
Sambil mengendarai mobilnya, Arron tampak mendengus kesal. Dia merasa begitu frustasi. Sejak mengusirnya dari rumah sakit, Kiara sudah tidak bisa dihubungi lagi olehnya. Saat dia mencari keberadaan Kiara di rumah yang di belikan, wanita itu pun juga tidak berada di rumah tersebut.
"Argh, sial. Kenapa Kiara sangat percaya pada laki-laki itu. Hanya karena dia yang ada bersamanya saat terpuruk, lantas apa itu jaminan kalau laki-laki itu tidak bisa berbuat jahat padanya? Naif sekali kau Kiara!"
"Mungkin, sudah seharusnya aku mengambil keputusan agar Kiara tidak terus menerus merasa bersalah atas hubungan kami di belakang Queen, ya aku harus melakukan itu!" gumam Arron kembali.
Laki-laki itu pun memutar balik mobilnya, awalnya dia berniat pergi ke kantornya, akan tetapi melihat situasi ini, tak mungkin dia bisa fokus mengerjakan pekerjaannya.
Setengah jam kemudian, laki-laki itu pun sudah sampai di sebuah mansion yang sudah lama tidak dia kunjungi. Lebih tepatnya, sejak dia menikah dengan Queen, Arron tak pernah mengunjungi mansion tersebut yang merupakan milik Bramasta Hadiwijaya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arron menghampiri Bram yang saat itu kebetulan sedang duduk di taman sambil menikmati sinar matahari di pagi hari. Melihat kedatangan menantunya, Bram pun memincingkan senyumnya, sekaligus merasa heran karena tidak biasanya Arron mengunjunginya seperti ini, bahkan sejak dia menikah dengan Queen.
"Selamat pagi, Pa."
"Selamat pagi, Arron. Lama tidak bertemu."
Arron pun tersenyum disertai gelagat salah tingkah. Sebenarnya dia merasa sungkan, apalagi tujuan dari kedatangannya pagi ini pasti membuat Bram terkejut dan marah padanya.
"Maaf kalau aku jarang berkunjung, aku sibuk Pa." Bram pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, raut teduh tampak terlihat di wajah laki-laki paruh baya itu.
"Maaf Pa, maaf kalau aku tidak bisa berbasa-basi. Kedatanganku ke sini karena memang ingin ada yang kusampaikan pada Papa. Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau aku akan mengambil keputusan yang membuat Papa marah padaku. Maaf, sepertinya aku akan menceraikan Queen. Maaf kalau keputusanku ini sangat menyakiti hati Papa dan membuat Papa marah padaku."
__ADS_1
Bram pun terdiam lalu menoleh dan menatap Arron dengan tatapan datar. Arron pun terlihat semakin salah tingkah, dia tak bisa menerka tatapan dari Bram tersebut. Akan tetapi, dia sudah siap jika mertuanya itu murka padanya. Bahkan, dia pun juga siap jika tubuhnya babak belur kalau mertuanya tidak terima dan ingin melampiaskan kekesalan pada dirinya.
Namun kecemasan itu sedikit memudar, manakala beberapa saat kemudian senyum simpul terlihat di wajah Bram. Sungguh Arron tidak menduga mengapa laki-laki itu bisa tersenyum, tapi dia tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat jika Bram sudah mau berbesar hati dengan keputusannya.
"Kenapa Pa? Apa Papa marah padaku? Silahkan Papa marah padaku, aku memang laki-laki kurang ajar dan tidak bertanggung jawab. Aku tahu, ini terdengar kejam dan tentunya menyakiti hati Queen, akan tetapi aku sudah tidak bisa melanjutkan rumah tangga ini lagi. Aku sama sekali tidak mencintai Queen, dan aku tidak mau kehidupan rumah tangga kami nantinya akan menyakiti Queen, dia juga berhak bahagia dengan mendapatkan cinta yang utuh dari seorang laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya, tapi maaf itu bukan aku, Pa."
"Apa ada wanita lain?" balas Bram, tidak ada raut kesal di wajahnya, nada bicaranya pun terdengar begitu tenang. Arron terdiam, tak tahu harus menjawab apa karena sejak dulu, dia hanya mencintai Kiara.
"Kau tidak perlu sungkan Arron, aku tidak menyalahkanmu kalau kau tidak pernah mencintai Queen, karena nyatanya pernikahan itu memang dipaksakan. Awalnya, memang terbersit harapan agar kau mencintai putriku, akan tetapi setelah melihat bagaimana perilaku Queen yang sebenarnya, aku memilih untuk tidak memaksakan hubungan pernikahan ini. Sejujurnya, aku tidak mau melihat Queen menjadi wanita yang selalu mengemis cinta darimu, ini terlalu memalukan."
"Maafkan aku, Pa."
"Terima kasih atas pengertiannya Pa."
Bram pun menganggukkan kepalanya. "Arron, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu, lebih tepatnya, sebuah rahasia yang telah lama keluarga kami tutupi."
Arron mengerutkan keningnya. "Rahasia apa, Pa? Apa tentang jati diri Queen jika dia bukan anak kandung Papa? Kalau itu, aku sudah tahu Pa."
Bram menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, Arron. Tapi tentang putriku yang dijodohkan denganmu, sebenarnya yang dijodohkan denganmu bukanlah Queen, tapi putri kandungku. Selama ini, yang kutahu putri kandungku sudah meninggal bersama dengan istriku. Akan tetapi, beberapa bulan terakhir ini, aku baru mengetahui jika putri kandungku masih hidup, dan sampai sekarang, keberadaannya belum kuketahui."
Bram menghela napasnya kasar, embun di matanya, sudah menetes menjadi butiran bening yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Nahasnya yang melakukan kejahatan itu adalah Mama Queen, dia yang melakukan semua konspirasi itu, termasuk perjodohan kalian. Karena sebenarnya yang dijodohkan denganmu bukanlah Queen, tapi putri kandungku. Dan sialnya, aku tidak memiliki petunjuk apapun tentang putriku itu. Aku sangat kesulitan mencarinya Arron. Karena yang tahu tentang semua petunjuk itu adalah Queen, dan mamanya."
Arron hanya hanya bisa mematung mendengar penuturan Bram. Awalnya, dia menyangka jika kedatangannya akan membuat laki-laki itu marah padanya, akan tetapi nyatanya dia justru mendapat kejutan tak terduga dari laki-laki paruh baya itu. Dan keberadaan anak kandung Bram, seolah menjadi misteri tersendiri baginya."
"Arron, maukah kau membantuku? Urungkanlah niatmu sebentar untuk menceraikan Queen, dan bantulah mencari tahu di mana keberadaan putriku dari Queen. Aku yakin, kau pasti bisa melakukan semua itu Arron."
Arron terdiam, tak tahu harus menjawab apa. "Apa yang harus terlebih dulu kulakukan? Mengejar Kiara, atau mencari tahu keberadaan putri kandung Papa Bram? Putri kandungnya yang sebenarnya dijodohkan denganku?" batinnya.
***
Kiara menatap nanar ponselnya, menatap kebersamaan terakhirnya dengan Arron. Memang terasa sakit, akan tetapi dia harus bisa belajar mengikhlaskan sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Di saat itulah sosok mungil mendekat ke arahnya.
"Mommy, kenapa Mommy menangis?"
Mendengar suara putrinya, Kiara pun menoleh, menatap wajah gadis itu sejenak, seorang gadis kecil yang menjadi sumber kebahagiaan baginya, akan tetapi di balik itu, ada sebuah rasa sakit karena wajah Evelyn sangat mirip dengan Arron, laki-laki yang susah payah ingin dia lupakan.
"Mama!" panggil Evelyn seketika menyentak lamunan Kiara saat masih menatap wajah polos gadis kecil itu, hingga tanpa sengaja, tiba-tiba ponsel yang ada di genggamannya pun terjatuh.
Evelyn yang merasa bersalah telah membuat ponsel milik Kiara, berinisiatif membantu Kiara mengambil ponsel tersebut dan saat Evelyn mengambil ponsel itu, tanpa sengaja dia melihat foto kemesraan Arron dan Kiara.
"Mommy siapa dia? Itu bukan Daddy Alvian?"
__ADS_1