Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Papa Kandungku?


__ADS_3

"Sakit Mas!" pekik Kiara sambil memegang perutnya. Arron yang panik gegas mengangkat tubuh Kiara menuju ke ruang emergency.


"Tolong suster!" perintah Arron pada perawat yang ada di ruang emergency tersebut. Mereka pun menangani Kiara setelah laki-laki itu meletakkan tubuh Kiara di atas brankar, sedangkan salah seorang perawat yang lain memanggil dokter kandungan untuk memberikan penanganan lebih lanjut pada Kiara.


"Arg, Mas. Sakit!"


"Kamu yang sabar ya, Sayang. Kita tunggu dokternya datang." Kiara mengangguk seraya meringis kesakitan dan memegang perutnya. Entah mengapa di tengah rasa sakit, dan kacaunya situasi hari itu, ada sejumput kebahagiaan di dalam hati Kiara saat bersama Arron. Saat ini, dia sedang mengandung darah daging laki-laki itu, dan Arron mendampinya melewati situasi yang sulit seperti ini. Melihat wajah cemas Arron saat mengkhawatirkan keadaan buah hati mereka, membuat hati Kiara menghangat, sebuah kedaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat mengandung Evelyn.


"Sabar ya sayang, aku akan selalu ada dampingin kamu. I love you honey, jangan pernah berpikir buat tinggalin aku, apalagi kamu sedang mengandung darah dagingku. Seharusnya aku yang bertanggung jawab, bukan laki-laki lain, apa kamu udah lupa janjiku? Kita pasti akan kembali bersama lagi Ara, setelah ini kita rujuk ya!"


"Iya Mas, maaf aku udah nggak percaya sama kamu."


Arron mengangguk seraya menatap Kiara dengan tatapan sayu, lalu mengecup kening wanita itu. "I love you, Honey."


"I love you more. Argh aw, sakit Mas!" pekik Kiara kembali, bersamaan dengan itu, darah yang mengalir pun semakin banyak, disertai gumpalan pekat warna merah yang kian membuat Kiara panik.


"Mas, gimana ini?"


"Tenang sayang, everything is gonna be okay," balas Arron, tapi tak mengurangi sedikit pun kecemasan di dalam hati Kiara, apalagi darah itu kian deras mengalir. Tak berapa lama, seorang dokter pun masuk ke ruang emergency tersebut, lalu memeriksa keadaan Kiara.


"Sepertinya kita harus melakukan USG untuk mengetahui keadaan janin Nyonya Kiara, apalagi tadi salah seorang perawat mengatakan kalau Nyonya Kiara sudah mengeluarkan gumpalan darah.


"Iya dokter, lakukan yang terbaik," sahut Arron. Dia pun menggenggam tangan Kiara, memberikan kekuatan pada wanita yang dicintainya itu. Salah seorang perawat, lalu mendorong brankar Kiara menuju ke ruangan dokter kandungan itu, sementara Arron berdiri di sampingnya seraya mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Halo Papa Bram, aku sudah menemukan anak kandung anda, Kiara. Bisakah anda pergi ke Bandung sekarang juga, karena saya yakin, putri anda membutuhkan anda dalam situasi ini. Saya kirimkan..."


"Argh Mas, sakit banget!" Belum sempat Arron menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Kiara sudah berteriak kesakitan kembali, gegas Arron pun menyudahi percakapannya dengan Bram, lalu mendekat pada Kiara yang kini mulai kehilangan kesadaran dirinya.


"Kiara!"


***


Sementara itu, Queen tampak sedang melepaskan bekapan mulutnya dari laki-laki yang ternyata adalah Alvian. Saat menoleh, Alvian pun meringis padanya.


"Ini bukan waktunya untuk tertawa Alvian, apa kau tidak tahu keadaannya saat ini sedang gawat?"


"Berterima kasihlah padaku, Honey."


"Hey, jangan terlalu angkuh sayang, setidaknya saat ini kita masih bisa selamat untuk memperbaiki keadaan."


"Memperbaiki keadaan bagaimana?"


Alvian mendekatkan wajahnya ke telinga Queen, lalu membisikkan sesuatu. "Itu ide bagus Alvian, ayo kita pergi ke sana!"


"Iya tapi kita juga harus hati-hati, bukankah Kevin sedang mengejar kita?"


Queen mengangguk, lalu keduanya mengamati keadaan sekeliling, sebelum akhirnya berjalan menyusuri koridor rumah sakit.

__ADS_1


Sementara itu, Kevin yang mencari keberadaan Queen dan Alvian, kini tampak begitu kesal karena kehilangan jejak keduanya.


"Gimana Mas?" tanya Tya, saat berlari mendekat ke arahnya.


"Aku kehilangan jejak, Sayang."


"Astaga, mereka emang bener-bener licik! Terus kita harus gimana, Mas?"


"Kita coba lihat ke bagian CCTV ya, kita pastikan mereka masih di rumah sakit ini apa nggak."


"Iya Mas."


***


Berangsur-angsur kesadaran Kiara mulai pulih, perlahan dia pun membuka matanya. Tangannya kini meraba perutnya. "Bayiku? Bagaimana keadaan bayiku?" isak Kiara.


"Nyonya Kiara anda sudah sadar? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang suster di sampingnya. Saat ini, Kiara tidak melihat kehadiran Arron di dalam ruangan itu.


"Suster, bagaimana keadaan anak saya? Janin di perut saya masih bisa diselamatkan, kan?" celoteh Kiara yang begitu panik, memang dia masih merasakan mulas, akan tetapi rasa mulas itu memang tidak sesakit yang dia rasakan seperti tadi siang.


"Suster katakan padaku, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan janinku?" tanya Kiara kembali. Akan tetapi, saat perawat tersebut akan menjawab pertanyaan Kiara, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil namanya dari arah pintu.


"Kamu sudah sadar, Sayang?" sapa Arron. Atensi Kiara pun tertuju pada Arron dan seorang laki-laki paruh baya yang berjalan di belakangnya seraya menatap Kiara dengan penuh haru.

__ADS_1


'Siapa dia? Apa dia papa kandungku?' batin Kiara.


__ADS_2