
Perlahan laki-laki itu pun mendekat pada Kiara. "Kenapa lambat sekali jalannya, apa tidak bisa lebih cepat sedikit?" gerutu Kiara di sela isak tangisnya. Laki-laki itu pun terkekeh. "Kenapa kau malah senyum kaya gitu, Kak?"
"Memangnya ada apa? Bukankah kau membenciku?" sahutnya seraya memainkan matanya. Hal tersebut, tentu membuat Kiara kesal.
"Dasar jahat!" balas Kiara, lalu membalik tubuhnya, berniat keluar dari ruangan tersebut. Setelah sekian lama dirinya menunggu saat-saat seperti ini, tetapi pertemuannya dengan Arron sangatlah jauh dari kata romantis, bahkan laki-laki itu seakan meledeknya, meskipun Kiara juga rindu gurauan Arron, akan tetapi saat ini baginya kurang tepat.
Namun, saat akan melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Arron, laki-laki itu terlebih dulu mencekal tangan Kiara, lalu menariknya tangannya hingga tubuh Kiara terhempas ke pekukannya. Kiara pun hanya bisa terisak, seraya membenamkan kepalanya ke dada bidang Arron.
"Jangan menangis..."
"Kau jahat, Kak!"
"Jahat? Memangnya aku berbuat apa? Bukankah seharusnya kau bahagia aku sudah tidak mengganggumu lagi, hm?"
"Siapa yang bilang?"
"Kau yang menyuruhku menjauh darimu, iya kan? Dan aku sudah melakukan itu selama tiga tahun. Bagaimana, kau bahagia kan?"
Kiara pun menggeleng cepat seraya memeluk Arron kian kencang. "Jangan pergi lagi, tolong jangan pergi lagi dariku. Aku minta maaf kalau saat itu sudah menuduhmu tanpa bukti. Aku minta maaf, Kak."
Melihat gelengan kepala Kiara, Arron pun melonggarkan pelukannya dari Kiara, lalu menatap manik mata hitam wanita itu.
"Kak Arron, aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku lagi," lirih Kiara disertai tatapan sendu. "Kau tidak sedang becanda kan, Ara?"
"Huh, kau pikir pernyataan cinta itu sebuah candaan?" balas Kiara.
"Jadi, beneran kamu juga suka sama aku?"
Kiara pun mengangguk. "Aku cinta sama kamu, Kak. Tiga tahun terakhir ini, aku kaya orang gila cariin kamu, rasanya bahkan hampir mati kalo bayangin kamu nggak kembali lagi."
Mendengar perkataan Kiara, Arron pun kian erat memeluk tubuhnya. "Aku cinta banget sama kamu, Ara. Aku janji nggak bakalan ninggalin kamu. Kupikir kamu benci banget sama aku, jadi aku emang sengaja jauhin kamu."
"Setelah kecelakaan itu?"
__ADS_1
"Jadi kamu tahu aku kecelakaan?"
"Ya, aku minta maaf kalo pagi itu aku udah marah-marah dan nuduh kamu tanpa bukti. Harusnya aku dengerin penjelasan kamu dulu, kamu pasti punya alasan bawa aku pergi ke hotel kan? Maaf kalo udah bikin kamu sampe alamin kecelakaan itu, Kak."
Arron pun menggeleng. "Aku bahkan sangat bersyukur nggak anter kamu pulang, soalnya kalo kita pulang bareng, kamu pasti juga alamin kecelakaan bareng aku, Ara. Dan aku nggak bakalan maafin diriku sendiri kalau sampai sesuatu terjadi sama kamu. Aku bersyukur pagi itu kamu nggak ikut mobilku, Ara. Udah ah nggak usah omongin masa lalu, yang penting sekarang kamu udah cinta sama aku kan, Ara?" kekeh Arron.
Kiara pun mengangguk. "Kak..."
"Apa, kangen?"
"Hahahahah ge-er."
"Bukannya tadi kamu yang ngomong sendiri kalo kangen sama aku?" Kiara lalu menatap Arron lekat, ada kerinduan yang membuncah pada tatapan itu. Arron pun juga tak sanggup lagi menahan gejolak di dada. Laki-laki itu, perlahan mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kiara. Akan tetapi, sebelum Arron melepaskan kecupan bibirnya, Kiara terlebih dulu memagut bibir laki-laki itu.
Bibir keduanya pun kini saling bertautan, seolah ingin melepaskan rasa rindu yang tak sanggup lagi mereka bendung.
"Kamu masih sama kaya dulu, Arra."
"Maksudnya?"
"Aku cium kamu dulu, Mas?"
"Nggak cuma cium, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi kamu hampir aja renggut keperjakaan aku, untung aku pernah belajar bela diri, terus aku pukul titik syaraf di leher kamu sampe bikin kamu pingsan. Kalo nggak kamu harus tanggung jawab udah ambil keperjakaan aku, Ara."
"Agh, Kak Arron."
"Hahahaha... Ups ada satu lagi."
"Apa?" Kiara tampak mendelik sebal seraya mengerucutkan bibirnya. "Buahnya kamu yang gantung sekarang jauh lebih gede dibandingin dulu. Tiga tahun lalu, waktu kamu peluk-peluk aku, kayaknya belum segede itu deh. Hahahahaha..."
__ADS_1
"Kak Arron! Dasar messum!"
"Hahaha..."
***
Berselang satu bulan setelah berpacaran, Arron memberanikan diri menemui orang tua Kiara. Tentu saja, mereka merestui hubungan keduanya.
Meskipun sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Kiara, yaitu sampai beberapa hari menjelang pernikahan mereka, Kiara belum pernah dipertemukan dengan kedua orang tua Arron. Saat Kiara bertanya, dia hanya menjawab jika orang tuanya sedang sibuk.
Kiara pun mencoba berfikir positif dan memahami kondisi kedua orang tua Arron. Hingga akhirnya, hari pernikahan pun tiba, Kiara merasa sedikit lega karena Arron datang bersama keluarga besarnya, papanya juga ikut mendampingi saat ijab qabul berlangsung. Akan tetapi, tidak dengan mama dari Arron, dan saat Kiara menanyakan hal tersebut pada Arron dan papanya, mereka hanya menjawab jika Inez sedang sakit.
Walaupun terdengar janggal, Kiara tidak mau merusak kebahagiaan orang-orang di sekitarku saat itu, akhirnya dia hanya bisa percaya dengan apa yang mereka katakan.
Setelah menikah, Kiara dan Arron tinggal di apartemen milik Arron. Hingga suatu hari, saat pernikahan keduanya menginjak bulan ketiga, Kiara mendengar sebuah ketukan di pintu apartemen itu. Gegas, Kiara pun membukanya, dan ketika pintu itu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik, berdiri di depan Kiara.
Dia masuk ke begitu saja ke dalam apartemen tersebut tanpa permisi, lalu memandang Kiara dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Jadi kamu perempuan yang sudah buat anakku jadi anaka durhaka? Kamu memang cantik, tapi aku sudah terlanjur membencimu!"
"Maksud, Nyonya?"
"Oh jadi Arron belum memberitahu siapa aku dan ada masalah apa sebenarnya diantara kami?"
Kiara hanya bisa menggeleng dan detik itu juga dia baru menyadari yang berdiri depannya adalah ibu mertuanya. "Sebentar Ma, saya buatkan minum terlebih dahulu."
"Tidak usah, aku tidak sudi minum dari tangan wanita jalllang sepertimu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai menantuku! Ingat itu!"
Hati Kiara terasa begiti sakit, dia tak menyangka jika Arron menyembunyikan kenyataan pahit jika mamanya ternyata tak merestui pernikahan mereka. Air mata ku pun meleleh dari kedua sudut mata Kiara.
"Simpan saja air mata palsumu wanita jallang, susah payah aku membesarkan Arron, lalu dengan mudahnya Arron mendurhakaiku karenamu!"
"Maaf Ma, Kiara nggak tahu kalo mama nggak merestui pernikahan kami."
__ADS_1
"Tidak usah berbohong, semakin banyak alasan semakin aku tak bisa mempercayaimu dasar wanita berhati iblis, aku tidak butuh drama dan air mata darimu!" teriak Inez lalu pergi sambil menutup pintu dengan begitu keras.
"Mas, kenapa kamu nggak pernah ngomong kalo ternyata Mama nggak setuju sama hubungan kita."