Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Rumah Baru


__ADS_3

Gerakan Arron tentu saja membuat mobil yang mereka tumpangi berguncang, Arron menarik hand jok di samping tempat duduk Kiara, lalu dengan gerakan cepat dia memindahkan tubuhnya ke atas tubuh Kiara. Kiara berpegangan pada jok mobil saat Aron mempercepat tempo gerakannya. tetapi gerakan itu terjeda saat ponsel Kiara berbunyi.


Awalnya, mereka mengabaikan ponsel itu, karena sudah begitu hanyut pada gairah. Tetapi dering ponsel yang terus menerus berbunyi, membuat Kiara melepaskan tautan bibirnya dari bibir Arron. Laki-laki itu pun tak bisa protes saat melihat tatapan tajam Kiara yang seolah meminta waktu. Dia lalu mengambil ponsel yang terletak di samping tubuhnya, sementara Arron, tetap melakukan aktivitasnya.


"Ha-halo," jawab Kiara dengan suara berat. Sekuat tenaga, dia berusaha menahan agar tak mendesah dan menimbulkan kecurigaan pada rekan bisnis yang sedang meneleponnya. Melihat ekspresi Kiara yang tersiksa saat menahan dessahannya, Arron pun sengaja mengerjai wanita itu, menghentak keras bagian bawahnya.


"Akh!" teriak Kiara spontan, hingga membuat rekan bisnisnya di ujung sambungan telepon terkejut.


[Anda kenapa, Nona Kiara?]


[Shhh... Ah, oh tidak apa-apa.}


[Oh syukurlah kalau begitu, saya hanya memastikan pada anda tentang petemuan kita. Anda sudah di Jakarta kan?]


[Su-sudah, anda tenang saja.]


[Baiklah, sampai bertemu setengah jam lagi, Nona Kiara.]


[Iya, sampai bertemu nanti.]


Kiara menutup teleponnya sambil menatap tajam pada Arron. "Mas apa-apaan kamu?" Arron pun tertawa terbahak-bahak sambil terus memainkan bagian bawahnya. "Rasakan sensasinya, Sayang."


"Dasar gila!"


"Gila, karena cinta? Hm?"


"Udah ah, jangan lama-lama, Mas. Setengah jam lagi, aku harus ke restoran bertemu dengan rekan bisnisku," sahut Kiara. "Tunggu sebentar, Sayang."

__ADS_1


"Cepat selesaikan, Mas," protes Kiara kembali. Arron pun mengangguk, lalu mempercepat tempo gerakannya di bawah sana. Kiara menghela nafas panjang, rasanya dia begitu lega, setelah melewati percintaan yang terasa absurd itu.


"Kamu memang gila, Mas. Lain kali, jangan di mobil ataupun di tempat umum seperti ini!" protes Kiara sambil merapikan pakaiannya. "Memangnya kenapa? Nggak ada yang lihat kan?" balas Arron dengan santainya, sambari menata kemejanya yang kusut. "Ck, pokoknya aku nggak mau lagi, kayak nggak ada tempat lain aja!"


"Oh, jadi kamu udah nggak sabar bercinta sama aku di tempat lain?"


"Mas..."


***


Satu jam kemudian, Kiara tampak keluar dari sebuah restoran. Di halaman restoran tersebut, tampak Arron berdiri dengan menggunakan kaca mata hitam, menyandar pada mobil miliknya, sembari merokok. "Sudah?" tanya laki-laki itu. "Iya, sudah selesai," jawab Kiara disertai senyuman yang begitu manis.


Arron kemudian membuang puntung rokoknya, lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Kiara masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah itu, baru dia masuk ke dalam mobilnya, ketika dia baru duduk di jok mobil, Arron menarik tengkuk Kiara, dan langsung mencium bibirnya dengan ******* yang begitu kuat. Sebuah ciuman yang terasa begitu nikmat bagi keduanya, sebuah ciuman yang juga disertai dengan aroma tembakau yang terkecap manis bersamaan dengan alunan lidah Arron yang mengabsen rongga mulut Kiara.


"Kita pergi sekarang?" tanya Arron setelah melepaskan tautan bibir mereka. Kiara pun mengangguk. Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah minimalis dengan halaman yang cukup luas, dipenuhi dengan aneka tanaman dan bunga. "Ini rumah siapa, Mas?" tanya Kiara.


"Tidak mungkin, aku masih tinggal di Bandung. Kau juga tahu kan aku bekerja di sana?"


"Keluarlah dari pekerjaanmu, nanti akan kucarikan pekerjaan di sini. Tapi tidak di kantorku, itu terlalu berbahaya bagimu. Dan kita akan memulai hubungan indah ini lagi, kita tinggal di sini bersama."


"Ti-tidak bisa Mas, tidak bisa semudah itu," tolak Kiara. "Pasti bisa karena aku yang akan memaksamu. Ayo kita turun!" perintah Arron. Mulut Kiara tertutup rapat, sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tetapi rasanya tertahan di mulut, lidah itu tiba-tiba terasa begitu kelu. Saat masih termenung dalam diam, tiba-tiba lamunannya tersentak, ketika pintu mobil di sampingmya terbuka. "Ayo turun, Ara!"


"Iya Mas," jawab Kiara singkat, dan memilih untuk menyimpan kembali sebuah hal, yang awalnya ingin dia katakan.


***


Dua Hari Kemudian..

__ADS_1


Kiara tampak duduk sambari menatap rintik hujan, lelehan sisa air hujan di dinding kaca kian menambah syahdu suasana sore ini. Tubuh wanita itu, hanya terbalut kemeja putih milik Arron yang kebesaran. Hari ini, memang Kiara sudah kehabisan pakaian, dia lalu menyusuri koridor di samping taman.


Taman itu, terlihat begitu indah sesuai dengan keinginannya yang ingin memiliki rumah dengan berbagi macam tanaman. "Kamu suka?" tanya Aaron sambil memeluk Kiara dari belakang. Wanita itu pun mengangguk. "Kamu masih aja inget apa yang aku suka, Mas."


"Aku nggak akan pernah lupa, semua hal yang berhubungan denganmu, Kiara. Ingat itu," jawab Arron yang membuat Kiara tersipu malu. Arron memang mengisi interior rumah tersebut dengan segala sesuatu yang Kiara suka, mulai dari tatanan interior sampai warna cat dinding yang disukai oleh Kiara.


Tak luput juga, berbagai macam tanaman dan bunga yang Kiara sukai. Dia ingin Kiara bisa nyaman tinggal di rumah tersebut, meskipun Kiara belum bisa sepenuhnya setiap hari tinggal di rumah itu karena beberapa hari lagi, Kiara harus pulang ke Bandung, dan Arron tak mau membuang kesempatan itu bersama Kiara. "Ngomong aja kalo ada bagian yang nggak suka, nanti aku renovasi."


"Udah kaya gini cukup, aku suka banget kok, Mas," jawab Kiara sambil mengangguk, matanya terus berbinar. Dia tak menyangka akan merasakan kebahagiaan seperti ini, kembali bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Meskipun di dalam hati terdalamnya, tetap saja ada sebuah kesedihan karena laki-laki itu sudah menjadi milik dari wanita lain, dan tidak bisa dia miliki sentuhnya.


"Ara, suatu saat nanti, aku pasti akan menikahimu. Kalau kita punya anak, mereka pasti senang bermain di taman itu," tunjuk Arron pada taman di samping rumah, yang sudah disertai ayunan di sudut taman itu. "Anak?" batin Kiara, seraya merasakan rasa sesak di dada.


Mata wanita itu pun terlihat berembun, tetapi dia cepat-cepat menghapus air mata yang mulai menetes di kedua sudut matanya agar Arron tak melihatnya. "Kamu kenapa? Kok jadi sedih gini?" tanya Arron. "Nggak apa-apa, Mas."


"Kamu sedih mikir hubungan kita? Kamu tenang saja Kiara, aku akan berusaha agar kita bisa rujuk kembali." Kiara pun mengangguk, mencoba meyakinkan diri dengan percaya pada perkataan Arron. Meskipun, rasanya bisa rujuk kembali dengan laki-laki itu, hanya sebatas mimpi.


"Ara, aku pengin kamu hamil anak aku."


"Tapi Mas..." elak Kiara, namun laki-laki itu malah menarik pantat Kiara, dan menggendongnya bak koala. "Jangan jahil, Mas," protes Kiara, tetapi wajah Aaron malah memperlihatkan seringai licik. "Kita main satu kali lagi," bisik Arron di telinga Kiara. "Tapi, tadi kita sudah melakukannya dua kali."


"Satu kali lagi, Sayang."


"Dasar messum!"


Tepat di saat itulah, ponsel Arron berbunyi. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan melihat nama Queen, awalnya Arron tidak mau mengangkat. Namun, Kiara terus memaksanya dengan menggeser layar pada ponsel itu hingga otomatis panggilan itu pun terangkat. Terpaksa, Arron pun menjawab panggilan telepon tersebut.


[Halo Pa, aku datang ke kantor. Tapi, kenapa sekretarismu bilang kalo kamu sedang cuti? Memangnya kamu dimana, Pa? Bukankah kamu bilang ada urusan di Bandung?] Mendengar pertanyaan Queen, Arron dan Kiara pun saling tatap. "Bagaimana kalau dia curiga, Mas?"

__ADS_1


__ADS_2