Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Buktikan Padaku


__ADS_3

Arron membuka matanya saat merasakan sesuatu yang berat menindih bagian atas dadanya dan membuatnya merasa sulit bergerak. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat Queen sudah tidur di sampingnya, bahkan kepala wanita itu ada di atas dadanya. Sontak, Arron pun menarik tubuhnya hingga kepala gadis itu jatuh ke atas kasur.


"Apa yang kau lakukan di sini, Queen?" pekik Arron. Queen yang kaget dengan sikap Arron, seketika membuka matanya. "Kamu udah bangun, Ar?"


"Queen, apa yang kamu lakukan di sini? Lancang sekali kau tiba-tiba masuk kamarku dan tidur di sampingku begitu saja, ingat Queen, kita sudah dewasa. Dulu saat kita masih kecil, kau bebas keluar masuk kamarku tapi tidak dengan sekarang! Kita sudah dewasa dan punya privasi, kamu nggak bisa bersikap kaya gini ke aku!"


Queen mengucek matanya, sambil tersenyum kecut. "Kenapa kamu diem, Queen? Lebih baik kamu pergi sekarang juga dari kamar ini! Masih banyak kamar kosong kalau kamu masih mau nginep di rumahku tapi nggak di kamar ini, Queen!"


Melihat Arron yang sudah berapi-api, Queen hanya menghela napas pelan seraya tersenyum simpul. Tentu saja sikap Queen yang terlihat tidak memedulikan perkataannya, membuat Arron merasa begitu geram.


"Queen! Apa kau tuli hah?"


"Arron ini masih malam, lebih baik kita tidur saja," balas Queen dengan entengnya, seraya menarik tubuh Arron agar kembali tertidur di atas ranjang. "QUEEN! ENAK SEKALI KAU BERKATA SEPERTI ITU! LEBIH BAIK KAU KELUAR DARI KAMAR INI SEKARANG JUGA!"


Tak menyangka Arron akan bersikap seperti itu padanya, Queen pun spontan membelalakkan matanya. "Arron kenapa kau membentakku seperti ini? Apa kau sudah lupa apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau tiba-tiba membentakku?"


"Yang kulakukan padamu? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku bahkan tidak tahu kau ada di sini, Queen!"


"Ja-jadi kau lupa saat kau baru pulang kau dan berbicara sebentar dengan Tante Inez?Coba ingat kembali Arron, kau langsung menarik tubuhku begitu saja dan kita menghabiskan malam yang indah!"


Mendengar perkataan Queen, mata Arron pun memincing disertai amarah yang bergemuruh di dalam dada. "Jangan mengada-ada Queen! Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku tidak melihatmu di rumah ini? Lalu, bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu padamu?"


"Jadi, kau sudah lupa dengan apa yang kita lakukan? Astaga, apa yang terjadi padamu, Arron? Apa tadi malam kau sedang mabuk sampai lupa kalau kau telah merenggut kesucianku dan melupakan malam yang sangat indah bagi kita berdua?" sahut Queen, disertai raut wajah sendu.

__ADS_1


"Kau jangan mengada-ada Queen! Tadi malam aku tidak sedang mabuk, dan juga tidak pernah merenggut kesucianmu itu! Aku masih berada dalam kewarasanku, Queen. Jadi, jangan pernah coba-coba untuk membohongiku!"


Queen mengernyitkan keningnya lalu menutup mulutnya dan menatap Arron disertai mata yang mulai berembun. "Arron kenapa kau berkata seperti itu? Kenapa kau menuduhku berbohong padamu?"


"Karena nyatanya kau memang berbohong padaku, kan? Kalau aku sudah merebut kesucianmu, coba tolong kau buktikan padaku!"


"Kau tanya bukti? Apa yang terjadi pada kita adalah naluri dalam diri kita masing-masing. Jadi, tidak usah kau tanyakan bukti untuk lari dari tanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan padaku!"


Dada Arron pun terlihat naik turun menahan emosi yang begitu berkecamuk setelah mendengar penuturan Queen. "Apa katamu Queen? Kau pikir ini sebuah permainan hah? Gampang sekali kau berkata seperti itu? Setiap tuduhan itu harus ada bukti, dan kau tidak bisa menuduh dengan sembarangan seperti ini padaku!"


"Jadi kamu nggak percaya sama aku?"


"Ya, sebelum kamu kasih bukti ke aku! Kalau kau tidak bisa membuktikan perkataanmu maka aku yang akan cari bukti sendiri, Queen!"


"Dasar ratu drama," batin Arron. "Queen, apa yang terjadi? Apa Arron sudah menyakitimu?"


"Mama, sekarang aku tanya pada Mama, apa tadi malam Mama melihat Queen masuk ke dalam kamar ini?"


"Ya, tentu saja. Bukankah tadi malam setelah bicara dengan Mama, kau menarik Queen masuk ke dalam kamar ini," dusta Inez yang sudah berkomplot dengan Queen. Sontak, penuturan yang terlontar dadi mulut Inez pun membuat Arron semakin geram. Laki-laki itu, seketika menyadari jika Queen dan Mamanya sedang bekerja sama untuk menjebak dirinya.


"Cih ternyata Mama sama saja! Aku yakin kalian pasti sudah bekerja sama untuk menjebakku. Iya kan?"


"Menjebakmu? Apa maksudmu, Arron? Lancang sekali kau menuduh mama seperti itu? Jelas-jelas tadi malam kau membawa Queen masuk ke dalam kamar ini dan kau mengelak begitu saja? Dimana akal sehatnu? Apa kau sudah terpengaruh oleh wanita sialan itu?"

__ADS_1


"Wanita sialan siapa maksud Mama?"


"Kamu pikir mama nggak tahu? Kamu sedang dekat dengan seorang wanita kan sampai kau menjauh dari Queen?"


Arron pun tersenyum kecut, sekarang dia mengerti mengapa Mamanya dan Queen melakukan hal tersebut. "Cih, jadi ini alasan Mama dan Queen menjebakku? Licik sekali. Perlu kalian tahu kalau aku tidak akan pernah bertanggung jawab atas hal yang tidak pernah kulakukan. Apalagi kalian berdua tidak bisa memberikan bukti. Dan maaf, aku tidak pernah percaya dengan kesaksian Mama karena bagiku sangat meragukan!"


"Jadi kamu mau lari dari tanggung jawab gitu aja? Kamu udah sentuh aku, Arron! Kamu harus tanggung jawab sama masa depanku!" sahut Queen. "Bukankah sudah kukatakan aku nggak bakalan tanggung jawab atas hal yang tidak pernah kulakukan? Kalau kau mau aku bertanggung jawab padamu, ayo kita ke rumah sakit sekarang! Kita lakukan tes apa malam ini kau mengalami robekan pada bagian intimmu dan juga sekaligus tuduhan konsumsi minuman keras yang kau tuduhkan padaku?"


Mendengar perkataan Arron, seketika wajah Queen pun memucat. "Bagaimana tante?" bisik Queen pada Inez yang juga hanya bisa terdiam.


"Kenapa kalian diam, hah? Malam ini juga aku mau bertanggung jawab jika apa yang kalian tuduhkan itu benar. Lantas, kenapa kalian malah diam? Bukankah tadi kalian meminta pertanggung jawaban dariku?" tegas Arron seraya menatap Inez dan Queen.


Inez tampak terlihat begitu salah tingkah, seraya mencoba menghindar dari tatapan Arron yang kini tampak begitu mengintimidasi. Sedangkan Queen, hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian diam?" gertak Arron kembali. "Bagus, aku sudah jawaban dari diamnya kalian itu! Sikap kalian sudah menunjukkan kalau kalian memang telah bersekongkol untuk menjebakku! Dan mulai sekarang, aku nggak mau lagi tinggal di rumah ini! Aku nggak mau hidup dalam lingkungan toksik bersama kalian! Sekarang juga aku pergi dari sini!" ujar Arron. Dia bergegas mengambil kunci mobil, lalu keluar dari kamar tersebut.


"Arron, kamu mau kemana? Kamu nggak bisa ninggalin mama begitu saja! Arron!"


"Arron!" Berulang kali, Inez memanggil Arron, tetapi laki-laki itu mengabaikan panggilan Inez, dan pergi dari rumah tersebut disertai dengan amarah yang begitu menggelora.


"Tante bagaimana ini?"


"Kita pikirkan cara yang lain. Apapun yang terjadi, kamu harus nikah sama Arron. Tante janji!"

__ADS_1


"Iya, makasih banyak, Tante."


__ADS_2