
Happyeu Readingeu
! : Typone everywhereu
πSearch
"Jadi?"
Tanya Kane tapi Adam hanya diam saja. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang Adam ingin sekarang adalah memberikan ketenangan bagi keluarganya dan walaupun Adam menyetujuinya. Kakaknya belum tentu juga menyetujuinya.
"Dengar Adam. Untuk kakakmu, biar aku saja yang mengurusnya. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah belajar. Biarkan aku yang membayari pendidikanmu,"
Kane menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan kakek Zyta.
"Tidak. Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan siapapun,"
"Aku memaksa. Tidak, tepatnya kakekmu yang memintanya. Dia sudah memberitahuku sebelumnya jika terjadi sesuatu pada keluargamu maka aku harus mencari kalian dan membantu kalian. Orang itu, bagaikan cenayang saja," ujar kakek mendengus kesal.
Adam terkekeh dalam hati membenarkan ucapan kakek Zyta. Benar, kakeknya memang seseorang yang hebat. Ia seolah-olah tau apa yang akan terjadi dimasa depan.
"Jadi, Adam?"
Adam kembali terdiam dan memandang Kane juga kakek bergantian. Ia kembali bimbang tapi melihat wajah antusias dan penuh harap kedua orang didepannya membuat Adam akhirnya menganggukkan kepalanya.
Kakek dan Kane sama-sama tersenyum lega sedangkan Adam masih berada didalam kebimbangan.
"Jangan takut. Aku akan selalu membantumu," ujar Kane tersenyum dan Adam juga balas tersenyum.
Baiklah jika ini memang takdirnya maka Adam tak akan menghindar seperti yang sudah-sudah, ia akan menghadapinya dan lagipula ia sekarang juga memiliki sekutu yang siap membantunya kapanpun untuk melawan pamannya dan mengambil hak yang seharusnya milik ayahnya.
Benar. Adam harus mengambil kembali hak milik ayahnya dari tangan pamannya yang seharusnya tidak mendapatkan apapun dari kakeknya.
πππππ
Evan dan Adam sudah sampai di bandara, memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena jalanan yang macet tapi untung saja jam keberangkatan pesawat Zyta menuju Jepang masih setengah jam lagi jadi mereka masih ada waktu bertemu Zyta dan mencegah perempuan itu untuk pergi.
Bugh!
Adam hampir saja terjatuh saat ia tanpa sengaja menyenggol salah satu bahu penumpang yang lain. Adam membungkukkan badannya dan meminta maaf lalu kembali berjalan. Baru saja ada setengah jalan Adam berhenti dan bebalik.
Adam merasa pernah melihat penumpang yang bahunya baru saja ia senggol tapi Adam tak yakin bertemu dimana.
"Apa yang lo tunggu?! Ayo! Pesawat Zyta hampir terbang,"
Adam menganggukkan kepalanya kaku dan kembali berlari menuju area keberangkatan.
Adam dan Evan mengedarkan pandangan mereka kepenjuru area tapi tidak satupun dari mereka menemukan Zyta diantara para penumpang.
Adam maupun Evan berdiri tak jauh dari pintu masuk untuk melihat apakah ada Zyta diantaranya tapi sampai ke penumpang terakhir tak ada tanda-tanda Zyta disana. Dan akhirnyapun pesawat lepas landas. Mereka sama-sama mengumpat kesal.
"Halo! Paman, kenapa tidak ada Zyta disini?"
'Tidak mungkin! Aku yakin ada anak itu disana. Temanku juga mengirimkan data penumpang dengan jelas dan jelas-jelas disana aku membaca tertera nama Zyat!'
__ADS_1
Evan terdiam dan berdecak kesal. Ia memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
"Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial!" umpat Evan mengacak rambutnya kesal.
Kepala Evan terasa pening seketika dan Adampun tak jauh beda, ia hanya diam dan memegang kepalanya bingung tak tau harus bagaimana lagi.
Evan mengerutkan dahinya berpikir, "Zyta tidak mungkin ke Jepang," guman Evan terus berpikir.
Benar. Zyta tidak mungkin memilih Jepang sebagai tempatnya melarikan diri. Ia pasti akan mencari tempat lain sebagai tujuan untuknya menyepi tapi dimana.
Evan menggigit-gigit jarinya terus berpikir. Tapi tak ada satupun tempat yang ia rasa menjadi tempat Zyta untuk menyepi nantinya.
"Adam! Evan!"
Adam dan Evan menolehkan kepalanya ke sumber suara. Tau jauh dari mereka Kane setengah berlari menghampiri mereka yang masih berdiri disebelah pintu.
"Apa Zyta ditemukan?"
Adam dan Evan saling memandang satu sama lain lalu menggeleng. Bahu Kane seketika merosot. Saat melihat Adam dan Evan dari kejauhan, ia merasakan secercah cahaya harapan menghampirirnya tapi saat melihat respon dua orang itu cahaya itu pergi dengan cepatnya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
Adam maupun Evan hanya menggelengkan kepalanya.
"Nii-san,(kakak)"
Kane menolehkan kepalanya pada Evan.
"Maksudmu?"
"Maksudku, posisinya saat ini adalah kabur jadi mana mungkin ia pergi ke Jepang, dimana ia bisa ditemukan olehmu dengan mudah,"
Kane terdiam dan membenarkan apa yang Evan katakan.
"Kau benar. Menurutmu kemana Zyta pergi?"
Evan menggelengkan kepalanya tak tau. Evan dan Kane sama-sama berpikir kemana Zyta akan pergi sebagai tempat kaburnya.
"Kane,"
Kane menolehkan kepalanya pada Adam saat pria yang menjadi teman barunya ini memanggil. Kane hanya berdeham menjawab.
"Teman Zyta yang berada disatu ruangan dengan Zyta itu, bukankah seharusnya ia dirumah sakit sekarang?"
Kane mengerutkan dahinya. Kane tidak terlalu mengenal teman-teman Zyta yang juga seorang dokter. Hanya Alex dan Vanno. Dan lagipula, yang satu ruangan dengan Zytapun juga bukan hanya Alex karena pasti mereka bergantian sifth.
"Maksudmu kak Alex?" jawab Evan kembali melemparkan pertanyaan.
"Oh! Jadi namanya Alex?"
Evan menganggukkan kepalanya.
"Ada apa dengan Alex?" tanya Kane.
__ADS_1
"Tadi aku bertemu seorang penumpang memakai baju dokter. Dan jika kuingat-ingat lagi, kurasa itu dia,"
"Tunggu sebentar. Bisa saja kau salah orang. Itu pasti bukan kak Alex,"
Baru saja Adam akan membuka suaranya, Kane sudah lebih dulu menyela.
"Kalau iya?" tanya Kane membuat Evan terdiam.
"Tapi, kak Alex tidak mungkin mel...,"
"Benarkah? Bukankah Alex menyukai Zyta sejak mereka kuliah?" ujar Kane menyela Evan.
Kane tidak terlalu menyukai Alex, entah apa sebabnya yang penting ia tidak menyukai Alex yang berada didekat Zyta.
Evan terdiam tapi tak dipungkiri apa yang Kane katakan adalah kebenaran. Alex memang menyukai Zyta dan Evan tau itu.
"Bukankah lebih baik kita menemui Alex sekarang dan menanyakan keberadaan Zyta padanya? Kau pasti taukan kalau Alex tidak ada seminar atau apapun,"
Evan diam dan menganggukkan kepalanya.
πππππ
"Hallo, kak Alex apa kau sekarang ada dirumah sakit?"
'...'
"Hehehe... tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Apakah bisa?"
'...'
"Baiklah. Baiklah. Kita bertemu di Java Cafe,"
'...'
"Oh kakak disana, baiklah. Sampai ketemu nanti, kak,"
"Sudah," ujar Evan setelah memutuskan sambungan telpon dengan Alex.
Adam maupun Kane hanya berdeham dan menganggukkan kepalanya membuat Evan mendengus kesal. Saat ini mereka ada didalam mobil menuju cafe tempat janjian.
Tak berapa lama mereka sampai di Java cafe karena posisi mereka saat ini dekat dengan Java cafe dan juga Alex sudah lebih dahulu berada disana.
"Evan kau pergilah dulu, datangi Alex dan ajaklah bicara. Kami akan menyusul dan duduk tidak jauh darimu nanti. Setidaknya pancinglah dia untuk mengatakan dimana Zyta," ujar Kane memegang lengan Evan mencegah adik sepupunya untuk pergi.
Evan berdecak, "Kau sunggu percaya diri sekali jika kak Alex juga terlibat dalam hal ini,"
Kane memandang remeh Evan, "Kita lihat siapa yang memang,"
"Baiklah. Aku pergi," ujar Evan menarik lengannya dan turun dari mobil lalu berjalan memasuki cafe.
Dari dalam mobil Kane dan Adam mengamati. Saat Evan dan Alex mulai berbincang-bincang mereka akhirnya turun dan memasuki cafe.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘
__ADS_1