
"Kiara sadar, Kiara!" panggil Arron. Tetapi gadis itu tak menjawab perkataan Arron. Bahkan Kiara cenderung tak mengerti, dia malah langsung melingkarkan tangannya di tengkuk Arron dan mencium bibirnya dengan begitu rakus.
Kiara menyesapnya, melummat dan mengabsen rongga mulut Arron. Sebenarnya, laki-laki itu pun begitu terkejut melihat tingkah Kiara. Dia tak menyangka, malam ini akan berciuman dengan Kiara, dan Kiara lah yang memulainya.
Sejenak, dia terpaku dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu, lebih tepatnya syok dengan ciuman pertama mereka. Arron yang sadar tingkah Kiara akibat pengaruh dari obat perangsang, bergegas melepaskan ciuman mereka, lalu membopong tubuh wanita itu dalam pelukannya.
Sedangkan Kiara, terus memeluk Arron, dia mengecup leher laki-laki itu, bahkan sesekali menjilat daun telinga Arron hingga membuat bulu kuduk Arron meremang.
Bagaimanapun juga, Arron adalah seorang laki-laki normal, mendapat perlakuan seperti itu dari Kiara, tentunya naluri kelaki-laki seakan membuncah. Akan tetapi, sebisa mungkin Arron meredam hawa nafsu yang menyelimutinya.
Saat ini, yang ada di pikiran Arron adalah harus membawa Kiara ke rumah sakit, agar obat perangsangnya kembali netral. Setelah meletakkan tubuh Kiara di jok mobilnya, Arron memasangkan sabuk pengaman, lalu melepaskan jaketnya dan mengikat tubuh Kiara supaya tidak terlalu banyak bergerak.
Akan tetapi, saat mengecek lokasi rumah sakit dengan menggunakan Google Maps, ternyata rumah sakit di daerah sekitar villa, masih sangat jauh. Arron pun merasa begitu panik, apalagi saat dalam perjalanan, Kiara terus merancau, dan mendessah.
Tangannya pun menjamah tubuh Arron hingga membuat pemuda itu tak bisa konsentrasi dalam mengendarai mobilnya. Pada akhirnya, Arron pun menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang gelap dan sepi, karena memang saat itu sudah larut malam.
"Kiara, tolong diam! Jangan banyak bergerak!"
__ADS_1
Arron berusaha mengikat dengan ikatan yang lebih kencang, namun gadis itu tetap berusaha melawan. Tangan Kiara semakin nakal menjamah setiap inchi tubuh Arron.
"Panas tolong!"
Kiara berusaha melepaskan ikatan jaket Arron dari tubuhnya, disertai air mata yang membasahi wajah cantiknya. Melihat raut wajah Kiara yang sangat tersiksa, Arron pun merasa kasihan. Sebenarnya, udara puncak saat itu begitu dingin. Namun, Kiara yang sudah tak sanggup menahan gejolak hasratnya, merasa tubuhnya sangat panas dan butuh sentuhan.
Dengan menggerakkan kepalanya, Kiara pun menyibak rambutnya ke belakang. Tampak peluh menetes, luruh pelan-pelan dari tengkuknya. Gadis itu benar-benar tidak kedinginan, dan justru sangat kepanasan.
Arron menggeleng pelan melihat tingkah Kiara, biasanya wanita itu terlihat malu-malu dan polos. Akan tetapi, sekarang dia tampak begitu nakal. Bahkan, raut wajahnya tampak begitu menggoda. Sesekali, Kiara juga mengedipkan matanya, lidahnya pun dia mainkan, seolah sedang menggoda Arron.
Sebagai seorang pria normal, tentunya Arron merasa sangat terganggu dengan pemandangan yang ada di depannya. Apalagi, saat ini keringat itu sudah menetes pelan dari tengkuk Kiara dan mengalir turun sampai ke belahan dadanya. Tak hanya itu, wajah Kiara pun semakin memerah, dadanya yang sekal naik turun dengan cepat.
Apalagi, tingkah Kiara seakan sudah tak sanggup lagi menahan nafsunya. Tubuh Arron pun memanas, detak jantunya kini tak kalah cepat dengan debaran jantung Kiara. Namun, lagi-lagi, Arron menggelengkan kepalanya dan mencoba kembali berusaha pada kewarasanya.
"Tampan, tolong sentuh aku!" Kiara tersenyum sembari menggigit sedikit lidahnya, seakan sedang menggoda. Laki-laki itu pun mengeleng, dan tersenyum manis menghadapi tingkah gadis itu yang seperti kucing liar.
"Tampan, tolong cium aku seperti tadi. Aku ingin menciummu tampan," rancau Kiara.
__ADS_1
Wajah itu pun semakin memerah, tetapi justru terlihat sangat imut di mata Arron dan membuat laki-laki itu seakan ingin menerkamnya.
"Aw tampan, apa kau tidak tertarik padaku? Ayo kita bersenang-senang tampan, aw aw aw. Apa kau tidak ingin mencumbu bibirku? Bibirku sangat manis, lidahku juga. Kau pasti candu kalau sudah menyentuhku."
Tubuh Kiara terus bergerak, sehingga membuat ikatan di tubuhnya sedikit longgar, tangan nakal Kiara pun mulai menjamah tubuh Arron kembali.
"Come on honey, ah. I'm sure you will definitely like it," ujar Kiara sambil megedipkan matanya dan menjulurkan sedikit lidahnya.
Tak tahan melihat godaan yang ada di depan matanya, akhirnya Arron pun mengecup pelan bibir Kiara.
"Lagi, lagi!" pinta Kiara dengan tatapan mengiba. Tak munafik godaan itu sebenarnya begitu berat bagi Arron, dan dia pun bisa melakukan lebih dari itu.
"Come on honey, i like it!" rancau Kiara. Akhirnya, Arron pun mulai melajukan mobilnya, dan mencoba mengabaikan perkataan dan sikap Kiara, meskipun wanita itu terus menggodanya dengan gerakan ataupun perkataan sensualnya.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di sebuah hotel. Karena letak rumah sakit masih terlalu jauh, dan tentunya Arron sudah tak tahan lagi dengan semua sikap Kiara, Dia pun akhirnya memutuskan membawa Kiara ke hotel.
Keduanya, kini sudah di lobi, lalu berjalan ke arah resepsionis untuk melakukan reservasi. Arron berjalan, memeluk pinggang Kiara yang saat ini tampak menyenderkan kepalanya pada bahu laki-laki itu. Sebenarnya, tingkah keduanya menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ada di lobby hotel tersebut. Akan tetapi, Arron berusaha cuek.
__ADS_1
Setelah Arron dan Kiara berlalu dari resepsionis, beberapa orang pun tampak bergumam lirih. "Dasar, remaja jaman sekarang, belum apa-apa sudah berbuat hal yang tidak-tidak di hotel. Bagaimana kalau orang tua mereka tahu apa yang mereka perbuat sekarang?"
Sementara Arron dan Kiara, saat ini sudah berada di lift menuju ke kamar yang telah dipesan. "Tampan, tolong cium aku lagi, aku mau lagi, lagi, lagi dong."