Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Seperti Hantu


__ADS_3

Aaron meletakkan jari telunjuk di bibirnya seraya memberi kode melalui gerakan matanya agar Kiara tetap bersikap tenang.


[Ya, memang aku ambil cuti hari ini karena urusan pekerjaanku sudah selesai, dan sekarang aku sedang menikmati liburan di Bandung untuk merilekskan tubuhku. Rasanya satu minggu ini, pekerjaanku begitu banyak dan aku membutuhkan waktu untuk me time sebentar.]


[Jadi, kamu mengambil cuti hanya untuk bersenang-senang sendiri. Lalu, kau anggap apa aku dan Darel?]


[Kenapa kau bicara seperti itu? Apakah aku tidak boleh meluangkan waktuku sebentar saja untuk menghilangkan rasa penat dalam menghadapi pekerjaanku? Coba kau pikir, saat aku berada di rumah, bukankah aku selalu bermain dengan Derel? Sedangkan kau, hanya bisa pergi dengan teman-teman sosialitamu itu kan? Lalu, apa sekarang aku tidak boleh memiliki waktu untuk bersantai sebentar sebelum kembali disibukan oleh pekerjaan dan juga putraku?]


Queen hanya terdiam, memang yang dikatakan Arron ada benarnya, selama ini pekerjaan suaminya itu begitu banyak dan setelah sampai di rumah, dia pun disibukkan dengan Darel yang begitu manja padannya. Dan sekarang, saat dia memilih untuk berlibur sendiri itu adalah haknya, namun rasanya tetap saja begitu menyakitkan bagi Queen. Karena hal itu, sama saja tidak menganggap dirinya ada. Ralat, sejak pertama menikah memang dia tidak pernah dianggap ada oleh Arron.


[Sudah ya, aku tutup dulu teleponnya. Besok aku pulang.] Arron lalu menutup sambungan telepon itu, membuat Queen merasa kesal, lagi-lagi suaminya mengabaikannya, mengabaikan jiwa dan perasaannya.


Wajah cantik itu tak hanya muram, tetapi juga penuh amarah. Arron selalu saja bersikap seperti itu. Tetapi, Queen pun sadar, hal itu merupakan konsekuensi dari pernikahan yang sebenarnya sangat dipaksakan.


Awalnya, Queen berpikir akan mudah meluluhkan hati Arron setelah mereka menikah, namun nyatanya tidak. Laki-laki itu, tetap saja bersikap dingin padanya.


Sedangkan di ujung sambungan telepon, Arron menatap Kiara sambil tersenyum. "Bagaimana? Semuanya sudah beres kan?"


"Dasar nakal, setelah ini kau harus pulang ke rumahmu, Mas."


"Ya, setelah pulang ke rumah, aku kembali ke rumah ini lagi. Hahaha..."


"Mas, ingat anak dan istrimu."


"Bagaimana kalau kamu jadi istriku lagi, Ara?"


"Enak saja, aku tidak mau dipoligami oleh laki-laki hidung belang sepertimu, Mas."


"Apa? Hidung belang? hidung belang dari mana? Aku cuma nakal kalo sama kamu kok, seperti ini," ujar Arron, lalu mengecup bibir Kiara seraya mengelus pipinya.

__ADS_1


"Ah manis, seperti biasanya," sambung Arron, lalu melummat bibir tipis itu lagi. Keduanya pun tersenyum di sela paggutan mereka. Arron sudah tak peduli lagi dengan ponsel yang terus berdering, laki-laki itu terlalu terbuai dengan kenangan juga cintanya pada Kiara. Sosok yang menjadi cinta pertama, dan begitu ia rindukan selama 7 tahun terakhir ini.


Kiara tiba-tiba kembali muncul dalam beberapa bulan terakhir, dan membawa kenikmatan dunia, hingga membuat Arron lupa kalau saat ini dia punya istri dan juga malaikat kecil di rumah yang selalu menanti kepulangannya. Sore ini, lagi-lagi dia memilih untuk berpeluh dengan Kiara, memilih untuk menggapai kepuasan yang berbalutkan dosa.


"Ah, Mas."


"Kiara, aku cinta sama kamu."


Nama keduanya saling bersahutan, begitulah cinta yang mereka rasakan. Sebuah cinta di balik dosa.


***


Di sebuah klub malam. Queen tampak menghabiskan waktunya di tempat itu bersama teman-teman sosialitanya yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA. Queen terlihat begitu galau, dia merasa hidupnya sangat hampa, meskipun sudah menikah tetapi dia seperti menjalani hidupnya sendiri. Apalagi, jadwal pekerjaan Arron begitu padat hingga membuatnya sering kali kesal, Arron tidak pernah meluangkan waktu untuknya. Dan parahnya, saat ini laki-laki itu malah memilih pergi berlibur sendiri ke Bandung. Hal itu, sangat menyakitkan baginya.


Tak hanya itu, sejak berumah tangga, Arron bahkan terkesan menghindar. Arron selalu pergi saat dia bangun, dan pulang saat Queen sudah tidur. Lalu, ketika hari libur suaminya itu hanya menyempatkan diri untuk bermain bersama putra mereka, dan tidak ada waktu untuk dirinya sama sekali. Arron seakan tidak peduli lagi dengan keberadaan Queen dan juga pernikahan mereka.


"Kau rasanya seperti hantu, Arron," keluh Queen di dalam hatinya. Dia sudah menghabiskan dua gelas alkohol dan membuatnya mulai meracau. Diiringi musik yang mengalun dengan keras, dua orang temannya Celine dan Diana, bergoyang mengikuti suara musik, sementara Queen hanyut dalam buaian alkohol.


"Apa kabar? Lama tak melihatmu," sapa Diana.


"Baik, dan sekarang kami pacaran," jawab Marco seraya memeluk Celine.


"Wah, selamat ya. Semoga cepat menikah," ujar Queen dengan nada sarkastik.


"Nikah? Hahaha ... Kami nggak mau nikah dan hidup menderita kayak kamu, Queen," ujar Celine. Dia pun tahu, jika Queen tidak pernah hidup bahagia dengan Arron. Queen pun tersenyum sinis.


"Apa suamiku masih belum bisa melupakan wanita sialan itu?"


"Wanita sialan? Apa maksud kamu wanita yang beberapa kali kita jebak dulu?"

__ADS_1


"Ya siapa lagi," jawab Queen sambil meneguk alkohol.


"Kalian tahu nggak sih, wanita sialan itu sekarang di mana? Lalu gimana keadaannya?"


Mendengar pertanyaan Queen, ketiga temannya pun menggeleng pelan. "Mana kita tahu, emang kita ibunya. Duit kamu kan banyak tuh, mending kamu pakai duit kamu buat cari dia." Celine memberi ide, dan hal itu dijawab dengan anggukan oleh Queen.


"Bagaimana kalau aku yang cari," sahut Marco. "Tapi, ini bayarannya nggak murah loh."


"Oke, aku cuma mau memastikan di mana dia sekarang. Sekaligus, memastikan apakah dia masih berhubungan dengan Arron. Berapapun, akan aku bayar. Aku harus bisa memastikan agar wanita itu jauh-jauh dari kehidupan suamiku, kau mengerti kan?" ujar Queen, seraya melirik sinis pada Marco.


Laki-laki itu pun mengangkat gelas pada Queen, lalu disambut disambut kedua temannya, hingga gelas itu berdentang nyaring.


"CHERS!"


***


PLAK


Saat baru saja sampai di rumah, sebuah tamparan mendarat di pipi Arron, hingga membuat laki-laki itu kaget sekaligus syok. Setelah bertahun-tahun menjadi anak dari seorang Inez Hendrawijaya, baru kali ini Arron mendapatkan sebuah tamparan.


Pria itu, lalu mengangkat alisnya sebelum akhirnya menatap Inez penuh rasa ingin tahu. Pedih dan panas yang ada di pipinya, tak membuat Arron gentar.


"Kenapa tiba-tiba Mama memukul Arron?"


"Kamu masih bertanya? Apa kau tidak sadar, sudah menelantarkan anak dan istrimu? Apa itu bisa disebut sebagai laki-laki yang bertanggung jawab? Mama benar-benar malu memiliki anak sepertimu Arron," ujar Inez.


Detik itu juga, Arron pun menyadari drama yang kembali dimainkan oleh Queen. Dia kemudian melirik ke arah sofa, dan melihat Queen yang saat ini sedang menangis. Arron pun sadar, wanita itu pasti kembali mengadu pada ibunya. Ya, seperti itulah yang dilakukan oleh Queen sejak dulu. Inez selalu menjadi tempat berlindung baginya, meskipun terkadang apa yang diceritakan pada Mamanya itu hanya sebuah kebohongan dan kepalsuan.


"Oh jadi Mama marah padaku? Bukankah aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang suami? Lalu, coba Mama tanyakan sendiri pada Queen, apa dia sudah melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dengan benar? Coba Mama tanya, apa tadi malam Queen berada di rumah dan menemani Darel? Asal Mama tahu, setiap malam dia juga meninggalkan putraku di rumah, dan memilih bersenang-senang dengan teman-temannya. Ups, tidak setiap malam, bahkan hampir setiap hari dia bersenang-senang dengan teman-teman sosialitanya, dan meninggalkan Darel sendiri. Benar kan, Queen?" tanya Arron disertai seringai tipis di wajahnya.

__ADS_1


Inez pun menoleh pada Queen seraya mengurutkan keningnya. "Oh, tidak Ma. Aku tidak seperti itu, setiap saat aku selalu menjaga Darel."


__ADS_2