
Aroma Espresso tercium bersamaan dengan butter yang meleleh di atas croissan hangat, perpaduan yang sempurna namun sangat kontras dengan hati Arron yang memanas.
Hari ini, dia begitu marah pada Inez dan Queen, dari dulu Arron sudah mengikuti permintaan mamanya meskipun dia tidak mencintai Queen. Namun, sebisa mungkin dia tidak pernah beradu mulut dengan istrinya itu saat menjalani biduk pernikahan.
Biasanya, Arron selalu mengalah pada Queen, membiarkan wanita itu melakukan apapun yang dia ingin lakukan meskipun semua sikap Arron begitu dingin dan seolah membiarkan Queen layaknya seorang wanita yang tidak memiliki suami, akan tetapi sejak kedatangan Kiara kembali dalam hidup Arron, sejak itu pula laki-laki itu sering bertengkar dengan Queen.
Entah mengapa bayangan masa lalu kekejaman Inez dan Queen selalu saja terngiang dalam benaknya. Arron kemudian melirik ke arah Darel yang duduk di sugar baby chair di sampingnya. Sebenarnya, Arrron merasa kasihan dengan anak laki-lakinya itu yang kerap dipakai Queen sebagai perisai jika mereka bertengkar. Arron menatap teduh pada bayi 1 tahun itu.
"Papa bertahan dengan mamamu, hanya karena kau Darel sayang," ujar Arron sambil menatap bayi itu dengan tatapan sendu. Tak lama, sosok wanita cantik datang menghampiri mereka.
"Kamu kenapa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba memanggilku ke sini?"
"Duduklah," jawab Arron singkat. Kiara duduk di sampingnya, lalu mengelus pipi Darel yang saat ini tengah asik memakan puding.
"Dia lucu sekali, sangat sangat mirip denganmu."
"Sama seperti Evelyne, dia juga mirip denganku," balas Arron ketus.
"Kau sebenarnya kenapa, Mas. Tolong jangan bersikap seperti itu padaku. Bukankah sudah ada aku di sini? Susah payah aku beralasan pada Mas Alvian agar dia tidak curiga aku pergi meninggalkan makan malam dengannya begitu saja. Untungnya dia laki-laki yang sangat baik dan pengertian padaku, jadi dia tidak mempermasalahkan aku pergi dengan alasan ada urusan pekerjaan mendadak."
"Kenapa kau selalu menyanjung laki-laki itu, Kiara? Apa dia begitu baik di matamu?"
__ADS_1
"Bukannya seperti itu, aku hanya tidak ingin melihat wajahmu cemberut seperti ini. Memangnya apa yang sedang terjadi, Mas?"
"Aku sedang kesal pada Queen dan Mama," jawab Arron pada akhirnya.
"Apa kalian sering bertengkar?"
"Selama menikah dengan Queen, sebenarnya kami sangat jarang bertengkar, tapi akhir-akhir ini tingkah Queen yang semakin sering memainkan drama juga sangat menyebalkan. Aku sudah sangat ingin menceraikan wanita itu." Arron mendengus kesal.
"Mas, kamu ngomong apa sih? Kalau kalian bercerai, bagaimana nasib Derel? Kasihan dia, coba pikirkan bagaimana psikologis Darel saat dewasa nanti saat dia tahu alasan kalian bercerai karena kehadiran orang ketiga sepertiku, bisa-bisa dia membencimu seumur hidup..." Kiara melirihkan kalimat terakhir.
"Tapi kita juga punya anak, kau tidak perlu takut Derel membenciku, karena kau tidak pernah merebut apapun dari Queen. Bagaimanapun juga kau adalah istri pertamaku dan yang membuat kita seperti ini adalah orang tuaku dan Queen. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan."
Arron menoleh menatap wajah Kiara yang saat ini terlihat sendu, anak rambut Kiara yang panjang melewati celah bibirnya terlihat sangat cantik dan seksi di mata Arron. Apalagi, binar matanya yang bulat cemerlang, rasanya membuat Kiara semakin cantik. Dan Arron, semakin tergila-gila pada wanita itu.
"Selain Darel, kau juga harus memikirkan Eveline. Bagaimana jika dia tahu kalau orang tuanya berpisah karena fitnah? Lalu, apa Darel tidak kecewa jika tahu ibu kandungnya telah berbuat jahat dan menyakiti orang lain. Kalau mereka mengatakan kau merebutku, lalu bagaimana dengan Queen? Dia pun melakukan itu dengan cara licik, merekalah yang terlebih dulu berbuat salah, bukan kita. Begitu kan?"
Mendengar perkataan Arron, senyum Kiara pun terbit, ia menyisir anak rambutnya ke belakang telinga.
"Lantas apa kau mau hubungan kita akan seperti ini? Kalau aku tidak Kiara, aku akan memperjuangkanmu agar kita bisa kembali seperti dulu."
"Sabar Mas, akan ada waktunya kita bahagia, masih banyak waktu bagi kita untuk bersama. Posisi kita masih sangat sulit, aku pun tidak ingin membuat psikologis Evelyne nantinya akan terganggu jika kita terlalu mengutamakan ego. Karena, ada begitu banyak hati yang harus kita jaga, Mas."
__ADS_1
"Ya aku tahu, aku percaya sama kamu, Kiara. Tujuh tahun, selama itu pasti banyak yang mendekatimu, kau bisa saja menikah jika kau mau membuka hatimu, tapi kau tidak melakukan itu."
"Karena jatuh cinta tidak semudah itu, jatuh cinta dan menjalin hubungan kembali bagi seorang wanita yang pernah yang pernah mengalami luka sepertiku itu tidak mudah. Entah mengapa, saat aku akan membuka hatiku, aku selalu merasa jika kisah cinta kita belum usai."
"Terima kasih sayang, kita pulang sekarang ya, mulai besok tolong berhentilah bekerja dari kantormu, aku akan mengurus semuanya, aku akan menikahimu kembali secepatnya. Tolong putuskan hubunganmu dengan Alvian."
"Tidak bisa semudah itu, Mas."
"Mudah jika kau mau melakukannya dan menikah denganku. Malam ini, kita tidur bersama Darel," ujar Arron, lalu dijawab anggukkan kepala oleh wanita itu. Akan tetapi, saat baru saja bangkit dari tempat duduknya. Kiara tiba-tiba terjatuh, tak sadarkan diri.
"Ara!"
Sementara itu, di sepasang mata tampak mengamati satu per satu pengunjung cafe. "Bukankah Kiara mengatakan akan bertemu rekan bisnisnya? Sebaiknya, aku tunggu saja di sini."
***
Di Sisi Lain..
Seorang wanita tampak masuk ke sebuah mansion dengan begitu tergesa-gesa. Langkahnya terhenti tepat di depan sosok laki-laki tua yang sedang memainkan ipad di ruang tengah.
"Selamat malam, Pa."
__ADS_1
"Ada apa?" jawabnya tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan pekerjaannya. "Aku sudah menemukan putri Papa yang hilang itu..."