Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

"Teruntuk logika, tolong duduklah di sampingku, dan ceritakan apa arti sebuah kewarasan, agar kau tak selalu menghakimi kalbu."


"Kiara hanya untuk Arron dan akan selamanya seperti itu, I Love you, Kak."


Kiara menatap lembar demi lembar buku diary miliknya, tahun ini sudah tahun ke-3 Arron pergi meninggalkannya. Sudah 3 tahun lamanya pula, Kiara berusaha mencari keberadaan Arron, setidaknya untuk meminta maaf padanya, ataupun hanya sekedar menanyakan kondisinya pasca kecelakaan parah yang dialami olehnya.


Akan tetapi, laki-laki itu seperti hilang ditelan bumi. Bahkan, Kevin dan Tya pun tidak mengetahui keberadaan Arron, begitu pula dengan teman-teman terdekat mereka dulu, tak ada yang menjalin komunikasi lagi dengan Arron. Yang mereka tahu, hanya sebatas Arron mengalami kecelakaan parah, dan setelah itu dia melanjutkan kuliah di luar negeri.


Sebenarnya Kiara merasa sangat tersiksa, dan hanya diary miliknya lah yang menjadi saksi bisu betapa dirinya sangat merindukan laki-laki itu.


Dengan sisa semangat yang dimiliki Kiara, meskipun disertai rasa terpuruk dan juga rasa bersalah pada Arron, Kiara akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang memuaskan dan berpredikat cum laude.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, akhirnya Kiara pun mendapat pekerjaan. Beberapa hari setelah prosesi yudisium di kampus, ada perusahaan tingkat nasional yang mencari tenaga kerja dan Kiara berhasil lolos pada wawancara kerja itu.


Hiruk pikuk ibu kota masih setia menemani Kiara yang saat ini hidup dengan kakaknya Tya, dan sekarang sudah menikah dengan Kevin. Mereka juga sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia satu tahun.


Pagi ini, adalah hari pertama Kiara bekerja di kantor. Dengan langkah cepat karena tidak mau terlambat, Kiara memasuki kantor tersebut.


Setelah menemui staf HRD, Kiara diarahkan pada kubikel kerjanya. Akan tetapi, saat dia baru saja duduk di kursinya, tiba-tiba atensi Kiara tertuju pada setangkai bunga mawar di meja kerjanya.


Tentunya, dia begitu terkejut. Namun, dia mengacuhkan semua itu, karena Kiara pikir itu adalah milik salah satu karyawan yang tertinggal. Namun, keesokan harinya keanehan kembali terjadi, Kiara menemukan sebatang cokelat berpita warna merah di atas meja kerjanya, karena takut dia pun memilih untuk membuangnya. Sebelum Kiara membuang cokelat itu, sepintas dia membaca kertas yang ada di atas cokelat tersebut bertuliskan:


'Siapa yang sebenarnya sudah mengirimkan cokelat ini?' batin Kiara. Namun dia mengabaikan semua perlakuan manis itu, karena yang ada di dalam hati Kiara, saat ini hanyalah Arron. Ya, meskipun 3 tahun sudah berlalu, akan tetapi dia belum bisa melupakan bayang-bayang Arron. Di dalam hatinya pun hanya masih ada satu nama, yaitu Arron.

__ADS_1


Akan tetapi, keanehan yang Kiara alami tidak hanya terjadi di kantor. Namun, juga di rumah Tya, bahkan setiap hari Kiara menerima buket mawar di depan pintu rumah kakaknya itu. Meskipun sebenarnya dia sangat penasaran siapa pengirim bunga dan cokelat untuknya, Kiara tidak ingin mencari tahu siapa pengagum rahasianya, karena yang ada di dalam pikiran Kiara hanya Arron, Arron dan Arron saja.


Dan, keanehan itu tidak hanya terjadi dalam hitungan hari saja, selama tiga bulan masa training, setiap hari Kiara mendapat kado berupa cokelat, boneka, maupun bunga baik itu di kantor atau di rumah Tya.


Sampai akhirnya, pada suatu hari sekretaris dari CEO di perusahaan tempat Kiara bekerja, memanggil Kiara untuk menemui bos-nya di ruang kerjanya. "Kiara, kamu dipanggil bos besar ke ruangannya tuh," ujar Dini, sekretraris bos tersebut.


Sebenarnya Kiara begitu terkejut karena tiba-tiba dipanggil oleh pimpinan perusahaan. Di dalam hatinya, Kiara bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai harus dipanggil ke ruangan bosnya. Kiara membuka pintu ruang kerja pimpinan perusahaan itu, dengan sedikit gemetar.


"Selamat siang Pak, anda memanggil saya?" tanya Kiara dengan begitu gugup, pada laki-laki yang saat ini tampak menatap pemandangan luar dengan berdiri di samping jendela. Posisi tubuhnya membelakangi Kiara, sehingga Kiara tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari bosnya itu.


Sejenak laki-laki itu hanya terdiam, tentunya hal itu membuat Kiara semakin cemas. "Selamat siang, Pak," sapa Kiara kembali.

__ADS_1


Detik berikutnya, laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya. Melihat sosok yang berdiri di depannya, Kiara pun tak dapat membendung lagi air matanya. Butiran bening itu, lolos begitu saja tanpa permisi.


"Kau jahat, Kak."


__ADS_2