
Arron memarkirkan mobil, lalu keluar dari mobilnya dengan langkah ragu. Sebenarnya dia tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan, akan tetapi ada tekat di dalam hatinya untuk menolong Bramasta. Saat ini Bram hidup seorang diri, tidak ada salahnya menolongnya untuk mencari tahu keberadaan putri kandung Bramasta tersebut.
Bagi Arron, pasti sangat menyedihkan jika di penghujung usianya Bramasta tidak bisa bertemu dengan putri kandungnya, dan rasanya pasti sangat menyesakkan dada. Arron tak tega, membiarkan laki-laki tua itu menanggung kesedihan tersebut.
"Setelah aku mendapatkan informasi itu, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Kiara, aku yakin pasti aku bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang kuinginkan dari Queen. Ya, sebaiknya aku membiarkan Kiara sampai dia tenang terlebih dulu dan dia bisa meredam emosinya," gumam Arron lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.
"Papa Bram, aku pasti akan menolongmu mendapatkan informasi dari wanita licik itu. Setelah itu, baru aku akan menceraikan Queen, aku tak menyangka jika hidupnya pun penuh dengan kepalsuan."
Arron masuk ke dalam rumah, lalu menghampiri Queen yang saat ini sedang merapikan kukunya di ruang tengah. Sedangkan Darel sedang bermain bersama baby sitter-nya.
"Selamat siang, Sayangku."
Queen yang mendengar suara bariton yang dia kenal, akhirnya pun menoleh, dan melihat sosok Arron sudah berdiri di dekatnya. Dia tak menyangka, jika Arron akan memanggilnya dengan sebutan seperti itu, karena selama mereka menikah, Arron bersikap begitu dingin padanya. Dan siang ini, Queen merasanya seperti sedang bermimpi.
"A-Arron?" perkataan Queen pun tertahan, perasaannya terasa begitu berkecamuk melihat tatapan hangat Arron yang membuat hatinya meleleh.
"Kenapa kamu liatin aku kaya gitu? Aku kangen banget sama kamu, Sayang," sahut Arron lalu duduk di samping Queen dan mengelus pipinya.
"Hari ini, kamu cantik banget Queen."
"Arron kamu baik-baik saja kan?"
"Kenapa? Kau pikir aku sedang sakit hah?"
"Bukan begitu, karena kau tidak seperti biasanya."
__ADS_1
Arron pun tersenyum simpul. "Mungkin, dulu aku sudah menjadi seorang laki-laki dan suami bodoh yang sudah menyia-nyiakan wanita sekaligus istri secantik dirimu, Queen. Maafkan semua sikap dinginku, dan sekarang aku baru menyadari jika kau ternyata begitu berharga bagiku. Queen, tolong beri aku kesempatan, kau mau kan membuka lembaran baru dalam rumah tangga kita?"
Queen pun hanya terdiam, rasanya seakan tidak percaya dengan perkataan yang terlontar dari bibir Aron.
"Bagaimana Queen kau mau memberikan aku kesempatan kan?" tanya Arron kembali.
"Arron, aku tidak sedang bermimpi kan?" sahut Queen yang membuat Aron hanya bisa terkekeh.
***
"Mommy, siapa dia? Kenapa bukan Daddy Alvian yang bersama Mommy?"
Kiara hanya tersenyum simpul, lalu mengelus lembut pipi Evelyn. "Apa dia Ayah Evelyn? Teman-teman Evelyn punya ayah yang tiap hari anter ke sekolah, mereka juga tinggal bareng-bareng sama ayah. Tapi Eve cuma punya Daddy Alvian, itu pun Daddy nggak tinggal sama kita."
Melihat raut wajah Evelyn, Kiara pun merasa sedih. Saat ini, Evelyn sudah besar, dan Kiara paham hal sensitif seperti itu pasti menjadi pertanyaan tersendiri bagi putri kecilnya itu. Melihat teman-temannya memiliki orang tua yang utuh, pasti juga mengganggu psikologisnya.
Mendengar perkataan Evelyn, sontak Kiara pun memeluk gadis kecil itu seraya terisak. Ucapan yang terlontar oleh Evelyn, terdengar begitu sederhana, tapi terasa begitu menohok baginya. Sekarang, dia tahu alasan Evelyn enggan pergi ke sekolah akhir-akhir ini, dan dia yakin hal tersebutlah penyebabnya.
"Haruskah aku mempertemukan Evelyn dan Mas Arron?" batin Kiara sambil mengelus punggung Evelyn.
"Mommy, kenapa Mommy menangis? Apa benar Ayah nggak suka sama Evelyn?"
Kiara melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah Evelyn sejenak, wajah yang sangat mirip dengan Arron.
"Mommy, apa ayah jahat?"
__ADS_1
Kiara menggeleng, ingin rasanya dia membuka suara, tetapi tenggorokannya terasa tercekat, lidahnya pun begitu kelu. Perasaannya terasa begitu berkecamuk, jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya dia ingin kembali pada Arron, dan menjalin hubungan yang egois seperti yang dia lakukan beberapa hari yang lalu.
Akan tetapi, banyak hati yang harus dia pikirkan dan dia tidak mau membuat sosok tak berdosa seperti Derel tersakiti karena ulahnya, apalagi saat mengingat sosok Alvian yang begitu tulus padanya. Melihat Kiara yang masih terisak, Evelyn pun menghapus air mata Kiara.
"Mommy, apa pertanyaan Evelyn bikin Mommy sedih? Maafin Eve, Mommy. Mulai sekarang, Eve nggak mau tanya tentang ayah lagi kalau bikin Mommy sedih kayak gini."
Kiara menggelengkan kepalanya seraya mengelus pipi Evelyn. "Jadi, Eve pingin ketemu sama ayah?" Gadis kecil itu pun mengangguk cepat.
"Baiklah kalau gitu, kita telepon ayah sekarang," jawab Kiara pada akhirnya. Mendengar perkataan Kiara, senyum pun merekah di bibir mungil Evelyn.
Dia tak menyangka jika permintaannya untuk mengetahui ayahnya tidak akan dikabulkan oleh mommynya, akan tetapi nyatanya Kiara malah mengajaknya untuk menelpon ayahnya.
Kiara pun mengambil ponselnya, lalu membuka blokiran kontak Arron dan menghubungi laki-laki itu. Beberapa kali Kiara menelpon Arron, akan tetapi panggilan itu tidak dijawab oleh laki-laki tersebut.
Setelah beberapa kali, akhirnya terdengar jawaban dari ujung sambungan telepon. Akan tetapi, di saat itu pula, tiba-tiba terdengar suara Queen yang seketika membuat hati Kiara merasa begitu hancur.
"Pa, makasih udah bikin aku seneng hari ini. Aku sayang sama kamu Pa."
Mendengar suara Queen yang terdengar begitu manja, Kiara gegas menutup panggilan itu, rasanya dia tak sanggup mendengar perbincangan yang akan terjadi selanjutnya antara Arron dan Queen.
Melihat Kiara yang kembali terisak, Evelyn pun menatap mommy-nya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mommy, kenapa Mommy menangis lagi? Apa Ayah tidak mau bicara sama Evelyn?"
Kiara pun menggelengkan kepalanya. "Nggak Evelyn, sekarang dengerin Mommy baik-baik ya, mulai saat ini cuma ada Daddy Alvian, Daddy Alvian itu Ayah Evelyn."
Evelyn pun mengangguk lalu memeluk Kiara. "Mommy jangan nangis lagi ya, Evelyn janji mau jadi anak yang baik dan nggak bikin Mommy sedih." Kiara pun mengangguk lalu memeluk Evelyn kembali.
__ADS_1
"Saat ini aku sedang berjalan di atas luka dalam alunan cinta yang mempermainkan kalbuku, dan aku tahu semua ini juga tak lepas dari kebodohanku yang telah melepaskanmu di masa lalu. Kini, aku terluka, sebuah luka akibat kebodohanku, padahal seharusnya aku sadar, semua telah berlalu, dan semesta pun tahu, kau hanyalah sebatas mimpi," batin Kiara.