Gairah Sang Mantan (After Divorce)

Gairah Sang Mantan (After Divorce)
Saudara Tiri


__ADS_3

[Terserah apapun alasanmu, tapi kau harus menepati janjimu agar menikahi wanita jalaang itu!]


[Hahahahah ... Kau tak perlu cemas, Sayang.]


[Jangan sebut aku dengan kata-kata menjijikan itu sebelum kau berhasil menikahi Kiara.]


[Tenangkan dirimu Queen, apa kau tahu alasanku meneleponmu? Aku meneleponmu untuk memberimu kabar kalau aku sudah bertunangan dengan Kiara.]


[Apa? Jadi kau sudah bertunangan dengan Kiara?]


[Hahahahaha ... Everything for you, Honey.]


[Cih, jangan pernah menyebutku dengan kata itu sebelum kau menikah dengan Kiara. Asal kau tahu, saat ini Papaku sedang sakit, dan mulai terus-menerus mencari keberadaan putrinya yang hilang. Sia-sia sudah aku memperjuangkan yang telah dilakukan Mama, kalau Papa sampai tahu siapa Kiara sebenarnya.]


[Jadi Papa tirimu itu masih mencari keberadaan adik tirimu itu?]


[Ya, dan jangan sampai Papa tahu Kiara adalah anak kandung Papa yang dibuang Mama di Panti Asuhan sampai diangkat anak oleh keluarganya sekarang. Dan sialnya, Arron malah jatuh cinta pada Kiara, wanita yang sudah dijodohkan dengannya sejak dulu. Aku benar-benar membenci wanita itu. Jadi tolong kerjakan tugasmu dengan baik agar wanita itu menjauh dari Arron.]


[Keep calm, Honey. I will give my best for you.]


[Aku pegang janjimu. Kalau perlu, bikin Kiara hamil anakmu!]


[Baiklah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Aku mau menemui Kiaraku tersayang dan membujuknya untuk menikah denganku secepatnya.]


[Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan banyak bicara kalau kau masih ingin memperoleh bagian yang banyak dariku?]


Laki-laki di ujung sambungan telepon, kemudian menutup panggilan itu seraya terkekeh.

__ADS_1


"Kau selalu saja emosional, Queen." Laki-laki itu lalu mengutak-atik ponselnya.


Setelah itu, dia menempelkan ponsel itu di telinganya.


[Halo Ara, aku ada di Jakarta.]


Malamnya...


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arron saat baru saja di rumah Inez untuk memjemput Darel. Melihat tatapan tajam Inez, Arron pun tersenyum kecut lalu mencondongkan tubuhnya ke arah samping dan melihat Queen yang saat ini terisak. Laki-laki itu pun tersenyum kecut.


"Mengadu lagi?" tanya Arron sambil menaikkan salah satu alisnya. Sebenarnya laki-laki itu merasa begitu kesal. Akan tetapi, dia memilih untuk meredam emosinya. Tentunya dia tidak ingin Inez dan Queen curiga jika dia telah menjalin hubungan dengan Kiara kembali yang nantinya bisa merusak rencana yang telah dia susun.


"Apa kau bilang Arron? Enak sekali kau berkata seperti itu setelah menelantarkan Queen."


"Menelantarkan? Siapa yang menelantarkan? Bukankah aku sudah bilang ada pertemuan mendadak dengan rekan bisnisku?"


"Ajak Queen? Memangnya dia sekretarisku?"


"Apa susahnya memperkenalkan istrimu di depan rekan bisnismy, Arron?"


"Ya udah kapan-kapan deh. Darel, ayo kita pulang!" sahut Arron sambil mengambil Darel, lalu membopong bayi berusia satu tahun itu, dan mengabaikan Queen begitu saja.


"Arron! Apa yang kau lakukan! Apa kau tidak lihat istrimu masih di sini. Tolong bertanggung jawablah dan juga urusi istrimu, jangan hanya pekerjaanmu saja!"


"Istriku? Sepertinya Mama salah, dia istri pilihan Mama. Jadi, tolong bantu aku untuk bertanggung jawab dan mengurusi istriku itu ya, Ma."

__ADS_1


"Apa-apaan kau Arron! Kenapa semakin hari sikapmu semakin keterlaluan seperti ini? Apa kau tidak punya perasaan hah?"


"Mama bicara apa? Perasaan? Seharusnya Mama malu bicara perasaan padaku. Coba pikir, apa Mama pernah memikirkan perasaanku saat memisahkanku dengan Kiara? Apa Mama pernah memikirkan perasaanku saat memohon dan memintaku untuk menikah dengan Queen? Mama selalu memojokkanku bagai anak durhaka jika aku tidak mau menuruti permintaan Mama."


Arron menatap nyalang pada Inez dan Queen. "Dan asal kalian tahu, aku mau menikahi Queen karena tepat di hari aku tak sadarkan diri, dia menitipkan sebuah surat melalui pembantunya yang berisi agar aku menjauh dari kehidupannya karena dia tersiksa dengan sikapku! Lalu, setelah aku sadarkan diri aku kembali teringat permintaan Kiara dan mau menikah dengan Queen. Itulah alasan yang sebenarnya mau menikah dengan Queen! Jadi, lebih baik kalian berterima kasih pada Kiara, wanita yang telah kalian fitnah tujuh tahun lalu!"


"Dan kau Queen, lebih baik kau sudahi semua dramamu itu. Seharusnya kau bersyukur aku masih mempertahankanmu sebagai seorang istri karena ada Darel. Sebenarnya aku sudah sangat muak melihat sikap kalian. Dan mulai hari ini, jangan semakin mengaturku, karena aku sudah sangat tersiksa dengan pernikahan ini!" bentak Arron, lalu meninggalkan Queen dan Inez begitu saja.


"Bagaimana ini, Ma? Aku takut cepat atau lambat Arron akan menceraikanku."


"Kau tenang saja, Mama akan memperjuangkanmu sampai titik darah penghabisan. Sejak kecil, kau sudah dijodohkan dengan Arron putraku. Dan aku akan mempertahankan itu seperti janjiku pada kedua orang tuamu. Apalagi, papamu juga sudah mulai sakit-sakitan kan? Aku tidak ingin membuat papamu kecewa."


***


Sementara itu, Kiara yang tadi siang dikejutkan dengan Alvian yang menelponnya jika saat ini sudah berada di Jakarta, berjanji untuk menemui laki-laki tersebut di sebuah restoran.


Ketika Kiara memasuki restoran tersebut, tampak Alvian sudah duduk sambil melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Kiara.


"Sudah lama menungguku, Mas?" tanya Kiara.


"Lumayan, silakan duduk Ara, aku sudah memesan makan malam untuk kita. Sebentar lagi makanannya juga datang."


"Terima kasih," jawab Kiara disertai rasa bersalah karena laki-laki itu begitu baik padanya. Setelah berbincang singkat, tak berapa lama, akhirnya makanan tersebut pun datang.


"Silakan Kiara, kita makan malam dulu."


"Iya Mas," jawab Kiara lalu meminum jus yang dipesan oleh Alvian. Laki-laki itu pun tersenyum sambil mengamati Kiara.

__ADS_1


NOTE:


Ingat ya, di bab 9 Inez bilang asal usul Kiara nggak jelas, karena orang tua Arron pun tahu kalau Kiara bukan anak kandung orang tuanya. Tapi belum tahu kalau ternyata saudara tiri Queen.


__ADS_2