Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Mama Inez


__ADS_3

"Kau mau apa, Queen? Jangan macam-macam padaku!"


"Mama Inez yang jangan main-main denganku!"


"Pergi dari sini, Queen. Atau kupanggil polisi sekarang juga!"


"Panggil saja kalau Mama bisa, bukankah tidak ada siapa-siapa di rumah ini? Arron sedang menemui Kiara, dan Papa masih berada di kantor kan?"


"Dasar bodoh! Kau pikir aku di rumah ini sendirian? Ada petugas keamanan di depan, dan juga banyak pembantu rumah tangga di sini!"


Mendengar perkataan Inez, Queen pun tersenyum kecut, detik berikutnya seorang laki-laki tampak berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Inez pun memundurkan langkahnya melihat interaksi mencurigakan dua orang yang ada di depannya.


"Alvian, apa kau sudah bereskan petugas keamanan dan para pembantu bodoh itu?"


"Tentu saja, Queen sayang."


Keduanya pun terkekeh kembali hingga membuat Inez semakin panik. "Keluar kalian dari sini!"


"Tidak sebelum Mama menuruti kata-kataku untuk menanda tangani surat kuasa ini!" bentak Queen seraya memberikan sebuah map berwarna merah.


"Jangan pernah bermimpi, Queen. Aku tidak akan pernah menuruti permintaan bodohmu itu!" Inez terus memundurkan langkahnya menuju ke bagian belakang rumah tersebut.

__ADS_1


"Dasar keras kepala! Alvian, tolong bereskan wanita bodoh ini!"


"Jangan mendekat atau aku akan melukai kalian berdua!" gertak Inez yang saat ini sudah memegang pisau. Memang saat ini mereka sudah berada di dapur karena Inez yang terus-menerus memundurkan langkahnya.


Melihat pisau di tangan Inez, Queen dan Alvian pun panik. "Jangan macam-macam dengan pisau itu, Mama Inez!"


"Cih! Kau pikir aku main-main, hah? Kalian berdua memang pantas mati!" Melihat Alvian dan Queen yang panik, Inez pun tersenyum, merasa menang dengan posisi mereka saat ini. Akan tetapi, dengan gerakan cepat, Alvian mendekat ke arah Inez lalu melumpuhkan tangannya untuk mengambil alih pisau tersebut.


Inez pun tak tinggal diam, dia pun melakukan perlawanan dengan mencoba merebut kembali pisau di tangan Alvian, keduanya pun saling berebut, hingga sebuah teriakan terdengar dari keduanya.


"AAAAAA!"


"Mama Inez, Alvian!"


***


Sementara itu, Kiara tampak membuka kelopak matanya. Entah berapa lama dia tak sadarkan diri setelah menjalani kuretase, dia pun tak tahu. Yang dia ingat adalah saat Arron dan Bram memberikan penjelasan pada dirinya jika Kita telah kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya, dan harus menjalani proses kuretase. Mengingat itu, Kiara pun kembali terisak.


"Anakku ... "


Arron yang mendengar isakan Kiara, menyadari jika wanita itu telah sadarkan diri, gegas dia mendekat pada Kiara untuk memeluknya sekaligus menenangkan wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Mas ... "


"Ikhlaskan Kiara, ini sudah menjadi takdir yang digariskan Tuhan."


Kiara pun mengangguk. Setelah Kiara tampak tenang, Arron pun kembali membuka suaranya. "Ara, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Ada apa, Mas?"


"Ini tentang Mama Inez."


Mendengar nama Inez disebut, Kiara pun melonggarkan pelukannya, lalu menatap Arron dengan tatapan penuh tanda tanya. Melihat sikap Kiara, Arron pun merasa salah tingkah, tentunya dia paham jika sikap Inez begitu buruk pada wanita itu, dan jika Kiara merasa terganggu kalau Arron menyebut namanya, Kiara bisa memahami itu.


"Emh begini Kiara, sebelumnya tolong maafkan semua kesalahan Mama, dan tolong buang rasa bencimu padanya ... "


"Aku nggak pernah membenci Mama Inez Mas, sebenarnya apa yang terjadi pada Mama?"


"Emh begini Ara ... "


Arron kembali terdiam, lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Mama Inez ..."

__ADS_1


__ADS_2