
"TIDAK SAH!" teriak suara dari arah pintu. Seketika, acara ijab qabul itu pun terhenti. Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu seraya menatap semua yang ada di dalam ruangan dengan tatapan mata tajamnya.
"Mas..." lirih Kiara seraya menggelengkan kepalanya. Hatinya kian berkecamuk, sebenarnya dia bahagia bisa melihat Arron, lebih tepatnya bahagia Arron datang tepat waktu saat pernikahan mendadaknya. Memang terasa jahat dan egois, akan tetapi dalam relumg hati terdalam Kiara, sebenarnya dia ingin Arron yang menikahinya, apalagi saat ini dia mengandung darah daging Arron lagi. Namun, hal itu sama saja menyakiti Alvian, dan Queen, lagi-lagi Kiara tidak boleh egois, dan tidak mau semua itu terjadi, hingga membuat Kiara memilih untuk menegur Arron.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kamu nggak ada hak buat halangin pernikahan kami, apalagi sampai mengatakan pernikahan ini tidak sah!"
"Benar apa yang dikatakan Kiara, Arron. Ingat kau sudah memilik istri, dan dia ada di sampingmu! Kau tidak bisa seenaknya mencampuri urusan orang lain!" sambung Yanuar.
"Memang kenyataannya pernikahan ini tidak sah, Kiara! Kau memiliki ayah kandung, yang sosoknya kini sudah kuketahui, dan jika kau mau melangsungkan pernikahan itu, dia lah yang berhak untuk menikahkan dirimu, dan kau harus mendapatkan ijin dan restu darinya!"
Mendengar perkataan Arron, Kiara pun mengerutkan keningnya, seraya menatap Arron dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan Alvian, kini semakin panik, apalagi Queen tampak tidak berkutik di samping Arron, tentunya laki-laki itu ingin menyelamatkan dirinya. Perlahan, Alvian pun mundur, lalu merapatkan dirinya ke dinding, bergerak perlahan ke arah pintu, dan tidak ada yang menyadari itu karena atensi mereka masih tertuju pada Arron.
"Apa maksudmu, Mas? Papa kandungku? Maksudmu, orang tua yang sudah menaruhku di panti asuhan begitu saja? Orang tua yang tidak menginginkan kehadiran putrinya di dunia ini, kan?"
__ADS_1
Arron menggeleng. "Bukan seperti itu kejadiannya Kiara, orang tuamu sangatlah menyayangimu, selama ini dia tidak mencarimu karena dia pikir kau sudah meninggal Ara! Dan semua ini terjadi karena permainan dari Mama Queen, dan dirinya sendiri. Ketika mamamu melahirkanmu, dia meninggal. Setelah itu, mama Queen membawamu ke panti asuhan tanpa sepengetahuan papamu yang sedang syok atas meninggalnya mamamu, lalu dia juga mengatakan pada papamu kalau kau juga sudah meninggal."
Kiara menutup mulutnya, seraya menatap Queen yang kini sedang tertunduk, seakan meminta penjelasan dari wanita itu, akan tetapi yang dia lakukan hanya diam. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, bahkan seperti sedangang mengiyakan perkataan Arron. Akan tetapi, Kiara tidak mau percaya pada satu pihak.
"Benarkah apa yang dikatakan Mas Arron, Kak Queen?"
Queen masih terdiam, hanya ada anggukan kecil, yang bahkan tak terlihat. "Kau mau bukti Kiara? Silakan kau buka percakapan pesan di ponsel ini, karena laki-laki yang kau pikir menjadi dewa penolongmu itu tidak sebaik yang kau pikirkan!" sahut Arron sambil memberikan ponsel Queen pada Kiara.
Wanita itu pun membaca detail percakapan pesan antara Queen dan Alvian yang sangat menyakiti dirinya. Tentunya Kiara juga merasa sangat marah, selama ini sudah dipermainkan dengan kebaikan palsu yang ditunjukkan oleh Alvian, akan tetapi perawatan tersebut.
"Dan satu lagi yang harus kau tahu, Kiara. Wanita yang sejak dulu dijodohkan denganku sebenarnya adalah kau, bukan Queen. Almarhum mama Queen dan dia lah yang selama ini membuat skenario agar Queen menikah denganku sekaligus memengaruhi Mama Inez karena saat itu, Papa Bram, papa kandungmu sudah pasrah, yang dia tahu kau sudah meninggal jadi dia mengikhlaskan perjodohanku dengan Queen, sekaligus mengikhalskan Queen menjadi pengganti semua posisimu. Semua ini mereka lakukan untuk mendapatkan harta dari papamu, dan juga keluargaku."
Mendengar penuturan Arron, dada Kiara pun merasa begitu sesak, selama ini hidupnya seolah menjadi permainan dari Queen dan orang tuanya. Wanita itu pun mendekat pada Queen yang saat ini masih menunduk, menyembunyikan wajahnya diantara rasa malu dan ketakutannya. Mungkin, dia sudah tidak sanggup menatap Kiara dan Arron.
__ADS_1
"Kak Queen, kenapa kau melakukan semua ini, Kak? Apa belum cukup kau memisahkanku dari orang tuaku selama bertahun-tahun? Apa belum cukup selama ini kau sering berbuat jahat padaku? Terutama di villa dan kejadian tujuh tahun lalu di apartemen itu? Itu sudah sangat menyakitkan, Kak. Lalu, kenapa kau masih selalu ingin mempermainkan diriku? Apa kau pikir jalan hidupku ada di tanganmu yang bisa kau kendalikan? Aku juga punya hak atas diriku sendiri, Kak!"
Mendengar perkataan Kiara, Queen pun mengangkat wajahnya, lalu menatap adik tirinya itu dengan tatapan sengit. "Ini semua gara-gara kau, Kiara! Kau mendapatkan semua yang aku inginkan dan ini sangat tidak adil bagiku! Aku selalu mengalami penderitaan sedangkan kau, selalu hidup bahagia! Ini tidak adil!"
"Tidak adil katamu, Kak? Kau yang terlebih dulu merebut hakku mulai dari memisahkanku dengan orang tua kandungku. Apa kau lupa, aku juga hidup menderita karenamu, selama bertahun-tahun aku dipisahkan dengan orang-orang yang kusayangi demi keegoisanmu semata! Dan jika kau mengalami penderitaan seperti yang kau katakan, itu semua buah dari semua kejahatanmu! Jadi, lebih baik sekarang kau bertobatlah, Kak."
"Dasar sok tahu, persetan dengan semua itu!" Queen yang berdiri di dekat Kiara, lalu menghempaskan tubuh Kiara begitu saja hingga perut Kiara membentur meja yang ada di ruangan tersebut, lalu dengan gerakan cepat, dia keluar dari ruang perawatan itu. Saat Kevin dan Arron akan mengejar Queen, mereka mengurungkan niat tersebut setelah mendengar teriakkan Kiara.
"Ah ... Sakit!"
"Kiara!" pekik semua orang yang ada di ruangan itu dengan begitu panik, lalu mendekat pada Kiara yang meringis kesakitan.
"Kevin tolong kejar Queen!" perintah Arron yang kian panik saat melihat darah yang kian membasahi kaki Kiara.
__ADS_1
Queen yang saat ini berlari di koridor rumah sakit, tampak begitu panik, apalagi, dia pun sadar, jika pasti ada yang mengejarnya akibat tidak terima dengan sikapnya pada Kiara. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba, seseorang mendekap tubuh dan mulutnya.
"Empt ... "