
"Kenapa kau memukulku, Ara!" pekik Arron. "Apa Kak Arron nggak bisa sehari aja nggak gombal?"
"Gombal? Siapa yang gombal? Orang aku ngomong kenyataan kok, kamu udah bikin aku tersesat di hati kamu." Kiara menghentikan langkahnya, lalu melirik sinis pada Arron. "Diam Kak! Apa harus kusumpal mulutmu!"
Mendapat respon sinis dari Kiara, lelaki itu hanya tersenyum simpul. "Kamu cantik banget kalo lagi marah kaya gini, boleh reka ulang adegan pas aku anter kamu abis kita makan malem nggak?"
"Kak Arron!" bentak Kiara, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arron yang sedang terkekeh. Laki-laki itu pun berdiri di depan toilet, meskipun dia tahu, saat ini Kiara sedang kesal padanya, namun tak menyurutkan semangatnya untuk terus mendekati Kiara.
"Dasar, menyebalkan sekali. Dia pikir aku senang saat malam itu tiba-tiba dia menciumku? Apa dia tidak sadar setelah kejadian itu, aku nggak mau lagi balas pesan darinya? Dasar laki-laki buaya!" monolog Kiara seraya menatap wajahnya pada cermin setelah keluar dari bilik toilet. Selesai merapikan penampilannya, gadis itu pun keluar. Namun, saat melihat Arron yang masih berdiri di depan toilet, gadis itu pun berteriak.
"Kak Arron, ngapain sih kamu masih di sini?"
"Kan lagi nunggu Neng Ara..."
"Basi!" sungut Kiara, lalu berjalan meninggalkan Arron, dan kembali ke Aula. Sedangkan Arron, hanya tersenyum kecut kemudian mengikuti langkah Kiara masuk ke dalam aula.
__ADS_1
"Kok lama banget sih, Ara," protes Lia saat Kiara kembali duduk di sampingnya. "Iya, tadi di luar ketemu orang gila."
"Apa? Orang gila? Bagaimana mungkin orang gila bisa masuk ke kampus ini? Bukannya banyak security yang bertugas?"
"Ih, bawel banget sih. Tuh kalo kamu pengen tau orang gilanya!" tunjuk Kiara pada Arron yang baru saja masuk ke dalam aula tersebut. "A-apa maksud kamu, Ara? Dia Kak Arron? Cowok paling cakep, paling tajir, dan digandrungi seantero kampus, kamu sebut orang gila? Kamu yang nggak waras kali?"
"Ih kamu ngeyel banget deh, Li. Pokoknya aku nggak suka sama dia, dia nyebelin abis. Bikin bete!"
"Kok kamu bisa ngomong gitu? Emang kamu udah kenal sama Kak Arron?" desak Lia yang kini begitu penasaran mengapa tiba-tiba Kiara tampak begitu kesal pada Arron.
"Apa? Kamu pernah sedekat itu sama dia? Astaga, beruntung banget kamu, Ara. Mungkin, semua orang yang ada di sini pengen ngrasain posisi kamu, tapi kenapa kamu malah nggak suka kaya gitu sama Arron?"
"Kamu bisa ngomong gitu karena kamu nggak kenal dia, Lia. Dia itu nyebelin, genit, suka jail, belum lagi gombalan noraknya, ih pokoknya ngeselin deh. Dia itu cuma sebatas laki-laki hidung belang!"
Lia mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna perkataan Kiara. "Genit? Suka ngegombal? Kamu coba liat sikap dia deh, Ara. Dari tadi Kak Arron diem loh, waktu ada beberapa mahasiswi kakak angkatan kita yang deketin dia, dia juga cuek kok. Apalagi waktu ada cewek yang narik tangannya, dia nggak respon sama sekali loh," balas Lia, yang merasa aneh dengan pengakuan Kiara.
__ADS_1
"Kamu bisa ngomong gitu karena kamu nggak kenal sama dia, Lia."
"Aku emang nggak kenal sama Kak Arron, tapi seharusnya kamu bisa menilai, dia bersikap seperti itu cuma sama kamu atau ke semua cewek. Kalo dia bersikap kaya gitu ke semua cewek, itu tandanya dia laki-laki hidung belang. Tapi, kalo dia kayak gitu kamu, itu tandanya dia punya perasaan lebih ke kamu. Ara, kamu seharusnya merasa beruntung disukai cowok kaya dia, bukannya ngeluh kaya gini."
"Tapi dia bikin illfeel, Lia!"
"Karena hal itu sudah tertanam dalam mindset kamu, coba kamu buka hati kamu. Lihat kebaikan Arron yang pernah dia lakuin biat kamu. Bukannya kamu tadi bilang kalo dia yang udah bantu kamu biar bisa masuk ke Universitas ini, kan? Itu tandanya dia tulus, jangan sia-siakan dia Ara, nanti saat dia sudah menjauh, takutnya kamu nyesel. Apalagi, kalau dia jadi milik cewek lain, jangan sampai rasa itu datang terlambat setelah dia pergi, Ara."
"Nyesel? Nggak mungkin lah, aku malah bersyukur kalo dia sama cewek lain. Aku males ladenin dia."
"Ya udah terserah kamu aja deh, mungkin dia emang bukan tipe kamu. Kalo gitu aku rebut aja deh," kekeh Lia. Kiara hanya terdiam mendengar penuturan Lia. Memang apa yang Lia katakan tentang Arron itu benar, selama ini Arron hanya bersikap genit pada dirinya, tidak pernah pada wanita lain.
Padahal, saat dia makan malam dengan laki-laki itu, banyak tatapan dan sikap menggoda yang diperlihatkan wanita lain yang mereka jumpai di restoran tersebut. Belum lagi dengan seorang wanita yang bernama Queen. Wanita itu tampak berharap banyak pada Arron. Tetapi, laki-laki itu bersikap dingin padanya.
Kiara melirik pada Arron yang saat ini masih berdiri di depan. Ya, laki-laki itu memang sangat tampan, dan Kiara baru menyadari itu saat Arron sedang diam, dan tidak banyak tingkah. Saat sedang asyik mengamati Arron, tiba-tiba saja laki-laki itu menatap ke arahnya, dan pandangan mereka bertemu pada satu titik.
__ADS_1
Spontan, Arron pun tersenyum disertai bibirnya yang bergerak maju ke depan, seolah sedang memberikan cium jauh pada Kiara. "Astaga Kiara, ngapain sih pake liatin dia, pasti jadi GR tuh si playboy cap kurap," gumam Kiara sambil mengigit bibir bawahnya.