
Awalnya Arron akan menyuruh anak buahnya untuk membuntuti Queen, akan tetapi saat sarapan, Arron melihat gelagat aneh dari istrinya ketika menerima panggilan telepon. Jika biasanya, Queen akan menerima panggilan telepon di sampingnya, tapi tidak dengan hari ini, dia bahkan menjauh dari Arron dan memilih untuk menerima panggilan telepon itu di luar rumah. Melihat Queen yang saat ini sedang berjalan keluar, spontan Arron pun mengikuti langkah Queen, lalu berdiri di balik pintu.
"Apa kau bilang? Menikah besok? Itu bagus, bagaimana kau bisa melakukan tugas secepat itu? Apa karena kau sudah tidak sabar mendapat bagian dariku, hah?"
Selanjutnya hening.
"Apa hamil? Apa kau sudah menyentuhnya?"
Queen terlihat begitu gusar, setelah itu raut wajahnya berubah panik. Sedangkan Arron yang mengamati dari balik pintu, tentunya merasa penasaran, siapa yang dimaksud oleh Queen.
"Hamil? Siapa yang hamil?" gumam Arron, dia lalu mengamati Queen yang terlihat semakin gusar.
"Kalau kau tidak pernah menyentuhnya, lalu siapa yang membuat wanita sialan itu hamil, hah?" Queens tampak frustrasi, hatinya kian berkecamuk. Sejak Alvian hilang dengan dalih mengobati istrinya di Singapura, Queen memang sama sekali tidak mengetahui informasi tentang Kiara, dan beberapa hari terakhir ini Alvian baru saja memberi tahu perkembangan hubungannya dengan Kiara lagi, akan tetapi saat mengetahui Kiara hamil dan Alvian mengatakan itu bukan darah dagingnya, tentu Queen sangat panik, entah mengapa tiba-tiba saja dia curiga pada suaminya sendiri.
"Kenapa Queen menyebut namaku? Siapa wanita hamil yang dia maksud? Apa itu Kiara? Oh tidak, Queen tidak mungkin tahu yang terjadi antara diriku dan Kiara. Tapi, bukankah semua bisa saja terjadi? Bagaimana kalau dia menyuruh orang untuk menyelidiki keberadaan Kiara?" gumam Arron, bersamaan dengan itu terdengar langkah Queen masuk ke dalam rumah. Gegas, Arron pun menuju ke meja makan kembali dan berpura-pura menikmati sarapan.
Melihat wajah polos Arron yang tak memperlihatkan keanehan selama beberapa minggu terakhir, Queen pun menarik kecurigaan yang sempat terlintas di benaknya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kau terlihat panik seperti ini?" Mendengar pertanyaan Arron, Queen pun gugup, tentunya dia tidak ingin suaminya itu tahu jika dia sedang membicarakan Kiara dengan Alvian, laki-laki yang dia perintahkan untuk mendekati Kiara beberapa tahun yang lalu.
"Sayang!" panggil Arron kembali.
__ADS_1
"Oh iya, tadi salah seorang temanku mengatakan jika dia sedang sakit. Emh Arron, aku pergi sekarang ya," pamit Queen.
"Iya, hati-hati cintaku." Queen mengecup pipi Arron lalu keluar dari rumah itu.
"Cepat selidiki siapa yang menghamili Kiara!" perintah Queen saat keluar dari rumah itu, saat berbicara pada seseorang di ujung sambungan telepon. Tanpa Queen sadari, Arron sayup-sayup mendengar perkataan istrinya tersebut.
Arron diam termenung, dia tak menyangka jika saat ini Kiara tangah kembali hamil darah dagingnya. Perasaannya begitu campur aduk, akan tetapi dia harus kembali pada kewarasannya, dan mengabaikan perasaan bahagia sekaligus haru tersebut, karena dia harus membuntuti Queen.
"A-apa, Kiara hamil? Kenapa Queen bisa tahu tentang kehidupan Kiara? Apa ada seseorang di dekat Kiara yang menjadi mata-mata dari Queen? Apa orang itu adalah Alvian?"
***
Sementara itu, di rumah sakit Kiara tampak menatap sendu wajah Alvian. "Mas, kenapa kamu harus berbohong seperti itu? Ini bukan kesalahan kamu. Seharusnya kamu memutuskan hubungan kita, aku terlalu hina buat kamu, Mas. Kamu seharusnya bisa dapet wanita yang jauh lebih baik dariku, bukannya wanita kotor kaya aku."
"Tapi aku udah terlalu kotor, Mas. Aku sudah berselingkuh di belakang kamu sampai membuahkan janin di perutku."
Alvian tersenyum. "Aku yakin, yang terjadi itu adalah sebuah ketidak sengajaan, Ara. Aku kenal kamu, aku tahu kamu bukan wanita segampang itu. Kamu bukanlah wanita yang mudah disentuh."
Kiara menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah pada laki-laki baik yang saat ini duduk di sampingnya.
"Ara, siapa laki-laki itu? Apa dia masa lalumu?" Jantung Kiara seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Alvian. Namun, tak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita itu, hanya isak tangis yang kini terdengar.
__ADS_1
"Ya udah ngga apa-apa kalo kamu belum mau jawab pertanyaan aku, Ara."
Sementara itu, tanpa Kiara tahu, Lila, mama Kiara, saat ini mendekat pada Kiara dan Alvian disertai derai air mata.
"Apa-apaan ini, Kiara! Apa yang sebenarnya telah kau perbuat? Aku sudah sangat malu saat mendengarmu hamil tanpa memiliki suami, meskipun kami cukup lega setelah Alvian mau bertanggung jawab! Tapi kenapa kau kembali menampar kami dengan kenyataan pahit jika bukan Alvian ayah dari janin yang kau kandung, Ara! Kau benar-benar wanita murahan!"
"Maafkan aku, Ma!"
"Cepat katakan siapa yang sudah menghamilimu sebenarnya, Ara!"
Kiara terisak seraya menundukkan kepalanya, rasa malu sekaligus bingung bercampur menjadi satu. Sedangkan Alvian yang memang ditugaskan oleh Queen, sudah tidak sabar mendengar pengakuan Kiara.
"Ara! Cepat katakan padaku, siapa laki-laki itu!"
"A-Arron, Ma!"
Mendengar nama Arron terlontar dari bibir Kiara, Lila pun memelototkan matanya, dia mendekat pada Kiara lalu melayangkan tamparan keras di pipi putrinya itu.
"Kenapa kau bersikap seperti ini, Ara! Kenapa kau rela menjadi wanita murahan hanya karena seorang laki-laki seperti Arron! Apa kau tidak sadar, dia sudah memiliki seorang istri!"
"Maafkan aku, Ma," isak Kiara. Namun, saat Kiara mengangkat wajahnya, tampak tubuh Lila mulai lunglai, dan terkapar di atas lantai.
__ADS_1
"Mama!"