
Arron menghela nafasnya dengan kasar, sudah tiga minggu lamanya dia mendekati Queen, akan tetapi dia belum juga mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan anak kandung dari Bramasta.
Saat tengah memijat pelipisnya, tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka. Sosok Queen, masuk ke dalam ruangan itu dengan lingerie merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya, bagian tubhnya pun terlihat jelas balik lingerie dengan bahan menerawang itu.
Arron berpura-pura tak melihat, dia tampak menundukkan kepalanya dan berkutat dengan pekerjaannya. Detik selanjutnya, Queen mendekat ke arahnya lalu memeluk tubuh laki-laki itu dari belakang dan menciumi tengkuk dan bahu suaminya.
Mendapat perlakuan mesra dari Queen, Arronn hanya memejamkan mata, sungguh dia tidak merasa tergoda dengan istrinya tersebut. Akan tetapi, sebisa mungkin Arron harus berpura-pura tidak risih dengan sikap Queen, agar wanita itu tidak curiga padannya.
"Maaf Queen, aku masih banyak pekerjaan."
"Jadi kau menolakku?" sungut Queen.
"Bukan seperti itu sayang, tapi kau lihat sendiri kan aku memang sedang banyak pekerjaan karena besok pagi ada presentasi yang harus kulakukan. Kau lihat sendiri kan, pekerjaan ini belum ada setengahnya yang ku kerjakan," jawab Arron.
Arron tak berdusta, memang banyak pekerjaannya yang terabaikan selama 3 minggu terakhir ini karena sibuk memikirkan Kiara, dan juga mencari informasi dari Queen tentang keberadaan anak kandung Bramasta. Akan tetapi, selama 3 minggu ini ternyata sangat minim informasi yang didapat dari istrinya itu.
"Jadi, besok kau ada presentasi? Kau pasti sibuk kan? Baiklah kalau begitu, besok aku juga mau minta izin padamu."
Arron tampak mengerutkan keningnya. "Minta ijin? Memangnya kau mau ke mana, Sayang?"
"Aku ada urusan bisnis dengan teman-temanmu, kau tahu sendiri kan aku sedang membuka butik dan juga cafe."
Arron pun mengangguk, namun jauh di dalam lubuk hatinya dia menyimpan tanda tanya apakah benar Queen akan pergi bersama teman-temannya. Jika biasanya, Arron tidak akan curiga, akan tetapi tidak dengan sekarang. Saat ini, gerak-gerik Queen tidak boleh luput dari pengamatannya.
Meskipun, selama 3 minggu terakhir ini, Queen memang tidak pernah keluar rumah, dan mungkin saja dia bersikap seperti itu agar terlihat sebagai istri yang baik di mata Arron, agar laki-laki itu terus memberi perhatian padanya. Dan baru hari ini, Queen meminta izin untuk pergi dengan teman-temannya, tentunya Arron memperbolehkannya karena bisa saja, Quenn akan mendapatkan informasi dari kepergian Queen tersebut.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku tidur dulu ya, Sayang. Jangan terlalu lelah."
"Iya," jawab Arron singkat untuk mengakhiri interaksinya dengan Queen.
Setelah itu, Queen memberi kecupan di pipi Arron, disambut senyum hangat dari laki-laki itu, tentunya sebuah senyum kepura-puraan.
Queen keluar dari ruang kerja Arron lalu masuk ke dalam kamarnya dan menelepon seseorang.
[Bagaimana apa ada kemajuan?] tanya Queen pada orang yang dia hubungi.
[Lancar-lancar saja, satu minggu lagi kami akan menikah, kau bisa bebas Queen dan hidup bahagia dengan suamimu itu.]
[Kerja bagus, setelah kau menikah dengan Kiara, aku akan memberikan saham milik Mama yang ada di perusahaan Papa.] Detik selanjutnya, hanya terdengar tahu riuh dari ujung sambungan telepon, sedangkan Queen menutup telepon itu seraya menggerutu.
"Dasar mata duitan!"
Di sisi lain, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Akan tetapi, Kiara masih saja merasa sangat sulit untuk memejamkan matanya. Selain karena perasaannya yang masih terasa begitu berkecamuk, entah mengapa sudah dua hari terakhir ini, dia merasa kondisi tubuhnya sedikit menurun. Kepalanya, bahkan terasa begitu berat. Tidak hanya itu, dia pun juga merasa mual, dan tak nyaman dengan aroma masakan.
Kiara melirik ke ponselnya, lalu melihat tanggal di ponsel itu. Sesak, hanya itu yang dia rasakan saat mengingat jika satu minggu lagi dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Alvian.
Semua orang di rumah itu merasa begitu bahagia, tak terkecuali dengan Evelyn, tapi tidak dengan dirinya. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan Evelyn, gadis kecil itu, sudah sangat dekat dengan Alvian. Dan tentunya, dia sudah tidak sabar untuk memiliki seorang ayah, sama seperti teman-temannya.
Kiara lalu melirik pada Evelyn yang saat ini sudah terlelap, wajah itu terlihat begitu damai dalam tidurnya. Beberapa hari terakhir ini, memang Evelyn terlihat lebih ceria saat Kiara mengatakan kalau Alvian akan menjadi ayahnya.
Senyum tak pernah lepas dari bibir gadis kecil itu, sebuah senyuman yang memang tidak pernah bisa Kiara berikan sebelumnya, sebuah senyuman atas kebahagiaan yang dia dapatkan sekarang.
__ADS_1
Melihat kebahagiaan Evelyn, tentunya Kiara juga merasa bahagia, meskipun dibalik itu, ada rasa sakit di dalam hatinya. Akan tetapi, Kiara menghalau rasa itu karena dia tak mau menjadi manusia egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Hampir setengah jam lamanya, Kiara terisak, sampai akhirnya tiba-tiba merasakan tenggorokannya begitu kering. Akhirnya, Kiara pun bangkit dari atas ranjang untuk mengambil air di bawah. Namun, saat sedang berjalan menuruni tangga, tiba-tiba kepala Kiara terasa begitu berat, matanya pun berkunang-kunang, setelah itu semuanya menjadi gelap.
Keesokan Harinya..
Perlahan Kiara membuka matanya, tatkala cahaya matahari telah masuk mengusik kenyamanan netranya yang masih terpejam. Dia pun merasa terkejut karena ruangan itu bukanlah kamarnya. Dan Kiara bisa memastikan saat ini dia berada di rumah sakit saat melihat seisi ruangan tersebut yang berwarna serba putih. Akan tetapi, baru saja Kiara membuka matanya, sebuah suara lirih dengan nada penuh penekanan terdengar di sampingnya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan Kiara?"
Kiara tak mengerti apa maksud perkataan laki-laki yang ada di sampingnya, nada bicara laki-laki itu terdengar begitu ketus, seolah dipenuhi amarah, dan dia tidak pernah mendengar papanya berkata seperti itu padanya.
"Papa..." jawabnya lirih, seraya menoleh, laki-laki paruh baya itu, menatapnya dengan tatapan tajam sedangkan mama Kiara saat ini sedang terisak. Melihat pemandangan itu, tentunya Kiara merasa heran, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan kedua orang tuanya.
"Papa, Mama apa yang sebenarnya?"
"Cih, tidak usah berpura-pura bodoh, Kiara. Apa yang sebenarnya telah kau lakukan? Kamu masih berstatus sebagai seorang janda, Kiara. Seharusnya kau bisa menjaga harga dirimu itu!"
"Aku benar-benar tidak mengerti, Pa."
"Tidak usah berpura-pura lagi, siapa yang sebenarnya melakukan itu?"
"Aku yang melakukannya, dan aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Hari ini juga, aku akan menikahi Kiara!" sahut sebuah suara.
Mendengar suara dari arah pintu ruang perawatan, Kiara dan kedua orang tuanya pun menoleh dan melihat sosok Alfian yang sedang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab atas anak yang dikandung Kiara!"