
Pada akhirnya, laki-laki itu pun menoleh pada Queen lalu tersenyum kecut. "Kau pikir aku percaya padamu? Maaf Queen saat ini aku sudah tidak pernah percaya apa pun dengan yang kau katakan. Awalnya aku malah sudah mengikhlaskan jika aku mungkin tidak akan bisa bertemu dengan putriku, bahkan juga merelakan Arron menikah denganmu. Akan tetapi, saat tahu kau selalu menghasut Inez, bahkan mencampurkan obat perangsang agar Arron menyentuhmu, seketika empatiku hilang padamu."
"Papa, kenapa papa berkata seperti itu? Bukankah Papa tahu aku dekat dengan Mama Inez sejak dulu? Lalu, memangnya aku salah kalau meminta Arron untuk menyentuhku? Bukankah sebuah dosa besar seorang suami yang tidak mau menyentuh istrinya?"
"Tapi tidak dengan merendahkan harga dirimu dengan bersujud meminta Arron untuk menyentuhmu dan memasukkan obat perangsang itu kan? Apa kau tidak punya harga diri sebagai seorang wanita hah? Aku tahu Queen, aku tahu kau melakukan semua itu agar Arron tidak menceraikanmu. Aku tahu agar suatu saat nanti ketika aku menemukan putriku, dia tidak bisa lagi mendapatkan hak yang seharusnya dia dapatkan. Aku menyesal baru mengetahui semua ini dalam beberapa bulan terakhir. Selama ini, aku terlalu bodoh menghadapi kelakuan bejatmu dan ibu kandungmu itu!"
"Papa, serendah itu kah Papa memandang diriku? Mama sudah meninggal Pa, tidak seharusnya Papa berkata seperti itu pada Mama."
"Kau yang merendahkan harga dirimu sendiri, Queen. Dan tentang mamamu itu, haruskah kuselidiki masa lalunya? Mungkin saja permintaan istriku sebelum kematiannya untuk menikahi mamamu juga hanya sekedar akal bulusnya saja kan?"
"PAPA! Papa tidak perlu menghina Mama seperti ini! Mama saat ini sudah meninggal Pa, sangat tidak pantas menjelek-jelekkan sosok yang sudah meninggal!"
"Itulah kesalahanku, aku baru mengetahui kejahatan yang dilakukan mamamu saat dia sudah meninggal!"
"Papa benar-benar keterlaluan! Padahal kedatanganku untuk memberi tahu informasi tentang keberadaan putri papa yang sebenarnya. Tapi ternyata balasan Papa seperti ini!"
"Benarkah? Bagaimana bisa aku percaya pada orang yang sudah merebut hak yang seharusnya dimiliki putriku? Bahkan, selama bertahun-tahun aku sudah menganggap putriku meninggal. Aku memang bodoh, saat istriku meninggal aku begitu terpuruk sampai tidak tahu kejahatan yang telah dilakukan oleh mamamu yang sudah membuang putriku entah kemana!"
"Tidak seperti itu kejadiannya, Pa."
"CUKUP! Lebih baik kau pulang, Queen! Karena apapun yang kau katakan takkan bisa mengubah pandanganku padamu, kau sama saja dengan mamamu itu!"
Queen hanya menatap laki-laki tua yang terlihat begitu keras kepala itu dengan tatapan nanar. "Saya permisi dulu Tuan Bram yang terhormat!" sahutnya, lalu berjalan meninggakkan laki-laki tua yang matanya mulai berembun itu.
"Maaf papa tidak bisa melindungimu dan menemukanmu sampai saat ini, Sayang."
__ADS_1
Queen yang saat ini keluar dari mansion tersebut tampak begitu kesal. "Sial, rencanaku berantakan! Kenapa Papa masih saja tidak mau percaya padaku! Kupikir hati laki-laki tua itu akan mencair seiring berjalannya waktu, tapi kenapa dia malah semakin mencurigaiku! Apa aku harus membunuhnya agar tidak membuka rahasiaku pada Mama Inez dan juga Arron?"
***
Aron menatap wajah Kiara yang saat ini tengah terlelap di atas brankar. Sejak keluar dari cafe, laki-laki Itu tampak begitu cemas dengan keadaan Kiara. Akan tetapi, saat dia membawanya ke rumah sakit, Arron begitu lega karena ternyata Kiara pingsan akibat meminum obat tidur.
Sebenarnya laki-laki itu pun tak mengerti mengapa Kiara bisa sampai mengkonsumsi obat tidur seperti itu. Ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, terpaksa Arron meminta baby sitter Derel untuk menjemput bayi itu, karena tidak mungkin dia membawa Darel ke rumah sakit tersebut.
Dan menurut baby sitter itu, sampai saat ini Queen pun belum pulang ke rumah. Akan tetapi, Arron tidak mempedulikan hal tersebut, Queen memang sering kali bepergian bersama teman-temannya di malam hari. Jadi, bagi Arron itu bukan hal yang aneh. Setelah 1 jam lamanya Arron menunggu Kiara terlelap, akhirnya wanita itu pun terbangun.
"Kamu sudah sadar, Sayang?"
"Mas, aku di mana?"
"Di rumah sakit, Sayang. Tadi waktu di cafe tiba-tiba kamu pingsan, jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit."
"Nggak Kiara, kamu nggak sakit apa-apa, kamu cuma habis mengkonsumsi obat tidur dalam dosis yang banyak. Jadi, kamu langsung pingsan begitu saja," jawab Arron.
"Obat tidur? Bagaimana bisa?"
"Itu yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu, Ara. Kenapa kamu tiba-tiba mengkonsumsi obat tidur? Apa kau memiliki masalah gangguan tidur?"
Kiara pun terlihat bingung, dia hanya terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kurasa aku tidak pernah meminum obat tidur."
__ADS_1
"Kalau begitu, apa mungkin ada yang mencampurkan obat tidur ke dalam makananmu, Ara?"
Kiara pun tertegun, dia mencoba mengingat kembali makanan apa saja yang dikonsumsi olehnya. Dan terakhir makanan yang dikonsumsi olehnya adalah makanan di restoran ketika dia bersama Alvian.
Wanita itu pun tampak menyipitkan matanya. Akan tetapi, kemudian menggelengkan kepalanya kembali.
"Ara, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kau makan sebelumnya? Bukankah sebelum bertemu denganku kau makan malam dengan Alvian? Bagaimana kalau laki-laki itu yang mencampurkan obat tidur ke dalam makananmu, Ara?"
"Tidak Mas, tidak mungkin, Mas Alvian bukanlah laki-laki seperti itu, dia tidak mungkin berbuat jahat padaku! Jangan karena saat ini, dia bertunangan denganku kau memojokkannya begitu saja, Mas. Dia adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui!"
"Kiara!"
Kiara menatap Arron dengan tatapan nanar, seakan tak percaya jika laki-laki itu membentaknya.
"Mas ... "
"Maafkan aku, Ara. Tapi tolong kau jangan terlalu percaya pada orang lain."
"Mas, kamu tolong nggak usah ngomong gitu. Kamu nggak boleh punya pikiran buruk sama orang yang banyak berjasa buat aku. Saat itu aku begitu terpuruk, dan Mas Alvian yang ada di sampingku. Jadi, tolong jangan berpikiran buruk sama Mas Alvian."
"Tapi Ara, kenyataannya ..."
"Mas, lebih baik kamu tinggalin aku sekarang."
"Tapi Ara..."
__ADS_1
"Tolong pergi, Mas!"