
Sudah satu minggu lamanya, Arron mengajari Kiara soal-soal latihan ujian masuk universitas. Meskipun penjelasan yang diberikan oleh Arron cukup memudahkan dirinya, tetapi tetap saja Kiara tak bisa menghilangkan rasa kesal saat bertemu dengan laki-laki itu. Selain jengah dengan sikap Arron yang selalu meledeknya, dia juga merasa risih karena Arron tak pernah bisa berhenti memandang wajahnya. Tentu saja, hal tersebut membuat Kiara salah tingkah.
"Nih Kak, udah selese!" ujar Kiara setelah selesai mengerjakan soal-soal dan memberikannya pada Arron.
"Bagaimana?" sambung Kiara saat melihat raut serius di wajah Arron. "Bagus, Ara. Kau banyak kemajuan."
"Oh tentu saja, karena aku pun yakin kalau aku bisa masuk ke universitas itu."
"Aku juga yakin, kalo kamu bakalan diterima. Tapi inget kalo sampe kamu diterima, nggak ada yang gratis, Ara!" balas Arron sambil mengedipkan matanya. "Apa kamu bilang? Nggak ada yang gratis? Pamrih sekali," gerutu Kiara.
"Hahahahahaha... Kenapa muka kamu jadi kaya udang rebus kaya gitu?"
"Ck, Kak Arron kau masih sempat tertawa seperti ini? Bukankah Kak Tya memintamu untuk mengajariku? Kupikir kau ikhlas tapi ternyata, ada udang di balik batu."
"Nggak juga Ara, di balik batu nggak pasti ada udang, emang kamu pernah lihat sendiri di balik batu pasti ada udang?"
"Kak Arron!" kesal Kiara sambil melirik sinis pada laki-laki tampan yang masih tertawa di sampingnya. "Kamu kalo marah gini tambah cantik aja, Ara. Jadi pengen cium."
BUGH BUGH BUGH
"Lancang! Dasar mesum!"
"Ah, sakit. Kamu galak banget sih, Ara. Emang aku salah kalo minta hadiah sama kamu kalo kamu diterima? Apa kamu nggak lihat aku udah cape-cape tiap hari ngajarin kamu meluangkan waktuku yang berharga buat ngajarin kamu, biarpun kamu galak sama aku, aku terima kan Ara. Apa aku salah kalo aku minta hadiah sama kamu?" gumam Arron, disertai raut wajah berpura-pura sedih untuk menarik perhatian Kiara.
Melihat mimik wajah Arron, Kiara pun akhirnya tidak tega. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu menghela kasar seraya melirik Arron yang masih menundukkan kepalanya. "Baiklah, kalo aku diterima, kamu minta hadiah apa, Kak?" balas Kiara pada akhirnya.
Spontan Arron pun mengangkat wajahnya, lalu menatap Kiara dengan tatapan menggoda. "Ara, kalo kamu diterima, aku pengin ajak kamu makan malam, berdua aja."
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan makan yang mahal-mahal ya. Dompet tipis nih, belum juga kuliah, terus kerja, udah disuruh traktir."
"Siapa yang nyuruh kamu traktir aku, Ara? Aku kan yanh ajak kamu makan malam, ya akulah yang traktir kamu!"
"A-apa? Aku yang diterima, kok malah Kak Arron yang traktir aku? Otak kakak nggak konslet kan?"
"Otak aku selalu konslet sejak liat kamu, Ara. Hidupku jadi di atas normal."
"Kak Arron!"
BUGH BUGH BUGH
Akhirnya hari ujian pun tiba, Kiara begitu terkejut melihat soal-soal yang ada di hadapannya. Semua terasa begitu sulit dan di luar dugaan. Tetapi, saat mengingat kembali cara yang diajarkan oleh Arron, Kiara yang sempat tegang, akhirnya bisa mengerjakan soal-soal tersebut dengan lancar.
"Ah, ada untungnya aku belajar sama Kak Arron. Meskipun dia nyebelin, tapi ternyata dia berguna juga," kekeh Kiara. Setelah menyelesaikan ujian tersebut, Kiara pulang ke kost-an Tya dengan langkah lemas. Meskipun, sebenarnya dia bisa mengerjakan soal ujian tersebut. Tetapi, rasanya dia tak yakin. Tya yang melihat wajah murung Kiara pun akhirnya menegur gadis itu.
"Hmmmmm entahlah Kak, semoga aja aku sedang beruntung, melihat soal seperti tadi kepalaku rasanya mau pecah." Mendengar jawaban Kiara, Tya pun tertawa. "Kakak bilang juga apa, masuk ke sini itu nggak mudah. Tapi, bukannya kamu dah diajarin sama Arron? Emang yang diajarin Arron nggak keluar sama sekali?"
"Untungnya aku dijarin Kak Arron, kalo nggak mungkin tadi aku cuma bisa diem liat soal-soal nggak jelas kaya gitu."
"Hahahahaha... Berguna juga tuh Arron, kalo kamu diterima jangan lupa ucapin makasih sama dia."
"Iya, iya Kak," balas Kiara sebal, mengingat jika dirinya harus makan malam berdua dengan Arron.
Akhirnya, tiba saatnya hari pengumuman, betapa terkejutnya Kiara saat melihat namanya terpampang di salah satu daftar nama calon mahasiswi yang diterima. Dia pun memekik kegirangan sambil melihat pengumuman di website universitas tersebut.
"Kak Tya lihat, Kak. Aku diterima! Aku udah kasih tau ke Ayah sama Ibu, tapi mereka belum balas pesanku!" pekik Kiara.
__ADS_1
"Beneran nih kamu diterima?"
"Iya Kak, lihat nih. Masa aku boong sih!" balas Kiara sambil memperlihatkan layar laptop miliknya. "Oh iya hebat kamu, Ara. Nggak nyangka ternyata kamu bisa diterima juga, padahal awalnya kakak nggak yakin loh. Hebat juga tuh si Arron yang udah ajarin kamu. Jangan lupa bilang makasih sama dia." Mendengar nama Arron, Kiara pun mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Kok manyun gitu?"
"Nggak apa-apa. Eh, ngomong-ngomong kok Kak Tya rapi banget, mau kemana sih?"
"Oh kakak mau pulang ke Bandung. Kak Kevin minta kenalan sama Ayah dan Ibu."
"Wah serius? Kak Kevin mau lamar Kak Tya gitu?"
"Ya nggak sekarang, Ara. Kerja juga belum udah main lamar-lamaran. Kak Kevin cuma pengen kenalan doang, pengen nunjukkin kalo dia itu serius sama kakak."
"Oh gitu, aku ikutan pulang ya! Ara juga kangen banget sama Ayah dan Ibu."
"Eh kok pulang sih? Kamu udah lupa sama janji kita, Ara?" sahut sebuah suara dari ambang pintu. Sontak, Kiara dan Tya pun menoleh.
"Kalian udah dateng?" balas Tya saat melihat Kevin dan Arron yang sudah berdiri di ambang pintu. "Kamu udah siap, Tya?"
"Udah. Kita pergi sekarang?"
"Iya, biar nggak kemalemen," balas Kevin. "Ya udah Ara, kakak pergi dulu ya. Kamu baik-baik di sini. Arron tolong jaga adik gue ya!"
"Siap Tya, Ara aman kok!"
"Tapi aku juga pengen ikuk kakak pulang!" protes Kiara. "Nggak Ara, kamu di sini aja. Besok kamu harus prepare sama persiapkan kelengkapan administrasi mahasiswi baru. Nanti biar Arron yang bantuin. Udah ya kakak pergi dulu!" ujar Tya, lalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan Arron.
"Aku nggak mau pergi sama Kak Arron."
__ADS_1