanita itu mengiyakan perkataannya. "Iya kan Lia?"


"I-iya," jawab Lia pada akhirnya. Meskipun Arron kecewa, laki-laki itu tetap menyunggingkan senyum manisnya. Tepat di saat itulah Queen mendekat ke arah mereka.


"Arron, kita pulang bareng yuk."


"Maaf Queen, kamu tahu sendiri kan aku nggak tinggal di rumah," sahut Arron, sayup-sayup terdengar di telinga Kiara yang berjalan menjauhi laki-laki tersebut, keluar dari komplek kampus.


Merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Kiara pun menoleh, dan melihat Arron yang berjalan menuju parkiran mobil, disusul Queen yang berjalan di belakangnya. Tampak wanita itu terus mengoceh, sedangkan Arron hanya diam dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


"Ara, kalo jalan liat ke depan jangan ke belakang!" tegur Lia. Kiara pun meringis. "Sok jual mahal banget sih kamu, Ara. Kamu lagi liatin Kak Arron yang pergi sama cewek itu kan? Makanya jangan sia-siain cowok seperfect itu, jadi milik orang baru nyesel loh!"


"Apaan sih, Li," gerutu Kiara, seraya merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya, tapi entah apa dia pun tak tahu. Setelah melihat kebersamaan Arron dan Queen, rasanya seperti ada yang mengganjal. Tapi Kiara buru-buru menepis perasaan itu.


Sesampainya di kost, setelah membersihkan tubuh, Kiara tampak termenung. Entah mengapa pikirannya kembali tertuju pada Arron, dan juga percakapannya dengan Lia, kata-kata gadis itu seakan terus mengudara di telinganya.


"Karena hal itu sudah tertanam dalam mindset kamu, coba kamu buka hati kamu. Lihat kebaikan Arron yang pernah dia lakuin biat kamu. Bukannya kamu tadi bilang kalo dia yang udah bantu kamu biar bisa masuk ke Universitas ini, kan? Itu tandanya dia tulus, jangan sia-siakan dia Ara, nanti saat dia sudah menjauh, takutnya kamu nyesel. Apalagi, kalau dia jadi milik cewek lain, jangan sampai rasa itu datang terlambat setelah dia pergi, Ara. Pasti rasanya sakit." Perkataan Lia kembali terngiang, disertai sikap Queen dan mahasiswi di kampusnya yang seolah mengidolakan sosok Arron, kini menari dalam benak Kiara.


"Kehilangan Arron? Bagaimana rasanya? Apa itu benar-benar menyakitkan?" lirih Kiara. Dia kemudian mentap ponselnya. Entah mengapa tiba-tiba dia berharap Arron menghubunginya. Dan, entah itu suatu kebetulan atau sebuah keterikatan batin, tiba-tiba layar ponsel itu tertera nama Arron.


Kedua sudut bibir Kiara pun tertarik spontan, tiba-tiba ada sebuah rasa bahagia yang merasuk ke dalam hatinya saat melihat nama Arron. Kiara pun bergegas mengangkat panggilan telepon itu.

__ADS_1


[Halo...]


[Halo Ara, garcep banget, kangen ya?]


[Dih GR, siapa juga yang kangen.]


[Tapi Abang kangen, Neng. Kamu tadi beli lem apaan sih?]


[Nggak ada yang beli lem, Kak Arron!]


[Tapi kok hati abang nempel terus...]


[Kak Arron.....]


***


"Memang dia cantik, tapi apa bagusnya wanita kerempeng itu? Selera Arron benar-benar rendah," gumam Queen saat melihat Kiara yang saat ini sedang didekati Arron ketika mereka sedang ada kegiatan api unggun.


"Ini nggak bisa dibiarkan," sambungnya kembali. Dia pun mendekat ke arah Arron sambil memegang perutnya. "Arron, tolong aku," rintih Queen. "Kamu kenapa Queen?"


"Perutku sakit, maukah kau membelikan aku obat di apotek?"


Mendengar permintaan Queen, Arron pun terdiam. "Tolong aku Arron, di sini aku cuma deket sama kamu. Aku nggak mungkin minta tolong ke panitia atau peserta yang lain, please.. "


"Kak Arron, tolong bantu Kak Queen," sambung Kiara yang kini juga terlihat cemas saat melihat wajah Queen yang memucat. "Ya udah aku pergi ke apotek sebentar. Teman-teman, Queen sedang sakit, sebaiknya suruh dia istirahat saja," ujar Arron pada beberapa orang panitia lainnya. Mereka pun menganggukkan kepalanya, lalu mendekat pada Queen.


"Aku mau istirahat sebentar, bolehkah aku ditemani Kiara saja?" pinta Queen pada salah seorang panitia. "Tentu saja, Kiara tolong kau temani Kak Queen ya!" ujar Sally, salah satu panitia malam keakraban.

__ADS_1


"Iya Kak," balas Kiara tanpa menaruh perasaan curiga. Dia kemudian mendekat pada Queen yang saat ini masih memegang perutnya. "Ayo Kak, aku antar ke kamar." Kiara lalu memapah tubuh Queen, tapi saat akan masuk ke kamar panitia, Queen menolak masuk ke kamar tersebut.


"Maaf Kiara, aku nggak mau di sini. Suasananya terlalu bisik dengan kegiatan kalian, bagaimana kalau kita istirahat di belakang saja. Di belakang, ada bungalow kecil, aku mau istirahat di sana saja, suasananya jauh lebih tenang dibandingkan ada di sini."


"Iya Kak," jawab Kiara, lalu memapah tubuh Queen ke bungalow di bagian belakang vila. "Istirahat ya, Kak. Kita tunggu Kak Arron membelikan obat buat Kakak." Kiara membantu Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang saat mereka sudah sampai di dalam bungalow tersebut.


"Kamu baik sekali, Kiara. Udara di sini dingin sekali, ini aku ada permen jahe buat kamu, lumayan buat penghangat pengganti api unggun," ucap Queen sambil memberikan sebuah permen jahe pada Kiara.


"Makasih Kak." Dia kemudian mengambil permen yang diberikan Queen, lalu memakannya. Setelah memastikan Kiara memakan permen jahe tersebut, Queen lalu bangkit dari atas ranjang dan duduk di hadapan Kiara, seraya menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Kiara yang melihat perubahan sikap Queen pun merasa aneh.


"Kak Queen, apa perut kakak sudah membaik?" tanya Kiara. Queen pun tersenyum sinis, lalu dengan gerakan cepat, wanita itu mencengkram lengan Kiara, dan menghempaskan tubuh mungilnya ke atas ranjang. Sedangkan Kiara, yang kaget saat tiba-tiba Queen menyerangnya, dan tak memiliki kesempatan untuk melawan, akhirnya hanya bisa pasrah, dan berusaha bangkit dari atas ranjang. Namun, tepat di saat itu juga ada seorang laki-laki yang ternyata sudah ada di kamar tersebut, dan langsung mencengkram tangan Kiara.


"Kak Queen, siapa dia?" lirih Kiara seraya menatap Queen dengan tatapan tanda tanya. Gadis polos itu, seolah tak mengerti, mengapa tiba-tiba Queen bertindak kasar padanya, dan juga dengan kehadiran sosok laki-laki yang juga ada di ruangan tersebut.


"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak terima aku bersikap seperti itu padamu, hah?"


Kiara menggeleng perlahan, disertai tatapan kosong. "Aku peringatkan padamu Kiara, jangan sekali-kali kau mengatakan ini pada Arron, kalau tidak aku bisa saja membunuhmu!" gertak Queen.


Jantung Kiara berdetak begitu cepat, dia tak menyangka jika Queen akan bersikap seperti itu padanya. Tubuhnya bergetar, disertai perasaan yang begitu berkecamuk di dada. Tentunya, dia merasa takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Queen, dan juga laki-laki yang saat ini mencekal tubuhnya. Ketakutan itu, semakin menyelimuti hatinya tatkala Quuen mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu sambil tersenyum menyeringai.


"Kau urus wanita bodoh ini!"


"Kau tenang saja, Queen. Semuanya pasti beres, lagipula wanita ini juga tipeku," balas lelaki muda itu disertai seringai tipis di wajahnya. Setalah itu, Queen keluar dari bungalow tersebut, meninggalkan Kiara yang saat ini tampak ketakutan bersama laki-laki yang tak dikenalnya. Apalagi, lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya ke tengkuknya.


Namun, tak hanya sebatas itu yang dirasakan Kiara, tetapi wanita itu pun merasakan sesuatu yang aneh di sakujur tubuhnya. Dia merasakan hawa panas, dan juga sebuah rasa aneh, seakan tubuhnya ingin disentuh oleh laki-laki yang saat ini ada di belakangnya itu. Selain itu, bagian inti tubuhnya pun terasa berkedut, seakan juga menginginkan sentuhan lebih.


"Kau cantik sekali, Sayang!" ujar laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Tolong, sentuh aku. Puaskan aku!" rintih Kiara.


__ADS_2