
Keesokan Harinya
Meskipun keadaan Kiara belum sepenuhnya membaik pasca kuretase, dia terus mendesak Arron agar mempertemukannya dengan Inez. Sejak kemarin, laki-laki itu tidak pernah memberi tahu tentang keadaan Inez yang sebenarnya, Arron hanya mengatakan Inez dirawat di rumah sakit, akan tetapi Kiara tidak tahu alasan mengapa mantan mertuanya itu dirawat di rumah sakit.
Karena terus didesak Kiara, akhirnya Arron pun mengabulkan permintaan wanita itu dan membawanya ke rumah sakit, tempat Inez dirawat. Kini, mereka tampak melangkah masuk ke dalam rumah sakit, hingga akhirnya langkah mereka terhenti di depan sebuah ruang ICU.
Tentunya Kiara merasa terkejut, karena saat ini ternyata Inez dirawat di ruang ICU. Dari balik kaca, tampak seorang wanita paruh baya sedang memejamkan matanya, selang-selang kecil tampak menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"Mas, sebenarnya Mama sakit apa?"
"Queen, Kiara. Beberapa hari yang lalu, Queen dan Alvian datang ke rumah Mama, mereka terlibat adu mulut hingga entah bagaimana ceritanya, Mama dan Alvian saling berebut pisau yang pada akhirnya melukai keduanya. Awalnya, Alvian yang terlebih dulu terluka, pisau itu menancap di perutnya. Akan tetapi, Alvian yang tidak terima, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, mengambil pisau yang sudah menancap di perutnya, lalu balik menancapkannya tepat di ulu hati Mama, setelah itu keduanya pun ambruk. Alvian sudah meninggal karena terlambat mendapatkan pertolongan dan kekurangan darah. Saat itu, salah seorang penjaga rumah datang ketika pergantian shif jaga, dia langsung menolong Mama, dan membiarkan Alvian begitu saja. Sedangkan Queen berhasil kabur."
"Astaga ... " lirih Kiara seraya memejamkan matanya. Ada rasa sakit di dalam hatinya melihat kondisi Inez sekarang. Bagaimana pun juga, wanita paruh baya itu adalah ibu kandung dari Arron, laki-laki yang sangat dia cintai, tentunya dia tidak tega melihat keadaan wanita itu yang terlihat begitu tidak berdaya. Apa lagi jika mengingat hal buruk beberapa hari yang lalu terjadi padanya.
Air mata Arron menetes meratapi kondisi Inez, melihat orang yang dia cintai begitu sedih, Kiara kemudian memeluknya. "Maafkan Mama, Ara."
"Jangan meminta maaf lagi Mas, aku sama sekali tidak marah ataupun menaruh dendam pada Mama Inez."
"Makasih sayang."
Kiara pun mengangguk, lalu keduanya kembali menatap Inez. Di balik kaca itu, tampak Inez perlahan membuka matanya, lalu menoleh ke arah jendela kaca. Tangannya terlihat bergerak, seperti menunjuk sesuatu. Seorang dokter lalu mendekat ke arah Inez, dan tak berapa lama, dia keluar dari ruang ICU tersebut.
"Ada yang bernama Nyonya Kiara?"
"Saya dok."
__ADS_1
"Silahkan temui Nyonya Inez, dia ingin berbicara dengan anda sebentar."
Kiara lalu masuk ke dalam ruangan ICU, mendekat pada Inez yang terbaring tidak berdaya. Raut wajah jumawa dan tubuhnya yang begitu anggun telah hilang, berganti menjadi wajah teduh dan tubuh yang rapuh.
Inez tersenyum melihat kedatangan Kiara, beberapa selang yang menempel di tangannya tak menyurutkan keinginannya untuk menggenggam tangan mantan menantunya itu. "Ara, ma-maa maaf.." katanya begitu lirih dan terbata, Kiara pun mengangguk lalu mendekatkan wajahnya, lalu berbisik di telinga Inez.
"Jangan banyak bergerak dan berbicara, Ma. Lupakan semua hal buruk diantara kita, mari saling memaafkan dengan penuh keikhlasan. Ara juga punya banyak salah sama Mama, kita lupakan masa lalu Ma, dan buka lembaran baru, Mama harus sembuh, Mama harus bisa menemani Evelyn dan Darel sampai dewasa, mereka lagi nunguin mama sembuh. Jangan patah semangat, Ma. Mama pasti sembuh."
Kiara terisak, sungguh dia tidak tega dan begitu sedih melihat keadaan Inez. Inez tersenyum mendengar perkataan Kiara, lalu wajahnya memandang langit-langit kamar, dia tampak terengah-engah dan begitu sulit bernafas. Kiara yang panik, lalu pergi memanggil dokter.
Kiara keluar dari ruangan ICU karena keadaan Inez memburuk. Dibalik cermin, mereka melihat dokter dibantu beberapa perawat begitu sibuk menangani Inez. Tiba-tiba saja, alat Elektrokardiograf di samping Inez berbunyi, serta memperlihatkan garis lurus pada layarnya.
Semua orang yang ada di depan ruang ICU pun menangis, Begitu pula dengan papa Arron yang baru saja datang, tentunya dia merasa begitu terpukul. Saat dia datang untuk menemui istrinya, tiba-tiba wanita itu sudah pergi meninggalkannya.
"Selamat tinggal, Ma. Beristirahatlah dengan tenang."
Dua Tahun Kemudian..
Kiara mengambil paper bag di depannya setelah membayar barang belanjaan miliknya. Sebuah cincin berlian yang menujukkan ikatan pernikahan antara dirinya dan Arron, kini melingkar di jari manisnya.
"Mamaaa." Lamunan Kiara dikejutkan oleh suara Evelyn.
"Eve, kok sendiri Papa sama Darel mana?"
"Itu di belakang lagi beli es krim."
__ADS_1
"Cari aku cantik?" Tiba-tiba Arron telah berdiri di samping Arron, lalu mencium Kiara di depan umum.
"Mas apa-apaan sih, ini di tempat umum loh."
"Memangnya kenapa? Kita kan suami istri."
Jawaban yang begitu enteng dari Arron, sungguh membuat Kiara gemas lalu memukul kepalanya.
"Dasar, playboy cap kurap. Udah tua kelakuannya masih nggak jelas."
"Playboy kalo aku punya banyak cewek Ara, wanita dunia akhiratku kan cuma kamu."
"Halah, kalo ketemu bidadari surga juga kepincut."
"Nggak sayang, yakin deh bidadarinya pasti insecure sama kamu. Ntar biar aku bawa spanduk tulisannya Arron cuma milik Kiara."
"Dasar gila!"
"Udah lama, dulu kan kamu panggil aku orang gila? Gila karena cinta, ea ea es ..."
"Cukup Mas berhenti dulu gilanya, nggak malu apa sama anak-anak? Kalo mau jadi orang gila, ingat tempat, kita masih di Mal!" sungut Kiara seraya melirik Evelyn dan Darel yang kini menatap mereka.
"Ya udah Ma, Papa bawa ke rumah sakit gila aja, biar nggak malu-maluin!" sambung Evelyn.
"Eh jangan dong, nanti Mama kangen sama perkutut Papa gimana?"
__ADS_1
"Massssssss!"
Mereka semua pun tertawa, semua terlihat bahagia, terbingkai oleh sebuah kata yang disebut keluarga. Setelah Inez meninggal, Arron dan Kiara rujuk. Kiara dengan kebesaran hatinya ikhlas menerima dan menyayangi Darel seperti anak kandungnya. Akan tetapi, ada satu yang masih mengganjal di hati dan benak mereka yaitu keberadaan Queen.