Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Sepuluh Tahun


__ADS_3

"KAU!" teriak laki-laki yang ditabrak Queen. Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Queen pun semakin menundukkan kepalanya, seolah ingin menyembunyikan wajahnya dari laki-laki yang ditabraknya itu, meskipun sialnya tak bisa.


Meskipun saat ini penampilan Queen tampak begitu berantakkan, tetap saja lelaki itu mengenalinya. Dengan gerakan cepat, gegas Queen bangkit dari atas aspal. Akan tetapi, sebelum Queen melangkahkan kakinya, lelaki itu justru mencekal tangannya erat.


"Mau ke mana kau, Queen?" Suara bariton rendah lelaki itu, semakin membuat Queen merasa begitu takut. Bersamaan dengan itu pula, terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Mas Arron!" Suara seorang wanita membuat laki-laki itu menoleh.


"Apa yang sedang kamu lakukan pada perempuan tidak berdaya itu? Jangan bersikap seperti itu padanya, kasihan dia, Mas!"


"Apa kau bilang, Ara? Tidak berdaya? Ya, kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak tahu dia siapa! Sekarang lihat ini baik-baik! Lihat, perempuan inilah yang selalu berusaha menghancurkan hidupmu, mengambil hakmu, dan juga selalu mengintervensi hidupmu! Seolah-olah dia lebih berhak mengatur hidupmu dibandingkan dirimu sendiri!" balas Arron seraya mencengkram rahang Queen agar menoleh pada Kiara.


Kiara pun merasa terkejut jika wanita itu ternyata adalah Queen, yang telah menghilang setelah 2 tahun lamanya. Melihat keadaan Queen yang saat ini terlihat begitu lusuh dan memprihatinkan, tentunya Kiara merasa iba. Hal tersebut sangat kontras dengan sikap Arron yang masih memperlihatkan kemarahan yang begitu dalam pada wanita itu. Bahkan, kilatan amarah terlihat jelas di matanya.


"Kak Queen!" lirih Kiara, lalu mendekat pada Queen dan memeluknya, tanpa rasa jijik sama sekali, meskipun tubuh Queen begitu kotor. Hal tersebut, tentunya membuat Queen merasa sungkan, perlahan dia mengurai pelukan Kiara, bukan karena wanita itu tidak mau dipeluk oleh adik tirinya, akan tetapi Queen merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kiara, wanita yang sejak dulu sangat dia benci. Saat ini, Queen hanya menundukkan matanya seraya terisak.


"Kak Queen kenapa penampilanmu seperti ini, Kak? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kau menghilang begitu saja?" Dibrondong pertanyaan oleh Kiara, Queen pun hanya bisa terdiam tak tahu harus menjawab apa. Melihat Queen yang masih terisak Kiara pun menggenggam tangan wanita itu.


"Kak Queen, lebih baik kita pulang sekarang, bersihkan tubuhmu dan ceritakan Apa yang sebenarnya telah terjadi."


"Apa kau bilang, Ara? Membawa wanita itu pulang bersama kita? Itu tidak akan terjadi! Apa kau sudah lupa apa yang telah dia lakukan padamu? Tidak hanya itu, dia juga menjadi salah satu penyebab Mama meninggal, dan kau juga harus ingat, Papa Bram juga pasti tidak akan melepaskan Queen begitu saja!"


"Tapi Mas ... "


"Tidak ada tapi-tapian, Ara! Sekarang kau ikut aku ke kantor polisi, Queen! Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan jahatmu!"


"Tapi Mas ... "


"CUKUP ARA! TIDAK USAH BERBELAS KASIH PADANYA!"


"Mas ... "


"Ara, sudah cukup jangan membelaku lagi." Queen yang sejak tadi terdiam, akhirnya ikut bersuara. Tak hanya itu, wanita itu pun memberanikan dirinya untuk menatap Arron dan Kiara.


"Cukup Ara, sudah cukup pelarianku selama ini. Sekarang, memang sudah waktunya untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahanku. Aku begitu jahat padamu, Ara. Aku memang yang sudah menjebakmu menggunkan obat perangsang itu, aku yang memfitnahmu berselingkuh, aku juga yang menghadirkan Alvian dalam hidupmu, serta kejahataanku yang lain. Dan atas nama mama, aku minta maaf padamu. Maaf Mama sudah berbuat jahat padamu dan juga keluargamu, maafkan aku, Ara."


Queen terisak, Kiara pun memeluk tubuh wanita itu. Sedangkan Darel dan Evelyn hanya melihat pemandangan itu dari kejauhan.


"Kak Evelyn, Tante itu sebenalnya sapa sih?"


"Nggak tahu Darel, kayaknya orang jahat."

__ADS_1


"Orang jahat? Ih Dalel takut, nggak mau dekat-dekat sama dia. Untungnya tadi pas Dalel kasih nasi, dia nggak culik Dalel."


"Iya, udah yuk kita masuk ke mobil Mama aja!" putus Evelyn, seraya melihat Queen dibawa Arron ke mobilnya.


"Iya Kak," sahut Darel, tanpa dia tahu, jika wanita itu adalah ibu kandungnya. Sebenarnya, sebelum Queen masuk ke mobil Arron untuk dibawa ke kantor polisi, Kiara meminta Queen untuk menemui Darel terlebih dulu, akan tetapi Queen menolaknya karena hanya akan menimbulkan rasa sakit yang semakin dalam jika bertemu anak laki-laki itu kembali.


Bertemu Darel, bagi Queen akan membuatnya semakin sulit untuk melepas anak laki-lakinya itu, sekaligus semakin berat untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pada pihak yang berwajib. Jadi, Kiara menghormati keputusan Queen untuk tidak bertemu dengan Darel terlebih dulu.


"Selamat tinggal, Nak. Sampai bertemu lagi di masa yang akan datang, semoga mamamu ini bisa memperbaiki dirinya dan jika kita bertemu lagi, aku tidak meminta apapun darimu, termasuk pengakuan. Karena aku tahu diri siapa diriku ini, aku hanyalah wanita jahat yang tidak pantas kau anggap sebagai seorang ibu," batin Queen selama dalam perjalanan.


***


Sepuluh Tahun Kemudian.


Seorang wanita tampak keluar dari sebuah pintu besi. "Tolong jangan ulangi perbuatanmu, dan jangan sampai kau kembali ke sini!" ucap wanita berseragam lapas yang membuka pintu untuknya.


"Iya Bu, terima kasih banyak." Saat wanita itu membalikkan tubuhnya, tampak sosok anak laki-laki remaja berusia tiga belas tahun berlari ke arahnya, lalu menabrak tubuhnya.


"Mama!" panggilnya seraya memeluk tubuh kurus itu.


"Ma, Darel kangen!"


"Tentu saja, Ma. Mama Kiara selalu bilang Mama Queen, mama kandung Darel. Mama lagi dapet pelatihan, dan setelah selesai Mama Queen baru bisa temui Darel. Darel seneng kita bisa ketemu, Ma."


Queen pun mengangguk, disertai rasa berkecamuk di dalam dada. Sepulah tahun, memang Darel tidak mengunjunginya, sepuluh tahun memang hanya Kiara saja yang peduli padanya, dan sekarang Kiara seakan memberikan kado terindah dengan memberi tahu jati dirinya pada putranya itu.


Queen pun terisak, dia pun mengangkat wajahnya dan melihat Kiara yang kini mendekat ke arah mereka. "Apa kabar, Kak Queen?"


"Kenapa Ara? Bukankah sudah sering kali kukatakan aku tidak pantas?"


Kiara menggeleng. "Jangan berkata seperti itu Kak, apapun yang pernah terjadi, kau tetap cinta pertama bagi putramu. Kau yang sudah mengandung selama 9 bulan dan kau juga sudah melahirkan dengan penuh perjuangan, sedangkan aku hanya menemaninya tumbuh. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu termasuk aku."


"Terima kasih Ara."


Kiara pun mengangguk. "Lebih baik sekarang kakak pulang, Papa sudah memberikan rumah untuk kakak. Ya, memang rumah itu tidak terlalu besar, akan tetapi rumah itu cukup layak untuk kau tinggali. Kakak juga bisa memulai usaha di rumah itu. Hari ini, Kak Queen juga bisa membawa Derel untuk menginap di rumahmu. Derel akan hidup bersama kita, kita akan membesarkan Darel bersama."


"Aku nggak tahu harus ngomong apa, Ara. Aku udah jahat banget sama kalian, tapi kalian masih bersikap begitu baik padaku."


"Kak Queen, tolong jangan kau berkata seperti itu lagi. Lebih baik kau beristirahat saja di rumah, beristirahatlah dengan nyaman, Kak. Aku tahu, selama 10 tahun ini pasti kau sangat tidak nyaman berada di tempat itu. Sekarang, nikmatilah hidupmu kembali dengan membuka lembaran baru."


"Makasih Ara," balas Queen seraya terisak.

__ADS_1


"Aku pulang dulu ya Kak, nanti biar supirku yang akan mengantarkan kalian."


Queen pun mengangguk. Saat ini, tubuhnya masih memeluk Darel, rasanya dia belum ingin melepas pelukan itu. Rasanya, dia ingin menumpahkan semua kerinduan selama 10 tahun pada putranya tersebut.


Sedangkan Kiara, saat ini berjalan menuju mobil, dimana Arron sudah menunggunya.


"Bagaimana sudah selesai?" tanya Arron. Kiara pun menggangguk.


"Kau terlalu baik, Sayang."


"Kalau aku tidak baik, bagaimana mungkin orang gila ini jatuh cinta padaku."


"Kau masih meledekku di saat seperti ini? Ck Ara, bagaimana kalau di sini, kita mainan ular masuk ke dalam sarang. Pasti sensasinya beda."


Kiara tampak mengerutkan keningnya. "Apa itu Mas?"


"Seperti ini!" jawab Arron, lalu mendekat pada Kiara, kemudian ******* bibir tipis istrinya. Tak hanya itu, tangan nakal Arron pun menyelusup masuk ke bawah rok Kiara, lalu menurunkan pantiesnya.


"Jangan gila kau Mas, ini di dalam mobil!"


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau aku gila?"


"Ah mas ... Empt ..."


TAMAT


NOTE:


Terima kasih yang sudah ngikuti kisah ini dari awal sampai akhir, maaf di akhir episode ini updatenya agak lama karena othor sedang sangat sibuk. Selain itu, othor juga minta maaf kalau cerita ini masih banyak kekurangan dan mungkin belum bisa memuaskan pembaca. Sekian dari othor, terima kasih.


Follow akun medsos othor ya untuk mengikuti cerita terbaru othor yang tak kalah lebih menarik.


Tapi maaf cerita tersebut tidak ditulis di sini.


FB : Weny Hida


Ig : queenweny



__ADS_1


__ADS_2