
Dua Minggu Kemudian...
Mentari pagi masuk melalui bilik jendela. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Tetapi, Kiara masih tertidur begitu lelap, setelah semalaman dia terus terjaga karena merasa gugup menjalani masa orientasi.
"Ara.. Ara... bangun, udah siang!" panggil Tya.
"Emh, iya sebentar, Kak."
"Sudah siang Ara, kamu mau terlambat ke kampus? Hari ini, hari pertama orientasi loh!"
Dengan malas Kiara beranjak dari tempat tidur. Dan ketika dia membuka kamar, tampak Tya sedang menikmati sarapan. Melihat Kiara yang keluar dari kamar, dia pun berdecak kesal. "Ck, kamu gimana sih? Kok jam segini baru bangun? Jam 7 udah mulai loh!" Kiara hanya meringis lalu memilih untuk sarapan terlebih dulu.
"Kalau sudah selesai buruan kamu mandi, ini udah siang loh Ara, bisa-bisa kamu terlambat."
"Siappp Bos!" jawab Kiara sambil mengedipkan mata. Setelah selesai sarapan, Kiara masuk ke dalam kamar mandi dan mandi begitu cepat karena dia pun merasa takut jika sampai terlambat. Hari ini, adalah hari pertama dirinya masuk perguruan tinggi dan merupakan hari orientasi mahasiswa baru, tentu bisa berakibat fatal jika sampai terlambat.
Setelah turun dari ojek online, Kiara berlari memasuki gerbang kampus, dia memang hampir saja aku terlambat karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Di saat itulah, tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.
"Arg.., maaf. Saya sedang tergesa-gesa," ujar Kiara sambil berlalu begitu saja tanpa melihat sosok lelaki yang baru saja ditabraknya.
Laki-laki itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lalu beranjak pergi. "Lancang sekali dia pura-pura nggak kenal sama aku?" gumamnya.
Sesampainya di aula kampus, suasana sudah gaduh. Lia, calon mahasiswi baru yang beberapa hari lalu dikenal Kiara saat melihat-lihat area kampus bergegas menghampirinya.
"Aduh Kiara, kemana aja sih? Ini hari pertama orientasi loh, kalau telat bisa mampus kamu dikerjain senior."
"Tadi aku bangunnya kesiangan, semaleman ga bisa tidur, grogi sampe lupa waktu."
"Dasar, ada-ada aja deh!" Kiara hanya bisa meringis.
__ADS_1
Akhirnya, acara orientasi mahasiswa baru pun dimulai, Lia mencolek Kiara yang sedang membalas pesan Tya, saat melihat seorang kakak angkatan yang masuk.
"Kia itu liat, cowo ganteng banget!" bisik Lia. Spontan Kiara pun mengangkat wajahnya, dan melihat sosok yang dimaksud Lia adalah Arron. "Apa? Dia lagi?" gumam Kiara.
"Kenapa Ara? Kamu kenal sama dia?"
"Nggak! Males gue liat cowok kaya dia!" balas Kiara, sembari mengingat tingkah Arron saat terakhir mereka bertemu, ketika makan malam. Laki-laki itu acap kali melontarkan candaan dan gombalan yang membuat Kiara risih. Tak hanya itu saja, Arron pun sempat mencuri kecupan di pipinya saat dia akan pulang. Tentu saja, hal tersebut membuat Kiara makin kesal.
"Loh dia ganteng kok."
"Bodo!" jawab Kiara sambil mencibir. "Lagian bukannya dia udah selese kuliah S1? Kenapa juga masih jadi panitia orientasi! Dasar modus!" gumam Kiara kembali.
Kiaara mengamati teman-temannya yang ada di ruangan itu, dan mereka tampak begitu terpukau dengan sosok Arron yang terdiri di depan. Sekilas Kiara pun ikut mengamati laki-laki tersebut, memang benar kata Lia, dia memang sangat tampan, tubuhnya tinggi dan kulitnya putih bersih, hidungnya mancung disertai rahang yang tegas dan sorot mata tajam, serta senyumnya yang begitu menawan, memang membuat setiap wanita tertarik padanya, kecuali Kiara yang sudah merasa illfeel sejak pertama kali bertemu.
Namun, saat tengah menatap Arron, laki-laki itu balas menatap Kiara hingga tatapan mereka bertemu pada satu titik. Arron pun tersenyum, disertai gerakan bibir yang sekan sedang menggoda Kiara. "Astaga! Kenapa aku ikut-ikutan liatin dia! Buaya darat itu pasti GR," gumam Kiara.
Sedangkan Kiara yang melihat pemandangan yang ada di depannya hanya bisa tertegun. "Siapa wanita itu? Apa dia pacar Kak Arron? Atau dia wanita yang malam itu menelepon Kak Arron? Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! Pasti dia udah nyakitin hati wanita itu! Kasihan!" gumam Kiara.
"Ara, kamu kenapa sih? Kok malah ngelamun? Cemburu sama cewek tadi?"
"Dih, apaan sih! Kebelet pipis nih, aku ke belakang dulu ya!"
"Jangan lama-lama, Ara!"
"Nggak!"
Sementara itu, di luar Aula, tampak Arron yang sedang menatap tajam disertai rasa kesal pada Queen yang tiba-tiba masuk begitu saja ke dalam aula. "Kamu ngapain sih pake masuk ke dalam?"
"Arron bukannya kamu udah selese kuliah? Ngapain kamu jadi panitia orientasi dan terus menerus hindarin aku?"
__ADS_1
"Memangnya salah? Bukannya aku juga masih jadi mahasiswa pasca sarjana di sini? Nggak ada salahnya dong?"
"Arron, aku minta maaf kalo kejadian malam itu bikin kamu marah. Tapi tolong jangan menghindar dariku kaya gini."
"Cukup Queen, aku nggak mau inget-inget malam itu lagi. Anggap saja aku udah maafin kamu! Tapi kamu nggak berhak ikut campur hidupku, karena kita hanya sebatas teman, dan tolong kau pahami itu! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga!"
"Tapi Arron... Apa dia ada di sini? Apa wanita yang kamu sukai ada di kampus ini?" lirih Queen dengan tatapan sendu.
"Itu bukan urusanmu!"
"Jadi urusanku karena kita sudah dijodohkan sejak kecil Arron!" balas Queen dengan setengah berteriak. Tepat disaat itulah, Kiara keluar dari aula dan menatap Arron dan Queen bergantian, disertai tatapan datar.
"Kiara, kamu mau kemana?" tanya Arron dengan begitu ramah. Namun, hanya dibalas senyuman oleh Kiara. Lebih tepatnya, senyuman terpaksa karena ada Queen. "Maaf kalau mengganggu, saya mau ke belakang. Permisi!" sahut Kiara, sambil berlalu meninggalkan Arron dan Queen.
"Ara tunggu, aku anter biar ngga tersesat!" ujar Arron, lalu meninggalkan Queen yang masih berdiri dan menatap kepergian laki-laki itu dengan tatapan datar.
"Kiara? Ini baru hari pertama orientasi. Kenapa Arron udah kenal sama dia? Ya, aku yakin pasti dia orangnya. Pasti dia wanita yang kencan sama Arron malam itu, sekaligus wanita yang udah rebut perhatian Arron. Ini nggak bisa dibiarin, aku harus ikut dalam kepanitiaan mahasiswa baru. Kiara? Ya, dia harus mendapat balasan dariku, akan kukerjai wanita sialan itu di malam keakraban!" geram Queen.
***
Di sisi lain.
"Kamu ngapain sih pake nganter segala? Aku udah gede, nggak bakalan tersesat!" protes Kiara.
"Kamu emang nggak tersesat, tapi Abang yang udah tersesat di hati kamu, Ara. Cie, cie, ciee!"
"GOMBAL!"
BUGH
__ADS_1