
Setelah Inez pergi, Kiara masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya, dia ingin pergi menemui Arron dan minta penjelasan darinya, akan tetapi Kiara berusaha menahan rasa emosi yang bergejolak di hatinya.
"Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu nggak ngomong sama aku kalo Mama kamu nggak setuju dengan hubungan kita."
Hari beranjak sore, saat ini Kiara duduk di balkon apartemen, menatap kilau senja yang perlahan mulai memudar, sambil menunggu kedatangan Arron.
Tak berapa lama, pintu apartemen pun terbuka, Arron tersenyum melihat sosok Kiara yang sedang duduk di balkon dengan posisi membelakanginya. Laki-laki itu kemudian memeluk dan mencium kening Kiara. Akan tetapi, Kiara mengabaikan perlakuan manisnya, memilih berlalu meninggalkan Arron, dan masuk ke dalam kamar. Melihat sikap Kiara, Arron pun merasa heran, gegas dia mengikuti langkah Kiara memasuki kamar mereka.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu hari ini nggak kaya biasanya? Kamu marah sama aku?"
"Mas, aku cuma butuh penjelasan."
"Penjelasan apa, Sayang? Aku nggak selingkuh kok, suer," kekeh Arron.
"Ini bukan waktunya becanda. Tadi mama datang, Mas!" balas Kiara dengan tatapan tajam padanya. Mendengar perkataan Kiara, tawa Arron pun terhenti. Laki-laki itu lalu tampak menghela napas.
"Jadi kamu sudah tahu semuanya Ara? Kamu udah tahu kalau Mama nggak merestui hubungan kita?"
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal, Mas?"
"Karena aku nggak mau hubungan kita hancur, aku nggak mau rencana pernikahan kita berantakan, aku nggak mau rencana pernikahan kita gagal kalo kamu tahu semua ini, sekian lama aku nunggu sampai bisa mendapatkanmu kembali, aku nggak mungkin rela kalau harus kehilangan kamu lagi."
Arron menatap Kiara yang saat ini mulai meneteskan butiran kristal dari kedua sudut matanya.
"Ara, setelah berhasil mendapatkanmu, aku nggak bakalan semudah itu aku lepasin kamu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besarnya cintaku sama kamu. Kamu pikir, selama 3 tahun terakhir aku nggak pernah cari tahu tentang kamu? Selama 3 tahun itu juga aku selalu mengawasimu, meskipun aku nggak hidup di sini. Karena apa? Karena aku cinta sama kamu."
"Tapi aku selalu berusaha menahan diriku dan memberimu waktu itu untuk memahami perasaan kamu yang sebenarnya sama aku. Aku pengen saat kita bertemu kamu benar-benar udah yakin dengan perasaanmu, Kiara."
"Dan asal kau tahu, sebenarnya Mama tidak merestui hubungan kita itu bukan karena kamu, tapi karena Queen. Mama terikat janji pada orang tua Queen untuk menikahkan aku dengannya, akan tetapi cinta tidak bisa dipaksakan, Ara. Dan aku juga tidak pernah cintai sama Queen."
Kiara tertegun mendengar pengakuan Arron, kenyataan ini bahkan membuatnya merasa begitu sakit, karena apa yang dia takutkan terjadi, lagi-lagi Queen menjadi bayang-bayang hubungannya dengan Arron.
Namun, meskipun perasaannya begitu berkecamuk, wanita itu juga merasa terharu mendengar pengakuan Arron jika dia memang benar-benar sangat mencintai dirinya, bahkan cintanya begitu besar lebih dari yang Kiara bayangkan.
__ADS_1
"Ara, aku tahu ini berat. Tapi, mari kita jalani ini bersama, kita pasti bisa meluluhkan hati Mama. Semua butuh waktu, semua butuh proses, kamu mau kan berjuang sama aku untuk menaklukan hati Mama. Aku kenal baik siapa Mama, seiring berjalannya waktu dia pasti bisa menerima hubungan kita."
Kiara hanya bisa termenung lalu mengangguk, meskipun tak dapat dipungkiri jika dadanya terasa begitu sesak. Arron kemudian memeluk tubuh Kiara dengan begitu erat seraya membisikkan kata-kata untuk menenangkan istrinya itu. Sikap hangat Arron pun mampu mencairkan suasana hati Kiara yang sempat memanas.
***
Keesokan Harinya...
Saat Kiara bangun, tubuhnya terasa begitu lemas. Tak hanya itu, kepalanya pun juga terasa begitu berat.
"Mas, kenapa ya tiba-tiba kepalaku sakit? Perutku juga mual."
Arron yang mendengar keluhan Kiara pun mendekat pada wanita itu, lalu menyuruh Kiara untuk tetap beristirahat dan tidak banyak melakukan aktivitas.
"Kamu istirahat aja sayang, nggak usah mikirin sarapan buat aku, biar nanti aku sarapan dijalan saja," ujarnya sambil membelai rambut Kiara.
"Kamu gapapa sarapan di jalan, Mas?"
"Gapapa sayang, kamu istirahat aja ya, jangan banyak beraktifitas, mungkin kamu kecapean, Ara."
"Ya udah, aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri di rumah, aku mau kerja setengah hari, nanti siang kita ke dokter ya."
"Iya Mas, hati-hati di jalan."
Arron pun mengangguk, lalu meninggalkan Kiara di unit apartemennya. Sepanjang hari, Kiara hanya berbaring di dalam kamar, tubuhnya terasa begitu lemas.
Hingga saat jam menunjukkan pukul sebelas siang, suara bel unit apartemen itu berbunyi.
'Mungkin Mas Arron,' batin Kiara, lalu bangkit dari atas ranjang dan membuka pintu.
Akan tetapi, saat Kiara membuka pintu tersebut, bukan sosok Arron yang dia lihat. Namun, seorang lelaki muda yang saat ini menatap Kiara dengan tatapannya yang begitu nakal.
Laki-laki itu tampak melihat Kiara dari atas sampai bawah. Sebenarnya, Kiara merasa begitu takut, dan bermaksud menutup pintu. Akan tetapi, sebelum Kiara sempat melakukannya, pintu unit apartemen itu didorong secara paksa oleh lelaki tersebut. Dia lalu masuk ke dalam apartemen tampa permisi.
__ADS_1
"Maaf saya tidak mengenal anda, tolong bersikap sopan, dan saya minta anda keluar dari sini!"
"Jangan giitu dong cantik, kamu jangan sok jual mahal sama Abang, kita bisa senang-senang sekarang. Abang tahu kok kalau suamimu sedang ada di kantor kan? Kamu pasti puas sama permainan abang," celotehnya sambil tersenyum nakal pada Kiara.
"Bicara yang sopan ya, saya wanita baik-baik dan bukan seperti yang anda pikirkan. Sekarang, tolong pergi dari sini atau saya panggilkan petugas keamanan di bawah!"
"Galak amat Neng, santai aja sama abang dong, yuk kita main-main sebentar."
Laki-laki itu mendekati Kiara yang kini terlihat begitu ketakutan.
"Tolong berhenti atau saya akan melaporkan anda ke polisi!"
Mendengar ancaman Kiara, laki-laki itu bukannya menjauh, tapi malah semakin mendekat pada Kiara. Di tengah situasi itu, badan Kiara yang terasa begitu lemas kian membuatnya tidak berdaya ketika tangan laki-laki itu mulai memeluk tubuhnya.
"Lepaskan!" bentak Kiara, tapi laki-laki tersebut malah membungkam mulut Kiara yang saat itu hanya bisa menangis. Tubuh Kiara pun melemas apalagi ketika laki-laki itu terus membekapnya dan memeluknya dengan begitu erat. Kiara pun semakin kehilangan tenaga, hingga membuat wanita itu seakan pasrah mendapat perlakuan dari laki-laki tersebut.
Di saat itulah, tiba-tiba ada seseorang yang sedang berdiri mematung melihat Kiara sedang berpelukan dengan laki-laki itu. Sosok yang sedang berdiri itu, bahkan tak mampu lagi membendung emosinya, tatkala melihat laki-laki yang ada yang ada di depannya mulai menciumi tengkuk dan bahu istrinya.
Arron pun menarik bahu laki-laki itu, lalu melayangkan bogem mentah padanya beberapa kali.
BUGH BUGH
"KIARA KETERLALUAN KAMU! TERNYATA BEGINI KELAKUANMU DI BELAKANGKU SAAT AKU TIDAK ADA DI RUMAH, DAN HEI KAU LAKI-LAKI KURANG AJAR BERANI SEKALI KAU MENYENTUH ISTRI ORANG! CEPAT PERGI KAMU DARI SINI!!" bentak Arron setelah puas menghujani laki-laki tersebut dengan bogem mentahnya.
Tak hanya itu, saat laki-laki tersebut sudah tersungkur di lantai Arron pun menendangnya berkali-kali. Meskipun mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari Arron, laki-laki itu malah tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Ingat jangan pernah kau tampakkan wajahmu lagi di depanku!" bentak Arron kembali setelah laki-laki itu bangun dari atas lantai. Setelah laki-laki itu pergi, Kiara pun bersimpuh di depan Arron sambil menangis.
"Mas tolong maafkan aku, sungguh ini nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Cukup Ara! Aku sudah melihat semua dengan mata kepalaku! SEKARANG PERGI KAMU! PERGI DAN JANGAN PERNAH KAU TAMPAKKAN LAGI WAJAHMU DI DEPANKU! PERGI KIARA!!!"
"Tapi Mas dengarkan penjelasanku dulu, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!!!"
__ADS_1
"PERGI KIARA, DAN DENGAN INI KUJATUHKAN TALAK PADAMU!"