Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Tanpa Ada Mereka


__ADS_3

Kiara mengakhiri kisahnya diiringi derai air mata. Sedangkan Arron hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Semua yang diceritakan oleh Kiara benar-benar diluar dugaannya, dia pun tak menyangka jika kisah cintanya dengan Kiara akan serumit ini. Bahkan terlihat seperti tarik ulur diantara keduanya, tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya, belum lagi ternyata selama ini ada buah hati diantara mereka.


Dan bodohnya, Arron tidak mengetahui itu. Seketika, dia pun hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang dulu begitu mudah tersulut emosi dan dengan mudahnya percaya dengan semua fitnah yang dilakukan oleh mamanya.


Melihat Kiara yang kini terisak, laki-laki itu pun menyeka air mata yang membasahi pipi wanita itu. Namun, tak hanya Kiara, dirinya pun saat ini ikut terisak.


"Maafkan aku, Ara. Maafkan aku, semua ini terjadi karena kebodohanku. Saat itu, aku memang terlalu bodoh, Ara. Seandainya, aku masih menggunakan akal sehatku, tentu tidak akan terjadi hal seperti ini. Kalau saja aku bisa mengendalikan emosiku, tentu saat ini kita bisa hidup bahagia dengan putri kita, tanpa ada mereka..."


Arron tak melanjutkan lagi kata-katanya, lalu kembali terisak, sorot mata dan wajahnya sarat akan penyesalan yang mendalam. "Ini salahku, Mas. Seharusnya aku emang nggak ganggu kamu, seharusnya aku nggak masuk lagi dalam hidup kamu, seharusnya aku nggak usik kamu dengan masa lalu kita yang telah usai. Seharusnya kita bisa hidup bahagia dengan cara kita masing-masing, bukan seperti ini."


"Nggak Ara, tolong jangan berpikir seperti itu. Tolong jangan berubah pikiran Ara. Suatu saat, aku yakin kita pasti bisa bahagia, kita bertiga. Tanpa ada mereka."


"Mas Alvian dan Queen? Aku belum sanggup mutusin Mas Alvian," sahut Kiara seraya menggelengkan kepalanya.


"Kamu cinta dia? Apa kamu cinta sama Alvian?"


Kiara hanya menundukkan kepalanya seraya terisak. "Kamu nggak bisa boong, Ara. Aku tahu kamu nggak pernah cinta sama dia kan? Aku tahu di hati kamu cuma ada aku."


"Tapi dia udah baik banget sama aku dan Eveline, Mas. Aku nggak bisa mutusin Mas Alvian gitu aja, itu terlalu kejam. Selain itu, juga ada Eveline. Dia sangat tergantung sama Mas Alvian. Sejak Eveline kecil, Mas Alvian udah jadi sosok ayah buat Eveline."

__ADS_1


"Tapi aku ayah kandungnya. Dan Eveline berhak tahu siapa ayah kandunya. Aku ingin bertemu dengan Eveline, Ara!" sahut Arron seraya merasakan sesak di dada. Hatinya terasa begitu sakit saat mendengar putri kandungnya lebih deket denga laki-laki lain dibandingkan dengan dirinya sendiri.


"Mas, aku bisa temuin kamu sama Eveline, tapi nggak semudah itu kasih penjelasan ke dia. Dia butuh waktu biar paham gimana posisi dan hubungan kita, Mas."


Arron hanya terdiam, sorot matanya dipenuhi amarah dan kekesalan, terutama pada dirinya sendiri.


"Aku memang bodoh!" geram Arron, rahangnya tampak mengeras, disertai tangan yang mengepal erat. Melihat emosi Arron yang tidak stabil, Kiara pun memeluk mantan suaminya itu.


"Mas, tenangkan diri kamu. Aku pasti bakal temuin kamu sama Eveline. Kita kasih penjelasan pelan-pelan sama dia ya, Mas. Dan aku yakin, kita pasti punya jalan keluar atas semua hubungan yang rumit ini. Entah kelak kita bisa bersama atau tidak, aku yakin pasti akan ada jalan keluar yang terbaik."


"Kamu nggak boleh ngomong gitu, Ara. Apapun akan aku lakuin asal kita bisa terus bersama! Lebih baik aku mati daripada biarin kamu sama Eveline hidup sama laki-laki itu."


"Ara, kamu percaya sama aku kan? Apapun akan aku lakuin biar kita bisa bersama. Ingat Ara, kita seperti ini karena mereka. Siapa yang terlebih dulu jahat? Kita atau mereka?"


"Tapi bagaimana dengan Mas Alvian?"


"Pikir baik-baik, Ara. Kalau kau melanjutkan hubunganmu dengan Alvian sampai jenjang pernikahan, hal itu jauh lebih kejam. Dan, saat dia tahu kau hanya berpura-pura ataupun sebatas kasihan, dia pasti akan merasa sangat sakit."


Kiara termenung mendengar perkataan Arron, memang yang dia katakan itu benar. Tapi menjalin hubungan di belakang orang yang juga benar-benar mencintai mereka bukankah itu juga hal yang kejam, begitu yang ada di benak Kiara, hingga membuat Kiara masih saja termenung. Sampai sebuah kecupan hangat di bibir Kiara, akhirnya memutuskan lamunan wanita itu.

__ADS_1


Kiara pun menatap Arron yang saat ini menatapnya dengan tatapan hangat. "Ara, kamu percaya sama aku kan? Aku pasti akan cari cara agar kita bisa tetap bersama, yang terpenting kau yakin padaku."


Kiara pun menganggukkan kepalanya, lantas memeluk tubuh Arron. "Sayang, apa kau punya foto Eveline? Aku ingin melihat bagaimana wajah putriku."


"Tentu, sebentar," jawab Kiara disertai senyum yang begitu manis. Tentunya, dia pun tidak sabar untuk memperlihatkan wajah Evelyn yang sangat mirip dengan Arron.


"Ini putrimu!" tunjuk Kiara sambil memperlihatkan foto-foto Evelyn di ponselnya.


Aaron pun memperhatikan foto gadis kecil berusia 6 tahun itu disertai senyum yang mengembang di bibirnya. Tentunya, dia merasa begitu bahagia ternyata memiliki putri dengan Kiara. Hal itu, bisa semakin memperkuat dirinya agar bisa kembali dengan Kiara. Meskipun dia pun tahu pasti tidak mudah untuk bisa bersatu kembali dengan Kiara dan juga Evelyn.


"Dia sangat cantik, tapi wajahnya sangat mirip denganku. Aku yakin, saat kau merindukanku, pasti kau memandang wajah Evelyn. Iya kan?" ledek Arron seraya mengerlingkan matanya.


"Kau terlalu percaya diri, Mas."


"Percaya diri? Kau yang tidak usah malu-malu mengakui semua itu, Sayang," ucap Arron seraya memeluk tubuh Kiara dari belakang, lalu mengecup tengkuk dan pundak wanita itu hingga membuatnya tertawa geli. Tepat di saat itulah, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk seseorang.


"Permisi!" ucap sebuah suara dari luar pintu. Seketika, Arron dan Kiara pun berpandangan karena mereka mengenal siapa pemilik suara itu.


"Mas bukannya itu suara Queen?"

__ADS_1


__ADS_2