Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
23 : Grandpa Arrival


__ADS_3

Happieu~ Readingeu~.


! : Typo ne ngati-ati


πŸ“‹Grandpa Arrival


Akhirnya mereka terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing ditemani suara gemericik air dari pancuran yang terbuat dari bambu.


"Rumah neneknya mbak besar banget ya ternyata,"


Zyta berdeham mengiakan karena memang rumah neneknya yang berada disini memang besar tapi masih lebih kecil daripada rumah keluarga besar yang berada di Jepang sana.


Terkadang beberapa kali Zyta datang mengunjungi saudaranya yang berada disana. Dan memang benar untuk keluarga besar. Karena Zyta sendiri memiliki sekitar 20 orang sepupu jauh.


"Memangnya setiap ruangan memiliki taman sendiri-sendiri?" tanya Eldan akhirnya karena sejak ia berganti baju tadi, ia sempat membuka pintu yang berada dikamar yang akan ditempatinya dan mendapati taman minimalis dibaliknya.


"Apa kau mendapatkan kamar yang bagus?" Eldan menganggukkan kepalanya.


Zyta terkekeh pelan, "Memang benar. Disetiap kamar dirumah ini memang memiliki taman minimalis mereka masing-masing. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan kakek dulu. Tapi, yeah, siapa peduli. Kakek sangat kaya jadi hal seperti ini tidak ada apa-apanya," Eldan kembali mengaggukkan kepalanya.


"Enak ya jadi mbak. Punya keluarga yang baik, rumah yang mewah, dan segala yang dapat dipenuhi,"


"Siapa bilang?" ujar Zyta tanpa menoleh pada Eldan.


"Tanpa perlu dibilangpun sudah terlihat jelas," ujar Eldan membuat Zyta terdiam cukup lama.


"Jika menurutmu begitu artinya kau salah,"


"Dulu, sebelum kakek meninggal para wanita dikeluarga ini tidak memiliki kebebasan seperti saat ini. ada sih, tapi hanya sedikit. Begitupun denganku. Dulu, ini adalah rumah yang paling kuhindari. Setiap kali aku berkunjung, aku merasa kalau kakek memperlakukanku secara berbeda,"


Zyta tersenyum sinis, "Saudara-saudara perempuanku memiliki waktu untuk berpergian sedangkan aku tidak. Sejak aku lahir kakek sudah mendidikku untuk menjadi penerus keluarga. Sehingga sejak aku berumur 5 tahun aku sudah tinggal disini hingga umurku 12 tahun," ujar Zyta tersenyum getir saat mengingat bagaimana sang kakek memperlakukannya dulu.


Eldan terdiam mendengar cerita Zyta. Seperti kehidupan orang kaya pada umumnya. Penuh lika-liku dan sangat menyebalkan. Batin Eldan.


"Aku sangat bersyukur saat ayah memutuskan pindah ke kota S, tempat asli ibu dan ikut serta membawaku kesana. Mulai disitulah aku merasakan yang namanya kebebasan," ujar Zyta tanpa sadar ia sudah meneteskan airmatanya.


Eldan terpaku melihat tangisan Zyta. Tangannya terulur dan menghapus airmata Zyta membuat sang empunya tersentak kaget. Eldanpun juga ikut terkejut dengan apa yang dilakukannya.


Secara perlahan pipi keduanya memerah dan mereka saling mengalihkan pandangan mereka. Mereka kembali terdiam untuk menormalkan detak jantung mereka.


Eldan berdeham pelan, "Lalu dimana kakek mbak sekarang?" tanya Eldan mencairkan suasana canggung diantara mereka.


"Dia.. dia.. di Jepang,"


Eldan ber-oh ria dan menganggukkan kepalanya canggung. Dan akhirnya mereka kembali terdiam.

__ADS_1


"Zyta!!"


Zyta maupun Eldan secara bersamaan menolehkan kepala mereka.


"Kakek?!!"


Zyta berdiri dari duduknya saat ia melihat kakeknya begitupun dengan Eldan yang ikut berdiri. Eldan meneguk ludahnya melihat wajah tegas dan sorot mata tajam kakek Zyta. Seumur-umur baru pertama kali ini ia bertemu dengan orang seperti kakek Zyta.


"Ikut aku," ujar kakek Zyta melangkah pergi.


"Aku pergi dulu. Kau kembalilah ke kamarmu dan istirahat,"


Eldan mengangguk dan Zyta segera pergi mengikuti kakeknya.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


"Loh? Eldan kok sendiri?" tanya Nirmala saat tanpa sengaja ia melihat Eldan berdiri ditempatnya dan Zyta tadi berbincang.


Eldan membalikkan kepalanya dan tersenyum, "Hmm.. Zyta tadi sama kakeknya, tante,"


"Kakek?" tanya Nirmala mengerutkan dahinya dan Eldan mengangguk.


Nirmala menutup matanya saat memahami maksud Eldan.


"Kemana mereka pergi?"


Eldan mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya ada apa dengan keluarga ini? Batin Eldan. Karena penasaran akhirnya Eldan mengikuti Nirmala dari belakang.


"Bagaimana keadaan Zyta?" tanya Nirmala pada adik suaminya.


Disana sudah berkumpul beberapa dari keluarga Zyta.


"Kurasa ayah memukul Zyta lagi,"


Nirmala menutup mulutnya dan Eldan membulatkan matanya tak percaya. Memukul? Sampai sejauh itu? Batin Eldan.


"Zyta!!" Pekik semua orang saat mereka mendengar teriakan Zyta dari dalam ruangan.


Tak berapa lama pintu ruangan tersebut dibuka dan dengan pelan Zyta berjalan keluar. Lengannya yang memakai baju lengan pendek terlihat memerah bahkan terlihat sekali ada pembuluh darahnya yang pecah didalam sana. Wajahnya tak terlihat menangis hanya saja sesekali meringis menahan sakit.


"Zyta, kamu nggak apa-apakan, sayang?"


Zyta tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maafkan paman tidak bisa menolongmu,"

__ADS_1


Zyta menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum, "Nggak apa-apa, kok, paman,"


"Lebih baik kita kembali ke kamar dan mengobati lukamu," ujar salah satu kakak sepupu Zyta.


Akhirnya mereka membubarkan diri dari depan ruangan yang ternyata ruang kerja kakek Zyta. Eldan menatap Zyta khawatir sedangkan Zyta hanya tersenyum menyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja. Baru saja Eldan akan menyusul Zyta, Evan lebih dahulu mencegahnya.


"Tunggu!"


Eldan menolehkan kepalanya dan menatap Evan datar. Orang yang sangat dihindarinya ternyata adalah sepupu Zyta. Suatu kebetulan yang mengesankan.


"Ada yang ingin kubicarakan. Ikuti aku," ujar Evan berjalan dahulu diikuti Evan dibelakangnya.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹



"Duduklah," ujar Evan mempersilahkan Eldan duduk dihadapannya.


"Bibi Mel, tolong bawakan teh, ya," ujar Evan pada salah seorang pembantu yang baru saja lewat.


Rumah nenek Zyta memang besar dan tentu saja banyak sekali pelayan yang lewat berseliweran untuk menjamu saudara-saudara Evan dan Zyta.


Evan bersenandung pelan sembari menunggu teh datang dan menikmati pemandangan taman didepan mereka, tanpa disengaja mata Evan melihat Eldan yang tengah menatapnya datar. Evan mendengus dan kembali menikmati taman didepannya.


"Jangan melihatku seolah-olah kau ingin memakanku. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku masih sayang dengan nyawaku," ujar Evan.


"Ini tehnya, tuan muda,"


Evan tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu pembantu itu segera melenggang pergi setelah mengantarkan teh.


Evan meminum tehnya dan mendesah senang, "Minumlah. Tidak ada apa-apa didalamnya dan teh ini sangat enak. Sayang jika kau tak meminumnya," ujar Evan kembali meminum tehnya dengan wajah sumringah.


Eldan memandang datar Evan sebentar lalu meminum tehny dan benar yang dikatakan Evan, teh ini enak dan terasa segar.


"Ada perlu apa denganku?" tanya Eldan to the point.


Evan mendengus dan berdecih, " Sungguh tidak sabaran. Setidaknya nikmati dulu tehmu. Lihat teko ini cukup banyak untuk menemani pembicaraan kita," ujar Evan menunjuk teko dari gerabah didepannya.


"Tak usah berbasa-basi," ujar Eldan mengerutkan dahinya tak senang.


"Bisakah kau sedikit lebih santai. Aku hanya ingin mengobrol bukannya mengajakmu berkelahi. Dasar!" ujar Evan mengacuhkan Eldan dan kembali memandang indahnya taman.


Eldan semakin mengerutkan dahinya tak senang tapi ia memilih mengikuti keinginan Evan.


"Tak usah tegang. Kita nikmati saja dulu teh ini. Kejadian tadi benar-benar membuat orang rumah sangat tegang. Kakek tiba-tiba saja pulang sebelum ulang tahun nenek," ujar Evan menghela napasnya panjang.

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri Eldan menyetujui ucapan Evan. Ia tadi juga sangat tegang saat mendengar teriakkan Zyta dari dalam kamar dan keluar dengan memar ditangannya. Dan teh yang tengah diminumnya ini setidaknya sedikit mengurangi rasa tegangnya.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘


__ADS_2