Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Janji


__ADS_3

Ara kamu ngomong apa sih?" tegur Tya, seraya menatap Kiara dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Itu Kak, ada orang gila!" balas Kiara, jari telunjuknya mengarah pada Arron yang terkekeh melihat tingkah Kiara. "Kiara, kok kamu ngomong gitu sih? Itu nggak sopan namanya. Dia Arron, teman Kak Kevin yang mau ajarin kamu belajar. Kamu nggak boleh ngomong gitu ke orang yang baru kamu kenal!"


"Apa? Ja-jadi aku harus belajar sama orang gila kaya dia, Kak? Nggak, aku nggak mau belajar sama orang kaya dia."


"Kiara, kamu ngomong apa sih, kamu nggak boleh sembarangan sebut Arron gila lagi, dia itu pinter loh, mahasiswa berprestasi di kampus kakak, kamu harusnya ngrasa beruntung Arron mau bantuin kamu belajar. Pokoknya kamu nggak boleh kaya gitu lagi. Sekarang, minta maaf!"


"Nggak, Ara nggak mau belajar sama dia!"


"Itu artinya kamu kehilangan kesempatan untuk kuliah di Universitas yang sama kaya kakak, karena kita cuma bisa minta tolong ke Arron."


"Tapi kenapa harus dia, Kak? Kenapa nggak Kak Tya atau Kak Kevin aja?"


"Ara, kamu bawel banget sih. Kak Tya sama Kak Kevin masih ngerjain skripsi, sedangkan Arron semua tahapan kuliah udah selese. Dia cuma lagi nunggu jadwal kuliah S2-nya saja. Cuma dia yang punya waktu buat ajarin kamu. Kamu ngerti kan?"


Kiara menggela napas pelan, seraya melirik pada Arron yang tengah menatapnya sambil terkekeh, raut kemenangan tercetak jelas di raut wajah laki-laki tampan itu. Kiara pun sebenarnya mengakui jika dia memang tampan, tapi pertemuan pertama dengannya meninggalkan kesan illfeel dalam benak Kiara, sehingga membuatnya jengah jika harus berhadapan dengan laki-laki itu.


"Gimana Kiara, kamu mau kan diajarin Arron?"


Sekali lagi, Kiara mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya seraya memejamkan matanya. "Bukankah tidak ada pilihan lain?"


Tya dan Kevin pun saling berpandangan sambil tersenyum. "Anak pintar, kalo gitu kakak tinggal sebentar ya. Kakak mau pergi ke toko buku sebentar buat cari literatur."


"Bilang aja mau pacaran," lirih Kiara. "Kamu ngomong apa, Ara?"


"Lama juga nggak apa-apa, Kak."


"Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata kamu juga pengen berduaan sama aku juga kan, Ara?" sahut Arron. "Ge-er!" Mata Kiara spontan mendelik disertai mulut yang komat-kamit mendengar perkataan Arron.


"Udah Ara, kamu yang jinak dong. Kakak pergi dulu ya, kamu belajar yang baik sama Arron."


Kiara pun menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan Arron yang saat ini tampak mengangkat salah satu alis seraya menarik sudut bibirnya. Setelah Tya dan Kevin pergi, laki-laki itu mendekat pada Kiara.


"Kita mulai sekarang ya, Ar?"


"Panggil aku Ara, jangan cuma Ar. Ambigu banget sih!"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Bagus kan Ar, sama kaya aku. Nama kita diawali sama kata Ar. Kamu tahu nggak Ar itu apa?"


Kiara menatap Arron dengan tatapan tanda tanya. Kiara yakin, jika laki-laki itu pasti akan melontarkan hal yang tidak-tidak lagi. "Ar? Apaan sih? Jangan ngaco deh."


"Pengen tau nggak artinya apa?" sahut Arron yang mulai tersenyum nakal. "Emang apa? Pasti nyleneh lagi nih."


"Nggak kok kali ini serius. Ar itu artinya "Akan Resmi" jadi kita berdua akan resmi, Ara. Hahahaha... Cie, cie, cie. Dari nama aja udah jadi kode alam kalo Ara itu akan resmi sama Arron. Cie, cie, cie..."


"Dasar gila," gumam Kiara. "Gila karena kamu. Aw, aw, aw..."


"Diam Kak, kamu jadi ngajarin aku apa nggak? Awas kalo aku nggak diterima, kamu yang tanggung jawab."


"Tanggung jawab? Kebalik Ara harusnya kamu yang minta tanggung jawab sama kamu. Terus kita mau bikin kapan, biar kamu bisa minta tanggung jawab ke aku."


"KAK ARRONNNNNN!"


BUGH BUGH


"Ampun Ara, galak banget sih! Sakit tau!"


"Lemah banget sih, cuma dipukul sama bantal doang kok. Udah cepet ajarin, nggak usah kebanyakan ngomong deh!"


"Cih! Orang gila," gumam Kiara disertai tatapan mata tajam pada Arron. Detik selanjutnya, laki-laki itu pun mulai fokus mengajari Kiara soal-soal panduan ujian masuk ke Universitas tersebut. Meskipun, sesekali Arron tampak melirik Kiara dan mengagumi kecantikan wajahnya yang sudah membuatnya terpesona sejak pertama mereka bertemu.


"Coba kamu kerjain soal-soal ini, Ara!" perintah Arron. "Iya Kak." Kiara pun mengerjakan latihan soal yang diperintahkan oleh Arron. Sedangkan laki-laki itu, menatap wajah cantik Kiara tanpa berkedip.


Saat tengah asyik mengamati Kiara yang sedang serius mengerjakan soal-soal, tiba-tiba ponsel Arron berbunyi. Dia pun mengambil ponselnya dan melihat nama sahabatnya yang tertera di atas layar.


[Halo Queen.]


[Ar, kamu dimana? Aku udah di rumah kamu, mama kamu yang undang aku ke rumah buat makan malem. Kamu buruan pulang ya!]


[Maaf Queen, malam ini aku nggak bisa makan malam di rumah. Aku ada urusan di luar sama Kevin.]


[Loh kok kamu gitu sih? Aku udah di rumah kamu loh, Ar.]


[Maaf Queen, aku nggak bisa pulang sekarang. Lagi pula, yang undang kamu kan mama aku, bukan aku. Jadi, nggak ada kewajiban untuk nemuin kamu di rumah kan?]

__ADS_1


[Tapi Ar...]


[Maaf Queen, aku lagi sibuk.] Arron menutup panggilan telepon itu, lalu atensinya tertuju pada wajah cantik Kiara kembali yang saat ini sudah selesai mengerjakan soal latihan.


"Udah selese nih, Kak."


"Sini aku lihat," sahut Arron, sambil mengambil soal latihan yang baru saja dikerjakan oleh Kiara. Saat Arron tengah mengoreksi soal yang dikerjakan oleh Kiara, atensi Kiara tertuju pada vibrasi ponsel milik Arron yang terus menerus bergetar.


"Kak, sepertinya ada yang telepon. Angkat dulu, Kak. Siapa tahu penting."


"Biarin aja," jawab Arron singkat, namun matanya tetap tertuju mengoreksi soal-soal yang dikerjakan Kiara. "Pacar?"


"Bukan. Aku nggak punya pacar, cuma punya calon pacar."


"Oh..."


"Kok cuma oh sih?"


"Emang harus jawab apaan?" ketus Kiara yang lagi-lagi mulai kesal dengan Sikap Arron. "Kamu nggak pengen tau siapa calon pacar aku?"


"Apa pentingnya buat aku?"


"Penting Ara, karena calon pacar aku itu kamu. Hahahaha..."


"Dasar gila," geram Kiara seraya menepalkan tangannya. Sedangkan Arron tampak mengedipkan matanya. "Tuhan, kapan penderitaan ini akan berakhir," batin Kiara.


***


Sementara itu, di ujung sambungan telepon Queen tampak mendaratkan tubuhnya pada sofa disertai raut wajah yang begitu kesal. "Dia nggak mau pulang?"


"Iya Tante Inez, kenapa sih Arron sekarang makin cuek sama aku? Kalo gini, aku nggak yakin Arron mau nikah sama aku!"


Inez pun menggenggam jemari gadis yang duduk di sampingnya. "Kamu tenang aja Queen, tante jamin, Arron pasti akan nikah sama kamu. Tante akan lakukan apapun, agar Arron nikahin kamu, termasuk ngorbanin nyawa tante."


"Tante ngomong apa sih, kok pake ngomong nyawa segala?"


"Tante nggak main-main Queen, tante akan memenuhi janji tante sama almarhum mama kamu buat nikahin kalian berdua. Jadi, kamu nggak usah cemas, Sayang. Aron pasti jadi milik kamu."

__ADS_1


"Makasih Tante," balas Queen, lalu memeluk tubuh Inez.


__ADS_2