Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Aku Cinta Padamu


__ADS_3

[Ada apa Ma?]


[Kapan kau pulang, Arron?]


[Kapan-kapan kalau urusannya sudah beres.]


[Arron, kamu kok gitu sih sama mama?]


[Ya emang urusan Arron belum beres kok.]


[Tapi Arron, ada sesuatu hal yang ingin mama bicarakan.]


[Tentang apa Ma?]


[Tentang Queen.]


[Mau bicara apalagi tentang Queen, Ma. Ingat ya, Ma. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah dengan Queen! Camkan itu baik-baik Mamaku sayang, oke? Kalau begitu aku pergi dulu ya.]


[Arron, kamu kok gitu sih sama mama. Kamu anak mama bukan sih?]


[Bukan Ma, Arron anak Maria Marcedes, udah ya, mau ngejar cinta nih.]


[Arron!]


***


Sorenya...


Kiara yang seharian di kamar kosnya tampak duduk di atas ranjang seraya menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, dan dia belum ingin beranjak dari atas ranjang. Setelah sampai di kos, Kiara memang sangat tidak bersemangat. Apalagi ketika mengingat jika Arron telah menghancurkan hidupnya.


Saat sedang merasa gundah itulah, tiba-tiba pintu kamar kosnya diketuk seseorang. Meskipun merasa malas, Kiara akhirnya bangkit dari tempat tidurnya untuk untuk melihat siapa yang datang. Jika yang datang Arron, maka dia tidak akan membuka pintu kamar itu. Akan tetapi, ternyata yang datang adalah Lia. Gegas, Kiara pun membuka pintu kamar kosnya.

__ADS_1


"Kiara kamu baik-baik aja kan?" pekik Lia sambil menghambur ke pelukan Kiara.


Kiara hanya diam, lalu menatap Lia dengan tatapan sayu, detik berikutnya butiran bening pun kembali keluar dari kedua sudut matanya.


"Kamu kenapa, Kiara? Kamu baik-baik aja kan? Untung saja Kak Arron menyelamatkanmu, kalau tidak mungkin kau sudah dicelakai oleh orang suruhan Kak Queen itu. Cih, wanita ular itu memang sangat menyebalkan!"


Mendengar perkataan Lia, Kiara pun mengurutkan keringnya. "Apa? Kak Arron menyelamatkanku?"


"Ya, bukankah Kak Arron yang membawamu pulang ke sini? Dia yang kemarin menyelamatkanmu dari laki-laki brengsek suruhan Kak Queen itu, Kiara. Wanita jadi-jadian itu menyuruh seorang lelaki untuk berbuat hal yang tidak-tidak padamu. Namanya saja Mak Lampir, pantas saja hatinya jahat! Bahkan, aku punya buktinya," ujar Lia sambil memperlihatkan ponselnya yang merekam video kemarahan Arron pada Queen.


Sejenak Kiara pun tertegun. "Kenapa Kiara? Kenapa wajahmu aneh seperti itu? Lalu kenapa kau masih bersedih? Bukannya seharusnya kau bahagia Kak Arron sudah menyelamatkanmu?"


Kiara menggeleng disertai raut wajah yang semakin sendu. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan Lia, nyatanya tidak seperti itu. Kak Arron tidaklah sebaik yang kau bayangkan, dia malah membawaku ke hotel dan aku yakin, dia juga berbuat hal yang tidak-tidak padaku."


"Berbuat hal yang tidak-tidak bagaimana, Kiara?"


"Sejujurnya aku pun tidak bagaimana jelasnya. Tapi aku yakin, dia sudah berbuat jahat padaku, aku yakin dia sudah merenggut kesucianku, kalau tidak untuk apa dia membawaku ke hotel?"


"Kiara, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa saat kau bangun, kau dan Kak Arron tidur di ranjang yang sama dalam keadaan telanjang? Coba ceritakan semuanya padaku, Kiara."


"Tidak, tidak seperti itu, Lia. Tapi, coba kau pikir, apa yang dilakukan oleh dua orang lawan jenis ketika berada di dalam satu kamar? Lantas kenapa dia sampai membawaku ke hotel kalau tidak berniat jahat padaku?"


"Astaga, jadi kau menuduh Kak Arron tanpa bukti?"


"Aku tidak perlu bukti, Lia. Aku sudah tahu bagaimana laki-laki seperti apa Kak Arron itu, dia itu buaya darat."


"Tapi kau tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti Kiara, kalau dia sudah melakukan itu, pasti bagian bawah tubuhmu terasa sangat sakit. Bahkan, ada beberapa orang wanita yang sulit berjalan, lalu apa kau merasakan semua itu?"


Kiara pun begitu tertegun mendengar perkataan Lia, karena memang sejak dia bangun, dia tidak merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, semua terasa baik-baik. Detik itu juga, wanita itu pun baru menyadari apa yang dikatakan oleh Lia memang benar, seharusnya dia merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya jika Arron telah merenggut kesuciannya. Akan tetapi, nyatanya tidak. Dia tidak merasakan apapun, bahkan tidak mengalami kesulitan saat berjalan.


"Kiara kenapa kamu diem? Apa kamu merasakan sesuatu yang aneh di tubuhmu?"

__ADS_1


Kiara pun menggeleng pelan. "Astaga Kiara, jadi kamu udah nuduh Kak Arron tanpa bukti?"


Kiara pun menggigit di bibir bawahnya saat menyadari kesalahannya.


"Sepertinya kau benar, aku sudah menuduh Kak Arron tanpa bukti. Aku memang tidak merasakan keanehan di tubuhku apalagi di bagian bawah, aku tidak merasakan sakit apapun," lirih Kiara seraya memejamkan matanya sambil mengingat betapa kasarnya dia bersikap pada Aron. Padahal laki-laki itu selalu bersikap baik padanya, hanya karena ketidaksukaannya, dia sampai menutup mata atas kebaikan yang dilakukan Arron padanya


"Kiara sebaiknya kau minta maaf pada Kak Arron secepatnya sebelum keadaannya semakin rumit. Kita memang tidak tahu alasan Kak Arron membawamu ke hotel, mungkin saja dia melakukan itu karena kau sudah sangat tidak terkendali, sedangkan kau tahu kan jarak rumah villa ke rumah sakit itu sangat jauh, memakan waktu 1 jam lamanya. Mungkin karena alasan itulah dia membawamu ke hotel untuk mengendalikan kondisimu Kiara."


Mendengar perkataan Lia, Kiara pun semakin merasa bersalah, memang selama ini dia membenci Arron, dan selalu mencari-cari alasan untuk menjauh dari laki-laki itu. Akan tetapi, rasanya sikapnya tadi pagi memang sudah sangat keterlaluan. Dia bahkan mengabaikan logika hanya untuk egonya semata, dan tentunya pasti sangat melukai perasaan Arron.


"Kiara, lebih baik kau minta maaf pada Arron secepatnya."


"Iya Lia," jawab Kiara, lalu mengutak-atik ponselnya untuk menelpon Arron. Akan tetapi, sialnya nomer tersebut sedang tidak aktif.


"Nggak aktif, Lia."


"Ya udah kalau gitu, besok temui Kak Arron di kampus saja."


Kiara pun mengangguk disertai rasa bersalah yang amat dalam.


***


Kiara berjalan di lorong kampus, entah mengapa lorong ini terasa begitu panjang, rasanya dia sudah ingin berada di kamar kostnya sambil meratapi kebodohannya. Sudah sebulan berlalu sejak kejadian di villa itu, dan Kiara tidak pernah melihat sosok Arron lagi di kampus.


Bahkan hingga satu semester berlalu, batang hidung Arron juga belum pernah terlihat. Akan tetapi, Kiara sempat mendengar dari salah seorang kakak kelasnya yang sedang berbincang jika Arron mengalami kecelakaan setelah pulang dari villa dan setelah pulih dari kecelakaan itu, dia dipindahkan orang tuanya untuk melanjutkan kuliahnya di Australia.


Kiara mencoba untuk merasa baik-baik saja, meskipun masih merasa bersalah telah menuduhnya tanpa bukti bahkan setelah kejadian itu, Arron sampai mengalami kecelakaan. Akan tetapi, sebenarnya bukankah hal ini yang sangat dia inginkan? Bukankah Kiara sangat membenci Arron dan tidak suka melihat wajahnya, apalagi mendengar gombalannya. Bukankah seharusnya dia merasa bahagia Arron sudah tidak ada di kampus itu lagi?


Kiara selalu berusaha baik-baik saja, namun dibalik kata baik-baik saja yang terlontar dari bibirnya ada rasa sakit di hatinya. Dan sialnya, dia baru merasakan cinta ketika Aron sudah pergi dari hidupnya.


"Kak Arron, kau dimana? Kapan kita bisa bertemu lagi, Kak? Jika bertemu denganmu, aku hanya ingin mengatakan, aku cinta padamu."

__ADS_1


__ADS_2