Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
10 : About Me (Adam POV)


__ADS_3

This is a specialized chapter~


Happy reading~


! : Typo Bertebaran


📋 About Me (Adam POV)


03 April 2016. Itu adalah tanggal yang paling tak ingin kuingat. Hari, tanggal, bulan, tahun dimana hal mengejutkan terjadi.


Ayah meninggal. Orang yang paling kukagumi dan juga kuhormati akhirnya meninggalkan dunia diantara penyakit yang terus menghabiskan tubuhnya. Entah perasaan apa yang harus kuperlihatkan.


Sedih ataukah senang? Aku tak tau tapi yang pasti aku senang akhirnya ayah tak harus merasa sakit lagi.


Dengan tubuh yang sakit, ayah harus tetap bekerja menghidupku keluargaku, tapi sekarang, ayah sudah tiada sehingga aku yang menjadi tulang punggung dibantu oleh kakakku. Kami bekerja membantu ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasil yang pas-pasan.


"Kak?"


Aku menolehkan kepalaku. Ternyata Vina. Adikku.


"Kenapa?"


Dia menggeleng lalu duduk disebelahku. Aku menghisap rokokku yang baru saja kunyalakan. Kami sama-sama terdiam. Jika seperti ini pasti ada yang ingin dikatakannya. Ku dengar ia menghela napas.


"Masih aja ngerokok?"


Aku meliriknya sekilas lalu berdeham menjawab. Kami kembali terdiam.


"Ada apa?" ujarku memancingnya berbicara.


Jika tidak seperti ini maka ia hanya akan diam saja.


"Kak. Kata temenku. Kakak pacaran sama tante-tante? Katanya mereka liat kakak," aku melebarkan mataku mendengar ucapan Vina.


Sial. Tak kusangka adikku tau soal ini padahal aku beruasaha menyembunyikan darinya maupun keluarga.


"Emang bener, ya, kak?"


Aku menghela panasku sebelum akhirnya mengiyakan. Vina memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Mungkin ia berpikir kalau aku adalah manusia yang kotor.


"Jadi bener kalau kakak itu....,"


Aku mengalihkan pandanganku darinya lalu mengangguk. Vina berdiri dari duduknya dan tanpa sepatah katapun ia berlari memasukki rumah


"Maaf," gumanku memandang rokokku yang masih tersisa separuh.


"Menyesal?"


Aku mengalihkan pandanganku kesumber suara. Kali ini kakakku. Kakakku satu-satunya. Ia duduk disebelahku lalu menghembuskan napasnya pelan. Aku menyodorkan rokokku padanya dan dia menolak. Tak biasanya.


Ia terkekeh, "Belajar gak merokok," aku menaikkan kedua alisku tak percaya.


Ada apa dengan saudaraku yang satu ini. Apa dia baru saja tersambar petir atau kepalanya menghantam meja, kursi, atau pintu.


"Tobat?"


Dia tertawa mendengar pertanyaanku sebelum mengangguk. Aku membuka mulutku tak percaya melihat jawabannya.


"Kok bisa?" tanyaku dan dia menatapku sengit.


"Aduh! Sakit!" keluhku saat dia menempeleng kepalaku.

__ADS_1


Aku mengusap kepalaku yang baru saja terkena tempelengannya. Cukup terasa nyerinya.


"Orang mau tobat kok malah gak percaya. Giliran gak tobat disuruh-suruh,"


Ia mendelik kepadaku sedangkan aku terkekeh mendengarnya.


"Malah ketawa. Ngajak ribut,"


Aku segera menggeleng dan kembali menghisap rokokku yang tanpa sadar sudah akan habis.


Kami sama-sama terdiam menikmati sunyinya malam dijalanan kampung depan rumah, hanya satu atau dua kendaraan bermotor yang lewat sisanya hanya sepi.


"Jangan sampai ibu tau soal ini,"


Aku menolehkan kepalaku padanya yang tengah fokus dijalanan depan sana. Aku juga ikut melihat arah pandangnya sebelum mengangguk dan berdeham mengiyakan.


"Gak tau bakal gimana respon ibu kalau tau pekerjaanmu selama ini,"


Aku menunduk mendengarnya.


Benar. Ibu pasti akan sangat terkejut dan kecewa padaku jika tau apa yang kulakukan setelah ayah meninggalkan kami. Parahnya mungkin dia tidak ingin mengakuiku sebagai anaknya lagi. Bahkan tak akan pernah memaafkanku.


Segala pikiran buruk mulai menghantuiku sekarang. Sudah hampir 1,5 tahun terlewati, aku menjadi seorang laki-laki bayaran dan baru sekarang aku terpikirkan bagaimana kemungkinan jika ibu mengetahui pekerjaan.


"Hai.. Adam? HAI!!"


Aku tersentak sadar saat kakak mengguncang bahuku kencang. Aku memandangnya bingung dan dia menghela panasnya.


"Jika mau menyesal sudah terlambat. Tapi, satu hal yang perlu diingat. Jangan sampai ibu tau," Aku mengangguk.


Ia menepuk bahuku, "Aku masuk dulu," ujarnya meninggalkanku sendirian diluar.


Kuusap wajahku dan menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum menghembuskannya kasar. Tak kusangka, aku sangat kepikiran dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan kudahapi suatu saat nanti.


"Ibu..,"


Beliau tersenyum, "Udah malem. Yuk masuk. Nanti kamu sakit,"


Aku merasa gelisah jika ia sampai tau jika anak keduanya ini memiliki pekerjaan yang kotor. Tak sanggup rasanya jika sampai beliau mengetahuinya.


"Nak...," panggilnya, aku tersadar dan berdeham mengiyakan.


"Masuk yuk,"


Aku mengangguk dan mengikutinya masuk kedalam rumah.


Bu. Maaf. Tapi, ini semua kulakukan untuk kita, agar kau tak terlalu lelah bekerja.


📋📋📋📋📋


Kupercepat langkahku saat kuyakin jika dua orang dibelakangku tengah mengikutiku. Aku tidak tau siapa mereka dan apa tujuan mereka tapi sejak aku keluar dari tempatku bekerja mereka mulai mengikutiku. Terkadang dengan sengaja aku berhenti dan mereka juga berhenti.


Jantungku tentu saja berdetak kencang dan pikiranku mulai memunculkan spekulasi-spekulasi buruk. Sialan! Aku ada janji dan sekarang ada dua orang aneh yang mengikutiku.


Atau jangan-jangan mereka suruhan Elda? Tidak! Mana mungkin Elda menyewa orang untuk mengikutiku. Dia tidak mungkin punya uang.


Baiklah. Kita lihat siapa yang mengirim kalian?


Semakin kupercepat langkahku dan tak jauh didepan sana ada tikungan. Aku segera bersembunyi dibalik tembok dan kulihat mereka kebingungan mencariku. Dasar bodoh.


"Kemana orangnya?"

__ADS_1


"Sial! Boss pasti marah kalau tau orang yang dicarinya kabur,"


"Mau bagaimana lagi. Balik aja!"


Ternyata benar mereka mengincarku. Tapi, untuk apa?


Tunggu sebentar! Sepertinya aku mengenal dua orang ini. Bukankah mereka adalah orang satu kampung denganku? Mau apa mereka mencariku?


Aku keluar dari persembunyianku saat mereka berjalan menjauh. Kudekati perlahan mereka dan secepat mungkin membekap mulut dua orang itu. Beruntungnya sekitar tempat kami sekarang adalah area yang sepi jadi meminimalisir kemungkinan mereka berteriak dan mengundang banyak orang.


"Hmmm... Siapa kalian dan mau apa denganku? Juga siapa yang mengirim kalian?"


Mereka mendelik dan bersuara tak jelas. Aku melepaskan bekapanku.


"Ka.. kau.. kau Eldan, kan?"


Aku terkejut saat mereka mengetahui nama samaranku. Aku bersedekap dan tersenyum miring.


"Ada perlu apa denganku?"


"Boss kami mencarimu dan ingin bertemu denganmu. Kau pasti tau maksud kami,"


Ohh.. Sekali bertemu langsung mengutarakan keinginan. Sungguh tak sabaran sekali.


"Siapa boss kalian? Perempuan atau laki-laki? Dan juga siapa namanya?"


Mereka saling pandang dan menggeleng juga saling mengedikkan bahu satu sama lain.


"Err.. Kami gak tau namanya siapa, yang penting ia perempuan juga orangnya cantik terus tinggi putih,"


Aku mengerutkan dahiku bingung. Walau bagaimanapun mereka menjelaskan tetap saja aku tak tau siapa orang yang mereka maksudkan.


Mereka memandangku penuh harap, "Jadi...," Kuhembuskan napasku panjang lalu mengangguk.


Semoga saja boss mereka wanita yang memiliki banyak uang jadi sedikit meringankan kebutuhan kami nanti. Mereka saling pandang dan berteriak.


"Bagus!!!" aku tersentak saat mereka bertos ria. Dasar orang aneh.


"Jadi kapan ketemuannya?"


"Ohh.., soal itu. Mending langsung hubungi boss kami saja,"


Salah satu diantara mereka menyodorkan ponselnya. Aku langsung menyalin nomor yang tertera disana.


"Baiklah. Kalau tidak ada yang lain, aku pergi," ujarku memasukkan ponselku kedalam tas dan berjalan melewati mereka yang tengah melongo.


"Tunggu sebentar," aku berhenti.


"Boleh kami minta nomor telponmu?" aku menujuk diriku sendiri dan mereka mengangguk, kukerutkan dahiku.


"Hanya untuk laporan saja,"


Aku mengangguk dan mengeluarkan ponsel lagi juga menunjukkan nomor teleponku. Mereka segera menyalinnya.


"Aku pergi," ujarku setelah mereka menyalin nomorku.


Aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka dan harus segera sampai ditempat janjianku. Kuberhentikan salah satu taksi yang lewat dan segera menaikinya.


Taksi kembali berjalan setelah kusebutkan tujuanku.


Aku tidak tau seperti apa orang tengah mencariku itu. Apakah dia orang yang kukenal atau bukan aku tak tau. Yang terpenting saat ini aku harus menghasilkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah banyak dan harganya yang mulai mahal.

__ADS_1


🎡📋🎡TBC🎡📋🎡


Thanks for reading my absurd story.. see u next.. Shhtttt it's me Queen of typo💋💋


__ADS_2