
Seorang wanita menatap langit-langit tempat dia merebahkan tubuh lelahnya, di saat itulah butiran debu menerpa wajah kusutnya. Ya, saat ini tubuhnya memang berbaring di bawah jembatan fly over, bukan sebuah rumah mewah seperti tempat tinggalnya dulu. Jangankan sebuah rumah mewah, sepetak kamar kos-kosan saja tidak mampu dia sewa.
Sudah dua tahun lamanya, dia hidup seperti ini, mana kala mantan suami dan ayah tirinya mencabut semua fasilitas yang dimiliki olehnya. Haruskah dia protes? Tentu saja tidak, keberadaan dirinya tidak diketahui oleh mereka berdua saja itu sudah cukup. Setelah dua tahun yang lalu melihat Alvian, dan mantan mertuanya, Inez dalam kondisi sekarat, Queen melarikan diri tanpa membawa apa pun.
Awalnya, dia masih bisa menyewa sebuah rumah kost, akan tetapi uang yang ada di dompetnya sudah habis dalam hitungan hari, bahkan untuk sekedar mengisi perutnya, Queen harus menjual ponselnya, karena hanya itu yang dia punya. Dan bulan berikutnya, terpaksa dia hidup di jalanan, karena tak sanggup membayar sewa kamar kost. Teman-teman yang dulu selalu bersamanya, sudah menjauhinya ketika tahu keadaan Queen yang sebenarnya. Di saat itulah, dia baru tahu arti persahabatan dengan teman-temannya dulu. Persahabatan adalah uang.
Dadanya terasa begitu sesak meratapi dirinya saat ini. Wanita itu menutup matanya, saat butiran kristal menetes membasahi wajah lusuhnya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu pula, terdengar berbunyi di perutnya. Memang, sepertinya dia tidak punya waktu untuk meratapi kesedihannya saat ini.
Senja hampir turun, dan hari ini belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya, wajar saja jika cacing di perutnya mulai meronta. Di tengah keputus-asaan itulah sayup-sayup terdengar seorang wanita paruh baya berkata pada temannya.
"Cepat, datang ke depan masjid yang ada di dekat simpangan itu, ada orang kaya lagi bagi-bagi nasi kotak!"
Mendengar hal tersebut, gegas Queen bangkit, lalu dengan langkah cepat, dia kembali berjalan menuju ke masjid yang ditunjukkan wanita paruh baya itu. Rasa lemas, dihalau olehnya, dia bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Akan tetapi, saat dia sudah di dekat dengan masjid tersebut, seketika tubuhnya mematung mana kala melihat wanita yang sedang membagikan nasi kotak itu adalah sosok yang dikenal olehnya, Kiara.
__ADS_1
Wanita itu, kini tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan busana muslim. Melihat hal itu, rasa sakit seolah kembali menusuk kalbunya, terlintas kembali bagaimana kejamnya perlakuan yang diperbuat oleh dirinya, memberikan obat perangsang, memfitnahnya, belum lagi jebakan yang diperbuat olehnya dengan Alvian, belum lagi kejahatan yang diperbuat oleh mamanya yaitu dengan membuang Kiara di sebuah panti asuhan. Lalu, apa yang dia dapatkan? Apakah dia mendapatkan apa yang dia inginkan? Jawabannya tidak. Semua hanya berujung penyesalan dan derita baginya.
Queen pun membalik tubuhnya, mengurungkan niatnya itu, dan memilih untuk merasakan rasa lapar yang tak tahu sampai kapan ujungnya. Dia tak tahu keadaannya yang menyedihkan itu diketahui oleh Kiara, dia tak ingin Kiara mengatakan pada Arron dan papanya tentang keberadaan dirinya itu.
Di saat dia baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah jemari mungil menarik lengannya. Sontak, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Tante, ini dali Mama," celoteh suara cedal seorang anak laki-laki.
Mendengar suaranya, perasan Queen seakan begitu porak poranda, tanpa dijelaskan, dia pun bisa menebak siapa pemilik suara itu, yaitu Darel putranya. Tubuhnya kini bergetar, bukan karena rasa lapar seperti beberapa saat yang lalu dia rasa, akan tetapi karena rasa sakit dan hancur yang kini berkecamuk di dalam dadanya.
Akan tetapi, sekarang rasanya berbeda, dia begitu merindukan anak laki-lakinya itu. Bagaimanapun juga Queen adalah seorang wanita dan juga ibu kandungnya, naluri seorang ibu tentunya tidak bisa dia tampik. Seperti saat ini, rasanya begitu menyakitkan, saat menahan rindu yang tidak dapat dia sampaikan. Ya, tidak mungkin dia memeluk Darel, memandang wajahnya saja sepertinya tak sanggup dan begitu menyakitkan. Akan tetapi, celoteh anak laki-laki itu yang terus memanggil dirinya dan meminta untuk menerima pemberiannya, tidak bisa dia abaikan lagi.
Queen lalu berjongkok di depan putra kandungnya itu, meskipun disertai rasa yang berkecamuk di dalam dada. "Tante, kata Mama ini buat Tante," ujarnya dengan suara mungil serta tatapan polosnya, tentunya hal tersebut membuat hati Queen begitu sakit. Darel memang menyebut mama di depannya, akan tetapi yang Derel maksud pasti Kiara bukan dirinya.
__ADS_1
"Tante, apa Tante tidak mau menerima pemberian Delel?" sambungnya kembali. Queen pun tersenyum lalu mengambil satu kotak nasi yang diberikan Darel padanya.
"Terima kasih, kamu baik sekali."
"Kata Mama, kita harus berbuat baik sama olang lain makanya tadi waktu Tante pelgi, Mama suruh Delel buat kasih ini, Tante pasti capek kan jadi nggak mau ikut antlian."
Queen pun hanya tersenyum mendengar perkataan Darel, rasanya dia sudah tak sanggup berkata-kata menahan rasa sesak di dada. Lagi-lagi, ini tentang Kiara, entah mengapa wanita itu selalu menjadi momok baginya. Memang, dulu dia sudah merebut hak Kiara, akan tetapi keadaan tidak pernah berpihak padanya, tanpa Kiara berbuat apapun, tanpa Kiara membalas, wanita itu selalu mendapat apa yang Queen inginkan. Dan sekarang Darel pun sepertinya sangat menyayangi dan patuh pada Kiara.
Queen yakin, Kiara sudah mendidik Derel dengan baik. Dan sekarang Queen lagi-lagi harus iri pada Kiara, ralat tidak hanya sekarang, tapi sejak dulu dia sudah sangat iri pada Kiara. Akan tetapi, rasa iri itu rasanya tidak pantas karena dia lah si antagonis, bukan Kiara, dan itu harus dia sadari saat ini.
"Tante Dalel pergi dulu ya," kata anak laki-laki itu. Queen pun mengangguk, seraya menatap bocah itu yang berlari kecil menuju Kiara, dan memeluk tubuh wanita itu yang dia anggap sebagai mamanya, bukan dirinya.
Tak sanggup lagi menahan rasa sakit, Queen pun membalik tubuhnya, dan di saat itulah tiba-tiba dia menabrak seseorang, lebih tepatnya seorang laki-laki bertubuh tegap.
__ADS_1
"Aduh ..." rintihnya