
Sebenarnya Kiara merasa kesal, tapi mau tak mau dia memang harus tetap berada di Jakarta untuk mempersiapkan segala keperluannya sebagai mahasiswi baru. Belum lagi janjinya dengan Arron.
"Kamu ngapain diem, Ara? Daripada kamu diem-diem gitu, mending kamu mandi, ganti baju, dandan yang cantik, terus kita makan malem!" sahut Arron saat melihat Kiara yang hanya termenung setelah kepergian Tya dan Kevin. Gadis itu pun menoleh ke arah Arron yang saat ini menatapnya sambil tersenyum, sebuah senyum kemenangan, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa risih dengan kehadiran Arron dalam hidupnya.
"Yuhu... Kiara!"
"Iya, iya, bawel banget sih!" gerutu Kiara, lalu masuk ke dalam kamar.
Setengah jam telah berlalu, Kiara pun keluar dari kamar dengan menggunakan midi dress warna biru donker serta sapuan make up minimalis di wajahnya. Sontak, hal itu tentu saja membuat Arron membelalakkan matanya sambil meneguk salivanya dengan kasar saat melihat kecantikan Kiara. Meskipun, Kiara tampak belum ahli berdandan, tetapi tak mengurangi sedikitpun kecantikan di wajahnya.
"Ayo Kak, kita pergi sekarang!" ucap Kiara yang membuyarkan lamunan Arron. Tetapi, laki-laki itu hanya terdiam, sambil menatap Kiara dengan tatapan penuh damba.
"Kak Arron!"
"I-iya Ara," jawab Arron. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu menggandeng tangan Kiara. "Apa-apaan ini, Kak. Aku nggak mau digandeng gini! Aku bisa jalan sendiri kok!"
"Tapi aku nggak bisa Ara, aku nggak bisa jalan sendiri tanpa genggaman tanganmu. Truk aja gandengan, masa kita nggak? Cie, cie, cie..."
"Apaan sih?" protes Kiara. Tetapi, Arron tetap menggandeng tangan Kiara, menuntunnya masuk ke dalam mobil. Saat tengah mengemudikan mobilnya, dering ponsel Arron tampak beberapa kali berbunyi. Laki-laki itu hanya melihat sekilas layar ponselnya, lalu menaruh kembali ponsel itu di dasboard mobil.
"Kok nggak diangkat? Pacar kamu ya?"
"Bukannya aku udah cerita ke kamu kalo aku nggak punya pacar," jawab Arron datar seraya terus fokus mengemudikan mobilnya. "Tapi kasihan, Kak. Dia telepon kamu terus, kayaknya penting loh."
"Ya udah kamu aja yang angkat, bilang kalo aku lagi sibuk nggak bisa angkat telepon."
"A-apa? Aku?"
"Iya kamu, tolong angkatin teleponnya!" perintah Arron, dan entah mengapa diiyakan saja oleh Kiara. Gadis itu pun mengangkat panggilan telepon pada ponsel Arron.
__ADS_1
[Halo Arron.]
[Halo maaf, Kak Arron sedang sibuk. Ini siapa?] Mendengar jika yang mengangkat panggilan telepon seorang wanita, Queen pun memutus panggilan telepon itu. "Yang angkat cewek? Arron lagi sama cewek lain? Siapa dia? Apa dia yang udah bikin Arron menjauh dariku?" gumam Queen.
Sementara itu, Arron yang melihat Kiara sudah meletakkan ponsel miliknya kembali di dasboard mobil tampak tersenyum kecut. "Dia ngomong apa?"
"Nggak ngomong apa-apa, langsung dimatiin."
"Sudah kuduga," balas Arron sambil tersenyum simpul. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di restoran yang mereka tuju. Saat Kiara akan membuka pintu mobil, pintu mobil Arron tampak masih terkunci, Kiara pun menoleh pada Arron yang menatapnya dengan tatapan nakal.
"Apa? Kenapa pintunya masih dikunci, Kak?" Arron memainkan matanya. "Kiss dong!" sahut Arron dengan tatapan nakalnya.
PLAK
"Awww Kiara... Galak banget sih, aku kan cuma becanda."
"Becanda kamu nggak lucu, Kak. Nggak usah ngomong yang nggak-nggak lagi atau aku pulang sekarang!"
***
Queen yang saat ini sudah sampai di rumah Arron tampak menghambur ke pelukan Inez seraya menangis. Mendapat pelukan tiba-tiba disertai isakan, Inez pun merasa terkejut. "Queen kamu kenapa?"
"Tante, Arron... Hiks, hiks, hiks..."
"Ada apa, Queen? Arron kenapa? Dia nolak ajakan kamu lagi? Biar nanti tante yang ngomong ya!"
"Nggak, cuma itu. Arron malah pergi sama cewek lain, kayaknya dia pacar Arron deh, Tante."
"A-apa? Arron lagi sama wanita lain? Kamu tahu darimana, Queen?"
__ADS_1
"Aku denger sendiri, Tante. Dia yang angkat telepon, waktu aku telepon Arron, terus ngomong Arron lagi sibuk."
"Apa?"
"Iya Tante, aku denger sendiri."
Inez kemudian mengurai pelukan Queen, lalu menatap gadis itu. "Queen, tante nggak mau hubungan mereka semakin dalam, kita harus mengakhiri hubungan mereka, kamu mau kan bantuin, Tante?" Queen pun menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, nanti malam kamu menginap di sini saja ya, kita harus membuat rencana agar Arron tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita selain kamu."
"Iya Tante."
***
Malamnya...
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Arron tampak masuk ke dalam rumah sambil menyunggingkan senyumannya. Hari ini, dia merasa begitu bahagia bisa makan malam berdua dengan Kiara. Apalagi, setelah makan malam itu, Kiara juga menyanggupi ajakannya untuk pergi berjalan-jalan ke taman hiburan. Bisa dibilang, ini adalah kencan pertamanya dengan Kiara, dan dia menikmati saat-saat itu. Meskipun, acara kencan hari ini juga dipenuhi oleh makian dan umpatan kesal dari Kiara, Arron tidak mempermasalahkan semua itu, karena dia yakin, suatu saat nanti pasti Kiara akan luluh padanya.
"Dari mana kamu, Arron?" Sebuah suara pun menghentikan langkah Arron. Dia menoleh dan melihat Inez yang sudah berdiri di belakangnya. "Mama, mama belum tidur?"
"Arron, pertanyaan mama saja belum kau jawab, kenapa kau malah bertanya balik pada mama? Kau habis dari mana? Kenapa kau pulang larut malam seperti ini?"
"Pergi sama teman, Ma."
"Teman yang mana, Arron? Laki-laki atau perempuan?" Arron pun mengerutkan keningnya. "Apa pentingnya buat mama?"
"Arron, apa kamu lupa? Sejak kecil kamu sudah dijodohkan dengan Queen? Kau tidak boleh bersikap semaumu, Arron! Ingat, kau harus membatasi pergaulan dan mengutamakan perasaan Queen. Coba pikir bagaimana perasaan Queen saat kau terus menghindar darinya, bahkan kau lebih memilih pergi bersama wanita lain! Kalau kamu sayang dengan mama, tolong hentikan semua ini, Arron!"
"Ma, apa mama lupa, aku tidak pernah menyetujui perjodohan ini. Jadi, aku tidak harus menuruti hal yang tidak pernah aku setujui sebelumnya!" balas Arron, lalu berjalan menuju ke kamarnya. Meninggalkan Inez yang masih berdiri termenung.
Arron yang sudah memasuki kamar, tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun, karena kondisi kamar itu gelap, tanpa dia sadari ada sosok wanita yang saat ini juga berada di kamar tersebut.
__ADS_1
"Selamat malam, Arron, selamat tidur. Semoga mimpi indah, sampai bertemu besok pagi," ucap wanita tersebut saat melihat Arron yang saat ini sudah terlelap. Dia kemudian berjalan, lalu merebahkan tubuhnya di samping Arron, dan meletakkan kepalanya di atas dada bidang laki-laki itu.