Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Dasar Gila


__ADS_3

Malamnya...


Seorang wanita tampak menutup telepon diiringi butiran bening yang tiba-tiba lolos begitu saja, tanpa bisa ditahan seraya menatap kue ulang tahun dan candle light diner yang telah dia siapkan di atas meja. Beberapa kali, dia menelepon suaminya. Tetapi, ponsel suaminya tidak aktif.


"Kau dimana Arron? Kupikir kau pergi untuk mempersiapkan kejutan untukku, tapi ternyata tidak, aku memang terlalu percaya diri. Seharusnya aku sadar, sampai saat ini, tidak ada ruang yang kau berikan untukku. Dan kesalahan terbesarku adalah memaksakan hati yang selamanya tidak akan pernah menjadi milikku, tapi bukankah hidup ini cuma satu kali? Apa salah kalau aku egois untuk sebentar saja?" gumam Queen yang kini berderai air mata.


***


Keesokan harinya, saat Arron membuka mata, tampak Kiara sudah tidak berada di sampingnya, seketika dia pun panik. Namun, rasa panik itu sirna tatkala melihat Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Spontan Arron pun menghampiri wanita itu, lalu memeluk tubuhnya, dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah dan lehernya.


"Mas, kamu kenapa sih? Kok kaya kesetanan gini?" protes Kiara, keningnya pun tampak berkerut disertasi tatapan penuh tanda tanya melihat tingkah mantan suaminya itu. "Aku panik, Ara. Waktu aku bangun, kamu udah nggak ada di sampingku, aku takut kamu ninggalin aku. Aku nggak mau pisah sama kamu lagi," balas Arron, jawaban Arron pun membuat Kiara tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha... Kamu ada-ada aja, Mas."


"Kok malah ketawa gitu sih? Kamu pikir aku sedang becanda?" Kiara menggeleng perlahan, disertai senyuman yang masih terukir di bibir tipisnya. "Udah sana mandi, Mas. Sebentar lagi kita ke check out!" perintah Kiara, tetapi laki-laki itu malah menarik tangannya, kemudian menyuruhnya duduk di depan meja rias, lalu mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Kiara dengan hair dryer tersebut. Tingkah Arron pun seketika membuat Kiara terkekeh.


"Kamu ada-ada aja, Mas."


"Bukannya aku udah bilang kalo aku kangen sama semua yang ada pada dirimu, apapun itu, tanpa terkecuali." Mendengar jawaban Arron, seketika wajah Kiara pun merona, hingga membuat Arron merasa gemas, lalu mengecup pipi itu, meskipun tangannya masih memainkan hair dryer.


"I love you," bisiknya, mengudara tepat di telinga Kiara. Keduanya pun saling tatap dalam pantulan cermin seraya tersenyum. Tetapi, momen romantis itu, harus terjeda saat tiba-tiba ponsel Arron berbunyi, lamunan keduanya pun tersentak. Arron meletakkan hair dryer di atas meja, sementara Kiara tampak bangkit dari atas kursi untuk mengenakan pakaian.


Saat Kiara mengenakan pakaiannya, dia mencoba untuk bersikap cuek, meskipun dia yakin jika yang menelepon Arron adalah Queen, istrinya. Queen, merupakan sahabat sekaligus teman masa kecil Arron yang saat ini berhasil menjadi istri dari laki-laki itu. Lebih tepatnya merebut Arron darinya.

__ADS_1


[Halo, Queen.]


[Pa, kamu di mana sih? Kenapa kamu nggak pulang?]


[Maaf, aku lupa memberi tahumu kalau tiba-tiba ada urusan pekerjaan di Bandung. Jadi, kemarin aku buru-buru pergi ke Bandung selama kurang lebih satu minggu.] jawab Arron, sambil menarik Kiara ke dalam dekapanya, lalu menciumi tengkuk wanita itu dan hampir saja membuatnya mendesah, hal itu pun membuat Kiara mendelik pada Arron, sedangkan bibirnya tampak bergerak seakan sedang memarahi laki-laki itu agar tidak melakukan hal gila saat Queen meneleponnya.


[A-apa? Di Bandung selama satu minggu?]


[Iya, bukankah tadi aku udah bilang, kalau ada urusan pekerjaan mendadak selama satu minggu. Kalau kamu nggak percaya, temui aku sekarang juga di Bandung!]


[Nggak Pa, aku percaya.] jawab Queen pada akhirnya.


[Ya sudah aku mau berangkat dulu.]


"Aku ingin mneghabiskan waktu selama satu minggu sama kamu, Kiara."


"Tapi Mas..."


"Nggak ada kata tapi, aku mandi dulu ya. Percuma saja kamu mendebatku, karena aku akan terus maksa kamu," balas Arron, sambil berjalan meninggalkan Kiara yang menatap tingkahnya seraya menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


Satu jam kemudian, mobil Arron tampak sudah merayap dalam padatnya jalanan ibu kota. Laki-laki itu, tampak mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sambil melirik ke arah Kiara. "Jam berapa kamu ketemu sama rekan bisnismu, Sayang?"


Arron pun melihat Arloji di tangannya yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Pukul sebelas siang, memangnya kenapa?" jawab Kiara, sambil mengerutkan keningnya, saat melihat senyum disertai seringai tipis pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


"Mas, ada apa sih?" tanya Kiara kembali yang merasa heran saat Arron keluar dari jalanan protokol ibu kota, lalu mengarahkan mobil itu ke sebuah jalanan sepi. "Mas, kita mau kemana? Bukannya kita udah mau sampai, kok malah ke tempat kaya gini sih?"


"Masih ada waktu, Kiara," jawab Arron sambil menarik line skirt warna hitam yang dikenakan Kiara, lalu mengelus paha mulus itu. "Apaan sih, Mas? Nakal banget kamu!"


"Aku masih kangen, Ara."


"Tapi nggak di tempat kaya gini juga kali."


"Terus mau kamu dimana? Di hotel? Waktu kita itu cuma satu jam, Ara. Kalo di hotel, nggak cukup satu jam karena aku nggak mungkin main satu ronde sama kamu."


"Dasar messum!" protes Kiara, tetapi belum sempat dia melanjutkan celotehannya, Arron sudah membungkam bibir itu dengan ciuman yang begitu ganas. Debaran jantung Kiara seakan bertabuh bak genderang perang.


Melihat Kiara yang mulai diliputi gairah, Arron pun berhenti sejenak untuk melihat wajah cantik itu yang kini terlihat berkeringat, tatanan rambutnya rusak, sedangkan lipstik di bibirnya sudah begitu belepotan dan bisa dipastikan lipstik itu sudah beralih ke bibirnya, tetapi Arron tak peduli itu.


"Kenapa? Kaget?" tanya Aaron sambil mengelus pipi Kiara, lalu meletakkan helaian rambutnya yang kacau ke belakang telinga. "Jawab saja sendiri," balas Kiara dengan begitu kesal. "Sepertinya kau menikmatinya?"

__ADS_1


"Dasar gila!"


__ADS_2