
Setelah menyelesaikan urusannya, gegas Queen keluar dari panti asuhan tersebut. Akan tetapi, saat baru saja langkah kakinya menapaki halaman panti, spontan langkah itu terhenti, manakala melihat sosok laki-laki tampan yang berdiri di depannya. Wanita itu, tampak membuka mulutnya seraya memelototkan matanya, namun tak terdengar sepatah kata pun terdengar dari bibirnya. Sedangkan laki-laki yang ada di depannya, tampak tersenyum disertai seringai tipis di bibirnya.
"Selamat pagi, istriku sayang. Bukankah tadi kau berpamitan padaku untuk mengurusi bisnis yang sedang kau bangun bersama dengan teman-temanmu? Tapi kenapa kau malah ada di sini?"
"Oh, emh itu, begini, aku memang ingin mengunjungi panti asuhan ini terlebih dulu."
Arron mengerutkan keningnya, disertai senyum kecut yang membuat tubuh Queen kian tegang. Tentunya dia masih berharap jika Arron tidak tahu maksud kedatangannya ke panti asuhan tersebut.
"Bagini Arron, tanpa kau ketahui, sebenarnya aku sering memberikan sumbangangan pada beberapa panti asuhan. Emh, selama ini kau begitu cuek padaku. Jadi, kau tidak tahu kan kalau jiwa sosialku sangat tinggi," jelas Queen, berharap jika Arron percaya perkataannya, dan belum tahu maksud kedatangannya ke tempat itu.
"Cih, kau tahu kan aku tidak suka berbasa-basi, Queen? Aku sudah lelah berpura-pura di depanmu! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rahasiakan, hah?"
"A-apa maksudmu, Arron?" balas Queen. Degup jantungnya berdegup lebih kencang, tubuhnya yang sudah tegang, kini seakan dialiri aliran listrik. Takut, hanya itu yang saat ini dia rasakan.
"Tidak usah berpura-pura, Queen. Aku sudah tahu jika dulu mamamu membuang anak kandung Papa Bram ke panti asuhan ini, kan? Mamamu mengatakan kalau putri kandung Papa Bram sudah meninggal saat dia terpuruk atas kematian istrinya! Aku pun tahu, mamamu juga membohongi Papa Bram dengan menyuruhnya menikahi dirinya seperti yang diminta oleh istri Papa Bram, padahal semua itu hanya dusta, kan? Kau dan almarhum mamamu sama saja! Penuh dusta dan tipu muslihat!"
"Kau bicara apa, Arron? Kau salah paham padaku, aku bisa menjelaskan semua ini, Arron."
"Tidak usah ada lagi yang dijelaskan, Queen! Kau pikir aku bodoh hah? Kau pikir aku tidak mendengar semua percakapanmu di dalam panti?"
__ADS_1
"Arron, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Beri aku waktu untuk memberikan penjelasan padamu."
"Penjelasan apa? Penjelasan bahwa kau sudah merebut posisi Kiara? Penjelasan bahwa kau sudah mengambil hak yang seharusnya didapatkan oleh Kiara? Yang selama ini dijodohkan denganku itu Kiara, kan? Bukan kau, karena anak kandung Papa Bram yang sebenarnya adalah Kiara, dan kau sudah merebut semua yang Kiara miliki! Kau seharusnya malu, sudah mengambil apa yang bukan menjadi milikmu!"
"Tidak Arron bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya, bukankah kau tahu orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak dulu?"
"TAPI BUKAN KAU, QUEEN! Kau dan mamamu hanyalah manusia kejam yang sudah memisahkan orang tua dan anak kandungnya! Kau dan mamamu hanyalah manusia kejam yang telah mengambil apa yang bukan menjadi miliknya, dan kau masih kukuh mempertahankan itu? Kau benar-benar tidak tahu malu!"
"Tapi ... "
"CUKUP!" bentak Arron, bersamaan dengan itu, ponsel Queen pun berbunyi. Mendengar dering ponselnya, Queen pun ragu dan menatap Arron dengan penuh ketakutan.
Queen pun mengambil ponselnya, dan melihat nama Alvian yang ada di layar ponsel itu. Seketika tubuh Queen pun gemetar.
"Kenapa kau diam? Angkat, Queen. Aku ingin tahu rahasia apa yang kau sembunyikan lagi, jika kau tidak melakukannya, aku akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib sekarang juga!" Dipenuhi rasa takut, Queen pun mengangkat panggilan telepon itu, dengan mengaktifkan loud speakernya
[Halo Queen, aku hanya ingin memberi tahu padamu kalau pernikahanku dan Kiara dipercepat karena kondisi Mama Kiara kritis. Bagaimana kau senang kan, Sayang?]
Queen tak menjawab, hanya melirik Arron disertai perasaan takut, apalagi rahang Arron sudah terlihat mengeras, disertai tatapan mata yang kian tajam padanya.
__ADS_1
[Queen, kenapa kau diam saja? Bukankah kau seharusnya bahagia aku menikah dengan Kiara, sekarang? Apalagi, dia sedang mengandung darah daging suamimu, aku sudah menyelamatkanmu dengan menikahi Kiara, Sayang. Berterima kasihlah padaku.]
Sebenarnya Queen merasa begitu terkejut mendengar penuturan Alvian jika anak yang dikandung Kiara adalah darah daging suaminya, hatinya begitu hancur, merasa kecolongan, selama ini ternyata Arron sudah menjalin hubungan di belakangnya dengan Kiara. Wanita itu pun juga merasa dibodohi, apalagi mengingat pertemuannya dengan Kiara beberapa minggu yang lalu di hotel, dan bersamaan dengan itu pula, Arron mendadak juga menghilang setelah dia check in.
'Sial, pasti saat di hotel Arron menghilang dariku untuk bermesraan dengan Kiara! Mereka benar-benar brengsek, aku bahkan bersikap seperti orang bodoh di depan Kiara. Pasti saat itu dia sebenarnya sedang menertawakanku,' batin Queen, disertai rasa dongkol di hatinya. Akan tetapi, saat ini dia tidak bisa menumpahkan amarahnya, seolah dia memang sudah tidak berhak marah pada Arron, karena kesalahan yang diperbuat olehnya, itu jauh lebih fatal.
[Emh kau ada di mana, Alvian? Tolong beri tahu keberadaanmu padaku.] balas Queen pada akhirnya, setelah mendapatkan kode dari Arron untuk menanyakan keberadaan Alvian dan Kiara sekarang.
Setelah itu, Queen menutup teleponnya dengan penuh ketakutan. "Dasar brengsek! Kau ternyata bekerja sama dengan Alvian hah? Kau benar-benar wanita biadab, Queen!"
"A-Arron, aku..."
"Cepat beritahu di mana mereka sekarang, dan jangan coba-coba berbohong padaku untuk mengulur waktu karena jika kita terlambat sebentar saja, kau akan merasakan akibatnya!"
Queen pun mengangguk, lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil Arron menuju ke rumah sakit. Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai. Tepat di saat mereka berdua menapakkan kakinya di depan ruang perawatan, sayup-sayup terdengar suara dari dalam ruangan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Alvian Indrawan bin Darmawijaya dengan Kiara Salsabila, perempuan yang menjadi kuasaku, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.
"Saya terima nikahan dan kawinnya Kiara Salsabila untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
__ADS_1