
Hari sudah malam, akan tetapi Arron belum juga beranjak pergi, dia masih berdiri di halaman rumah Kiara. Sesekali Kiara melihatnya dari balik jendela, raut wajahnya memang terlihat frustasi dan begitu penuh penyesalan. Tapi Kiara tak peduli, dan hanya menyunggingkan senyum sinisnya.
"Ini belum ada apa-apa dibandingkan penderitaanku dulu, Mas."
Dan hal itu, tidak hanya berlangsung selama satu, dua, atau tiga hari. Akan tetapi sudah hampir dua minggu lamanya Arron selalu berdiri di depan rumah Kiara. Setiap hari, dia juga selalu membawa buket bunga sebagai permintaan maaf untuk Kiara.
Akan tetapi, Kiara mulai merasa terganggu, sedangkan orang tua Kiara merasa kasihan pada mantan menantunya itu. Mereka akhirnya meminta Kiara untuk menemui Arron. Akan tetapi, Kiara tetap saja tidak mau bertemu dengan Arron.
"Lebih baik kau temui Arron, Nak."
"Tidak Pa, semua sudah selesai. Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Kiara kamu tidak boleh seperti itu, tolong pikirkan kembali dengan baik masa depan Eveline, dia juga memerlukan sosok ayah."
"Maaf, apapun yang kalian katakan, untuk saat ini aku tidak mau bertemu dengan Mas Arron. Rasanya masih terlalu sakit, Pa, Ma."
Mendengar perkataan Kiara, kedua orang tuanya pun saling berpandangan. Setelah itu mereka menemui Arron. Kiara tak tahu apa yang mereka katakan, karena setelah itu, Arron dengan langkah gontai akhirnya pergi dari rumah itu.
Kiara pun tersenyum penuh kemenangan, berharap perkataan Papanya membawa angin segar baginya. Akan tetapi, kepergian Arron hanyalah sebatas kamuflase.
Laki-laki itu pulang ke Jakarta hanya untuk membangun kantor cabang di Bandung, agar bisa memudahkannya bertemu dengan Kiara. Tentunya hal tersebut membuat Kiara begitu kesal. Arron memang tidak akan semudah itu menyerah. Bahkan setiap hari, setelah pulang dari kantor, laki-laki itu memilih tidur di depan rumah Kiara.
Kiara pun mulai risih akan kedatangannya. Luka dan trauma menjalani rumah tangga dengan Arron, tentu saja belum hilang. Sikap Inez yang sudah memfitnahnya serta pelecehan yang dialami Kiara oleh laki-laki yang tidak dia kenal, masih saja belum bisa belum dapat Kiara terima.
Saat begitu terpuruk, Arron dengan mudahnya mengusir dan tak mau mendengar penjelasan darinya. Rasanya sungguh sangat sulit membangun kepercayaan diri setelah semua yang Kiara alami. Lalu dia dengan mudahnya dia meminta maaf. Kiara tidak mau mengambil resiko jika dia kembali padanya, hal buruk mungkin bisa saja terjadi pada dirinya bahkan mungkin saja bisa menimpa Eveline. Akhirnya, Kiara pun menelepon Tya.
[Ada apa, Ara?]
[Aku lagi pengen punya kerjaan Kak, aku tidak mungkin bergantung terus sama Papa. Aku juga pingin punya penghasilan sendiri, Kak.]
[Pengin kerja atau mau ngindarin Arron.] sahut Tya.
__ADS_1
[Dua-duanya, Kak. Hahahah.]
[Ya udah, nanti aku tanyain sama Kak Kevin ya.]
[Okay, makasih Kak.]
Beberapa hari kemudian, Kiara mendapat kabar dari Tya jika kantor tempat Kevin bekerja sedang membutuhkan karyawan. Kiara pun mengirimkan lamaran kerja pada perusahaan tersebut.
Dan setelah melakukan proses tes tertulis serta wawancara kerja, akhirnya Kiara pun diterima di perusahaan tersebut. Namun, sayangnya penempatan kerja ada di Surabaya, mau tak mau Kiara memutuskan untuk pindah ke Surabaya.
Tak tega melihat putrinya tinggal sendirian bersama Eveline di Surabaya, sekaligus untuk mensupport putrinya agar bangkit dari keterpurukan, akhirnya kedua orang tua Kiara pun memutuskan untuk ikut pindah dengannya. Sekaligus menemani Evelyn, sedangkan rumah mereka di Bandung hanya dihuni oleh pembantu rumah tangga mereka saja.
Seperti biasa setelah pulang kerja Arron pergi ke rumah Kiara. Akan tetapi, setelah satu minggu terakhir rumah itu tampak begitu sepi. Arron yang merasa penasaran, akhirnya mengetuk pintu rumah itu, dan dibuka oleh pembantu rumah tangga keluarga Kiara.
"Selamat malam, Tuan Arron."
"Selamat malam, kenapa selama satu minggu ini rumah ini tampak sepi sekali?Ke mana Kiara dan keluarganya, Bi?" tanya Arron to the point.
"Maaf Tuan, saat ini mereka sudah pindah."
"Pindah? Pindah ke mana?"
"Tidak tahu, Tuan. Sepertinya mereka pindah ke luar negeri, untuk jangka waktu yang lama, dan saya pun tidak tahu kapan mereka akan kembali," dusta pembantu rumah itu seperti yang diajarkan oleh Kiara.
Arron pun sebenarnya begitu terkejut melihat kenyataan yang ada, rasanya sungguh sulit menerima kenyataan jika Kiara benar-benar telah pergi darinya. Namun dia bisa apa, nyatanya Kiara memang telah benar-benar pergi. Laki-laki itu hanya bisa meninggalkan rumah tersebut dengan langkah lunglai.
"Ara, kamu mau pergi kemana? Bagaimana caranya agar kita bisa berdamai dan menjalin hubungan yang baik? Apakah sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?"
Satu bulan
Dua bulan
__ADS_1
Satu tahun
Arron masih tetap saja setia mengunjungi rumah Kiara, meskipun dia tidak pernah bertemu mantan istrinya itu, dan usahanya tentu saja sia-sia karena dia sudah tidak pernah pulang ke rumah tersebut. Akan tetapi, Arron belum menyerah dia tetap saja menanti Kiara meskipun hal itu terasa sangat mustahil baginya.
Menjelang tengah malam, biasanya Arron pergi dari rumah tersebut, akan tetapi malam ini saat melangkahkan kaki menuju ke mobilnya tiba-tiba tubuh laki-laki itu ambruk.
***
Inez terus terisak melihat tubuh kurus dan tidak berdaya Arron yang saat ini ada di brankar ruangan ICU. Setelah pingsan tadi malam, seorang satpam komplek di perumahan tempat tinggal Kiara membawa Arron ke rumah sakit.
Ya, laki-laki itu pingsan karena mengalami gangguan pada pencernaannya, asam lambungnya juga naik drastis, selain itu juga ada infeksi pada sistem pencernaan Arron hingga membuatnya tak sadarkan diri, bahkan bisa dibilang saat itu keadaan Arron kritis.
Inez tentunya merasa sangat sedih melihat keadaan putranya itu. Dia tak menyangka jika Arron akan begitu terpuruk sampai melupakan kesehatannya sendiri. Arron memang jarang sekali mengkonsumsi makanan, dia hanya mengisi perutnya dengan makanan sekedarnya, padahal gaya hidup Arron sangat tidak sehat.
Laki-laki itu, memang seringkali meminum minuman keras dan juga merokok untuk membuang rasa stressnya, sedangkan dia sangat jarang mengkonsumsi makanan. Setelah 3 hari tak sadarkan diri, Arron pun siuman.
"Kiara, maafkan aku."
Mendengar nama Kiara yang disebut, tentunya Inez merasa begitu kesal. Beberapa saat kemudian, setelah Arron seutuhnya sadar, dan bisa berkomunikasi, tiba-tiba Inez berlutut di depan Arron seraya terisak.
"Mama mohon, sekali ini saja dengarkan mama, menikahlah dengan Queen, Arron. Mama mohon."
***
Kiara yang mendengar Arron pingsan dan keadaannya kritis, tentunya merasa begitu cemas. Tak dapat dipungkiri, jika masih ada rasa yang begitu dalam di hatinya pada mantan suaminya itu. Selama beberapa hari ini, bayang-bayang Arron tak bisa lepas dari benaknya. Bahkan, Kiara beberapa kali melakukan kesalahan saat bekerja karena tidak fokus dan pikirannya terus tertuju pada Arron.
Akhirnya Kiara pun menyerah, dia melepaskan ego di dalam hatinya dan memilih untuk menemui Arron. Wanita itu, memutuskan pergi ke rumah sakit tempat Arron di rawat. Akan tetapi, saat Kiara baru saja membuka pintu perawatan Arron, teriakan "SAH" menggema dari beberapa orang di ruangan tersebut.
Seketika, air mata Kiara pun luruh manakala netranya menangkap Arron baru saja melangsungkan ijab qabul bersama Queen. Gegas, Kiara pergi dari ruangan itu disertai air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya.
Kiara keluar dari rumah sakit, berlari kencang menembus pekatnya hujan, air matanya luruh jatuh berderai bersama dengan derasnya air yang turun dari langit, suara isakannya seolah menyatu dengan gemuruh yang berselimut hujan siang ini.
__ADS_1
"Aku memang munafik, dalam kebencianku, aku selalu berusaha melupakanmu, dan memintamu pergi dariku. Dan sekarang, saat kau benar-benar pergi dan sudah menjadi milik yang lain, kenapa aku masih merasakan sakit? Takdir memang tidak pernah berpihak pada kita, dan seharusnya aku menyadari itu. Selamat berbahagia, Mas. Tapi tak dapat dipungkiri, aku masih mencintaimu. Aku cinta kamu, Arron."
"Selamat tinggal Kiara, percayalah hatiku jauh lebih buruk daripada cuaca hari ini. Tapi aku sadar, aku cuma jadi parasit dalam hidupmu, semoga keputusanku untuk meninggalkanmu bisa membuatmu hidup nyaman dan bahagia. Namun, sampai kapan pun cuma kamu wanita yang aku cintai, aku cinta kamu, Kiara," batin Arron saat melihat hujan disertai kilat dan gemuruh yang begitu menggelegar melalui jendela kamar perawatannya.