
Perlahan, laki-laki paruh baya dan Arron mendekat pada Kiara yang masih menatapnya dengan tatapan tanda tanya. Wanita itu pun mengalihkan pandangannya pada Arron, seakan mencari jawaban atas pertanyaan yanga ada di dalam benaknya. Dan laki-laki itu pun hanya mengangguk. Melihat sikap Arron, Kiara pun mengerti jika dugaannya itu benar jika laki-laki paruh baya itu adalah ayah kandungnya, Bramasta.
"Putriku ... " Bram bergumam lirih, seraya terisak, sebenarnya dia ingin memeluk tubuh putrinya yang baru dia temui, akan tetapi dia ragu. Dia menyadari kebodohannya dulu, yang sudah lengah menjaga Kiara hingga membuat putrinya harus terpisah darinya, dan Bram tidak yakin, Kiara bisa langsung menerimanya.
Kiara pun balas menatap Bram dengan tatapan nanar, kedua sudut matanya, mulai mengeluarkan cairan bening yang kini sudah lolos begitu saja, dan mulai membasahi pipi dengan begitu derasnya.
"Papa ... " lirih Kiara dengan suara yang sangat pelan, menahan rasa sesak di dada. Dua puluh delapan tahun, bukan waktu yang singkat, dan selama itulah dia baru bertemu dengan ayah kandungnya, rasanya hatinya begitu sakit mengingat semua kemalangan yang menimpa keluarganya.
Sedangkan Bram, mendengar Kiara memanggil namanya pun menatap putrinya. Ada rasa haru yang menyeruak di dalam dada. Rasanya bahkan seperti mimpi dia bisa bertemu dengan Kiara, padahal dia sudah begitu putus asa saat harapan untuk mengetahui keberadaan putrinya itu begitu kecil.
"Kau tidak marah padaku, Nak?"
"Tidak ada alasan untuk marah pada Papa," balas Kiaras seraya menatap Bram dengan tatapan sendu.
"Tapi papa sudah gagal menjagamu." Bram menundukkan kepalanya seraya terisak. Kiara pun mengulurkan tangannya, menggenggam jemari ayah kandungnya itu.
"Papa, jangan berkata seperti itu, semua yang terjadi bukanlah kesalahan papa."
"Tapi papa sudah lalai karena hanyut dalam kesedihan sendiri, Nak."
"Kehilangan orang yang disayangi, itu tidak mudah, rasanya begitu sakit, bahkan hingga membuat harapan dan semangat hidup kita juga ikut hilang. Aku paham bagaimana perasaan Papa, kalau Papa sayang denganku, tolong jangan katakan ini kesalahan Papa."
__ADS_1
Bram pun mengganguk di sela isak tangisnya, lalu mendekap tubuh Kiara, melupakan rasa rindu sekaligus haru di dalam dada.
"Aku tidak pernah menuliskan sebuah nama pada batu nisan yang mereka katakan makam putriku, karena hati kecilku selalu menolak untuk mengakui makam itu adalah makam putriku, dan keyakinanku ternyata benar, kau masih hidup Kiara, kau masih hidup ... "
Bram tergugu, seraya memeluk Kiara kian erat, sedangkan Kiara hanya mengangguk. Dia sadar, semua yang terjadi pada hidup Bram, pasti terasa begitu berat, kehilangan istri, dibohongi jika anak kandungnya sudah meninggal, dan hidup dalam pengaruh dari Queen dan juga mamanya selama bertahun-tahun pasti sangat menyesakkan dada.
Arron yang melihat pemandangan di depannya pun ikut tersenyum haru, ada kelegaan yang begitu luar biasa di dalam hatinya, selain karena bisa mencegah pernikahan Kiara dengan Alvian, setidaknya Arron pun bisa memastikan jika Kiara tetaplah miliknya, lebih tepatnya hanya miliknya, karena satu-satunya laki-laki yang memiliki Kiara hanyalah dirinya. Apalagi setelah mengetahui jika Kiara, adalah wanita yang dijodohkan dengannya sejak dulu.
"Kiara hanyalah milik Arron, dan akan selamanya seperti itu. Akulah pemilik hati dan ragamu, Ara. Sekaligus pemilik kehormatanmu," gumam Arron seraya tersenyum simpul, tak lupa, dia memfoto pemandangan yang ada di depannya, dan dia kirimkan pada Inez, disertai dengan penjelasan tentang kebenaran yang sebenarnya.
"Mas, bagaimana keadaan anak kita? Anak kita bisa diselamatkan, kan?" tanya Kiara yang memecah atensi Arron manakala laki-laki itu baru saja mengirimkan pesan pada Inez. Arron hanya terdiam.
"Emh, itu ... "
***
Sementara itu, Inez yang sejak tadi sedang bersantai di rumahnya, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah pesan dari Arron. Ketika dia membuka pesan itu, mata Inez pun terbelalak, perasaannya begitu campur aduk.
"Apa? Kiara putri kandung dari Bram? Bagaimana mungkin?" gumam Inez saat membaca caption di bawah foto tersebut.
Detik selanjutnya, sebuah voice note pun dikirimkan Arron yang berisi pengakuan Queen ketika dia berada di panti asuhan.
__ADS_1
"Astaga, jadi selama ini aku sudah dibohongi oleh Queen dan mamanya? Oh tidak, ini sungguh memalukan, selama ini aku menentang hubungan Arron dan Kiara hingga melakukan persekongkolan yang begitu keji dengan Queen untuk memisahkan Arron dan Kiara, akan tetapi ternyata aku salah, aku telah dipecundangi oleh dua orang wanita licik itu. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus meminta maaf pada Kiara? Astaga, ini sangat memalukan, apa dia masih mau memaafkanku atas kejahatan yang kulakukan padanya?"
Inez menggigit bibir bawahnya, di saat itulah tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Gegas, seorang pembantu rumah tangga keluar untuk membuka pintu rumah itu. Tak berapa lama, pembantu itu pun mendekat padanya.
"Ada apa, Bi? Siapa yang datang?"
"Nyonya Queen, Nyonya."
Mendengar nama Queen, emosi Inez pun seketika meletup, dengan langkah cepat, dia berjalan ke arah pintu, lalu menatap menantunya itu yang saat ini tersenyum padanya.
"Selamat sore, Ma."
"Mau apa kau wanita jalaang! Selama ini, ternyata kau telah membohongiku! Aku benar-benar muak pada wanita menjijikkan seperti dirimu, Queen. Dan aku, tidak akan tinggal diam atas kebohongan besar yang kau lakukan padaku dan juga keluargaku! Kau sudah menginjak-injak harga diri kami!"
"Oh, jadi Mama sudah tahu? Pasti putra kesayangan Mama yang sudah memberi tahu, 'kan?" balas Queen seraya tersenyum sinis. Sebenarnya dia merasa terkejut, akan tetapi dia menutupi kegundahan hatinya dengan bersikap seolah baik-baik saja.
"Aku tidak akan tinggal diam, aku akan menyeretmu ke pihak yang berwajib, dan kau harus mempertanggung jawabkan semua kejahatanmu!"
Mendengar perkataan Inez, Queen pun terkekeh. "Apa, kejahatanku? Bukankah Mama juga ikut melakukan kejahatan itu bersama denganku?" Inez pun melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Queen.
"Jadi, Mama sudah berani menamparku? Kalau begitu, kita mulai permainan ini Ma," sahut Queen, disertai seringai tipis di wajahnya.
__ADS_1