
Seorang laki-laki tampak sedang berdiri di balkon kamar seraya menatap pekatnya gelap malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, akan tetapi rasanya dia masih enggan memejankan matanya. Rasa kesal masih begitu menyelimuti hatinya.
Hampir dua jam lamanya dia menunggu di depan sebuah cafe, namun sosok yang dia tunggu tak kunjung keluar dari cafe tersebut. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam cafe, dan ternyata dia mendapat informasi jika wanita yang dia cari, tiba-tiba tak sadarkan diri, dan sudah dibawa oleh seorang laki-laki yang duduk bersamanya.
"Sial, kupikir aku bisa menemui Kiara saat dia sudah selesai dengan urusan pekerjaannya. Akan tetapi, ternyata dia malah pingsan terlebih dulu. Ini sangat berbahaya, bagaimana kalau dia curiga kalau aku yang memberikan obat tidur itu! Argh, sial!"
Dia pun mengusap wajahnya dengan kasar, seraya mondar-mandir di atas balkon. Di saat itulah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Gegas, dia pun mengambil melihat layar ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Kiara?" gumamnya disertai rasa cemas jika wanita tersebut sudah tahu apa yang dia lakukan. Sejenak, dia pun merasa bimbang, akan tetapi tekad di dalam hatinya untuk tidak mau kehilangan Kiara begitu saja, membuatnya meneguhkan hatinya untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
Dan ketika Alvian mengangkat panggilan telepon itu, dia pun begitu terkejut saat mendengar isak tangis dari ujung sambungan telepon.
[Kiara.] panggilnya lirih.
[Mas, bisa nggak kamu bantu aku?] tanya Kiara.
[Tentu saja, Ara. Kamu mau apa?]
[Mas, tolong temani aku pulang ke Bandung sekarang juga, sudah kukirimkan di mana keberadaanku. Aku ingin pulang, Mas.]
__ADS_1
[Kamu kenapa, Ara?]
[Aku nggak apa-apa, cuma kangen sama Evelyn] jawab Kiara, lalu menutup sambungan telepon itu begitu saja.
Alvian yang awalnya cemas jika Kiara mengetahui apa yang dia lakukan padanya, seketika pun merasa begitu bahagia jika apa yang dia khawatirkan tidak menjadi kenyataan. Senyum pun terukir di wajah tampannya, lalu dengan langkah cepat dia keluar dari kamar hotelnya menuju ke lokasi yang Kiara kirimkan.
Kiara memang sudah diizinkan untuk pulang, karena wanita itu tidak mengalami gangguan kesehatan yang perlu dicemaskan. Penyebab Kiara pingsan hanyalah karena meminum obat tidur, jadi saat dia sudah sadarkan diri, dia diperbolehkan pihak rumah sakit untuk pulang. Dan, dia memutuskan untuk menghubungi Alvian, karena bagi Kiara hanya laki-laki itulah yang bisa menolongnya untuk saat ini
"Rumah sakit? Kiara ada di rumah sakit?Jadi, rekan bisnis Kiara membawanya ke rumah sakit? Untung saja dia tidak curiga kalau aku yang memberikan obat tidur padanya. Ya, Kiara tidak mungkin curiga padaku karena baginya aku adalah dewa penolongnya. Hahahaha..." gumam Alvian.
Alvian pun mengambil ponselnya untuk menelepon Kiara.
[Aku ada di lobby rumah sakit, Mas. Kamu tolong ke sini ya!]
Alvian pun menghentikan mobilnya di depan lobby rumah sakit, setelah itu gegas Kiara masuk ke dalam mobil tersebut. Saat memasuki mobil Alvian, Kiara tampak tersenyum tipis pada laki-laki itu.
"Maaf sudah mengganggu dan merepotkanmu, Mas."
"Tidak apa Kiara, apapun akan kulakukan untuk calon istriku."
__ADS_1
Mendengar perkataan Alvian, Kiara pun merasa canggung, dia hanya mengusap tengkuknya seraya tersenyum tipis.
"Kenapa Ara? Kenapa kau malah terlihat salah tingkah seperti itu? Apa ada yang salah dengan kata-kataku? Bukankah benar apa yang aku katakan jika kau adalah calon istriku? Kita sudah bertunangan dan seharusnya kita juga sudah merencanakan pernikahan kita. Kau mau kan menikah denganku, Ara?"
Kiara hanya terdiam, sambil menatap Alvian dengan tatapan datar. Sesungguhnya, dia tidak tahu harus berkata apa.
Melihat raut tulus di wajah Alvian, tentunya dia tidak tega jika harus menyakiti laki-laki tersebut. Akan tetapi Bagaimana hubungan yang telah dia jalin dengan Arron kembali? Bagaimana dengan janji yang telah mereka ucapkan sebelumnya jika mereka akan menjalani kehidupan bersama lagi.
Meskipun, Kiara pun tahu jika itu tidak mudah, akan tetapi beberapa hari yang lalu dia begitu yakin ingin berjuang kembali dengan Arron untuk mempertahankan cinta mereka, namun saat melihat Alvian kembali serta dampak kekesalannya pada Arron yang telah menuduh Alvian begitu saja, membuat tekad itu memudar.
Apalagi, saat melihat raut polos Darel, sungguh dia tidak tega jika bayi tak berdosa tersebut harus menjadi korban broken home. Meskipun Evelyn pun mengalami hal yang sama, akan tetapi setidaknya Evelyn sudah memiliki Alvian.
Ya, bagi Kiara, Alvian adalah jawaban yang tepat baginya, dan juga untuk Evelyn meskipun hal tersebut sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.
"Ara kamu kenapa diem? Kita jadi nikah kan? Apa menurutmu aku bukan sosok laki-laki yang pantas bagimu? Aku tahu, jika dibandingkan dengan mantan suamimu itu, aku bukanlah apa-apanya. Akan tetapi, aku juga punya rasa cinta yang tulus dan begitu besar padamu. Aku janji saat menjalani rumah tangga, aku akan seutuhnya percaya sama kamu, karena sebuah rumah tangga sejatinya harus dibangun atas dasar kepercayaan. Aku janji, aku akan membahagiakanmu, Ara."
Kiara kembali terdiam, rasanya bibirnya begitu kelu untuk menjawab kata iya, meskipun sebenarnya hal itu begitu mudah.
"Kiara apa kau ragu padaku? Apa kau menyesal bertunangan denganku, Ara?" tanya Alvian disertai raut wajah sendu. Kiara pun menggelengkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Nggak Mas, tidak ada yang kusesali. Ayo kita menikah secepatnya."