Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
18 : Adam's Little House


__ADS_3

Hap~py Read~ing~


! : Typo typo


📋Adam's Little House


"Jadi, bagaimana, Van?" tanya Zyta tak sabaran saat teman dokternya selesai memeriksa Eldan.


Vanno tersenyum kecil, "Tidak ada apa-apa hanya mimisan biasa karena terlalu lelah dan sudah kuberi obat penghentinya,"


Vanno tersenyum jahil pada Eldan yang masih duduk diatas berangkar dan Eldan segera mengalihkan pandangannya dari Vanno. Zyta menghembuskan napasnya lega.


"Syukurlah. Kupikir ada apa-apa,"


Vanno terkekeh geli, "Kau terlalu berlebihan pada kekasihmu," Zyta menatap Vanno datar.


"Jangan coba-coba menggodaku," Vanno mengedikkan bahunya acuh.


"Karena sudah selesai, aku pergi. Ayo, Eldan," ujar Zyta dan Eldan mengangguk lalu turun dari berangkar.


"Cih! Dasar kau ini. Ini obatnya yang harus kau tebus dahulu," ujar Vanno menyerahkan selebaran kertas pada Zyta.


Zyta menerimanya dan kembali menatap Vanno datar.


"Tulisanmu masih saja abstrak," ejek Zyta.


Vanno juga menatap Zyta datar, "Itu membuktikan kalau aku dokter,"


"Baiklah. Baiklah, terserah kau, tuan. Ayo, Eldan," ujar Zyta berjalan mendahului Eldan keluar ruang periksa Vanno.


Eldan mengikuti Zyta sebelum itu ia mengucapkan terima kasih pada Vanno.


"Jadi, dia orang yang dimaksud Evan?"


"Menarik," guman Vanno.


📋📋📋📋📋


"Hanya obat penambah darah," gerutu Zyta kesal saat suster memberikannya obat yang diresepkan oleh Vanno.


Zyta tak habis pikir bagaimana bisa para suster itu membaca tulisan Vanno yang menurut Zyta seperti garis lurus alias tak dapat dibaca oleh orang seperti Zyta.


"Terima kasih, ya, sus,"


Suster tersebut menganggukkan kepalanya.


"Sudah dapat. Ayo, pulang," ujar Zyta menghampiri Eldan yang tengah duduk dikursi tunggu tak jauh darinya mengambil obat.


Eldan mengangguk dan berdiri dari duduknya. Mereka berjalan menuju parkiran untuk segera pulang kerumah masing-masing dengan Zyta yang akan mengantar Eldan sampai dirumah pria itu.


Tak dapat dipungkiri jikalau hati Zyta saat ini tengah berbahagia. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mengetahui dimana tempat tinggal Eldan.


"Zyta?!"


Zyta menolehkan kepalanya saat ia mendengar suara yang sangat sering terdengar telinganya.


"Alex!"


Alex tersenyum dan menghampiri Zyta. Pria itu masih memakai jas dokternya.

__ADS_1


"Belum pulang?"


Alex menggelengkan kepalanya.


"Siapa?" tanya Alex berbisik saat matanya tak sengaja melihat Eldan yang berdiri dibelakang Zyta.


Zyta menoleh sebentar lalu menggapai lengan Eldan untuk mendekat padanya.


"Kenalkan, dia Eldan," ujar Zyta tersenyum manis.


Alex mengulurkan tangannya dan Eldan membalasnya.


"Alex," uja Alex tersenyum.


Eldan mengerutkan dahinya saat dirasa tangan Alex sedikit meremat tangannya.


"Eldan," jawab Eldan balas tersenyum canggung.


Alex segera melepaskan tangannya, "Oh ya, Zy, acara nenek lo bentar lagikan?" Zyta menganggukkan kepalanya.


"Tolong, bilangin nenek gue gak bisa dateng lagi. Ada seminar di kota B," Zyta mengerucutkan bibirnya.


"Berapa kali gue bilangin. Bilang sendiri sama nenek. Suka banget buat gue susah hidup,"


Alex terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Sorry. Tapi, lo tau sendirikan bagaimana nenek itu gimana," ujar Alex melirik tangan Zyta yang masih merangkul lengan Eldan sedangkan Eldan sejak tadi hanya diam mendengarkan dua orang didepannya tak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Iya. Iya. Gue sampaikan dengan hormat. Udah malem gue duluan, ya. Byee..,"


Alex menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya begitupun dengan Zyta membalas lambaian tangan Alex.


📋📋📋📋📋


"Maaf, ya mbak. Gak jadi makan bareng. Udah malam banget soalnya," ujar Eldan mensejajarkan dirinya dengan Zyta yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Gak apa-apa kok, tenang aja. Jadi, ini rumahmu?" tanya Zyta saat mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah minimalis bercat biru muda dari dalam mobilnya.


Eldan menganggukkan kepalanya, "Rumah kontrak tepatnya," Zyta mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lumayan bagus juga. Kelihatannya juga besar," Eldan kembali mengangguk.


"Hmm, cukuplah buat 5 sampai 6 orang,"


"Wow. Besar juga. Jadi pingin mampir," ujar Zyta meletakkan kepalanya dijendela mobil.


"Kalau mau mampir juga gak apa-apa kok, mbak," tawar Eldan tersenyum manis.


Zyta menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak. Nggak. Gak enak sama tetanggamu nanti. Kalau ini apartement sih fine, fine aja," Eldan tertawa mendengarnya.


"Ya udah kalau gitu. Aku pamit dulu. Semoga tidurmu nyenyak," ujar Zyta kembali menyalakan mesin mobilnya.


Eldan mengangguk dan tersenyum, "Mbak juga," Zyta juga mengangguk dan tersenyum.


"Bye..," ujar Zyta menjalankan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan Eldan.


Eldan tersenyum kecil dan terus menatap mobil Zyta yang menjauh. Eldan terkekeh kecil saat ingatan percakapannya dengan Zyta terlintas dibenaknya. Ia membalikkan badannya setelah mobil Zyta benar-benar tak terlihat.


Eldan tersentak kaget saat melihat kakaknya berdiri bersedekap dan menatapnya datar dipintu. Eldan mengatur napasnya perlahan dan berjalan masuk.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Naresh tanpa berbalik saat Eldan melewatinya begitu saja.


Eldan berhenti melangkah, "Bukan siapa-siapa," ujar Eldan kembali berjalan menuju kamarnya.


Naresh mengeraskan rahangnya kesal menghadapi sikap adiknya. Naresh berbalik dan mengikuti sang adik memasuki kamar.


"Udah kukatakan berapa kali. Tapi lihat.. Masih aja dilakukan," geram Naresh dan Eldan hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Adam, aku sedang bicara," ujar Naresh membalikkan badan Eldan.


Eldan menyentakkan tangan Naresh dari bahunya kasar dan menatap kakaknya kesal, "Gak usah ikut campur. Urusi urusanmu sendiri dan aku akan mengurusi urusanku sendiri," ujar Eldan tak acuh dan mengambil pakaian baru dari lemari.


"Adam!"


Eldan berdecak dan menatap Naresh sengit, "Mending kakak keluar aja deh. Mau tidur, ngantuk!" ujar Eldan mendorong tubuh Naresh keluar kamarnya lalu segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Adam! Dengarkan aku! Hei! Adam!"


Eldan tak memperdulikan teriakan Naresh dan segera menghembaskan tubuhnya diatas kasur.


Samar-samar ia dapat mendengar suara ibu mereka bertanya. Eldan napasnya panjang dan segera memposisikan dirinya untuk tidur. Besok pagi-pagi sekali ia harus sudah sampai di cafre milik Zyta untuk bekerja. Sudah diputuskannya ia akan menjadi pegawai tetap di cafe Zyzy.


📋📋📋📋📋


Pagi menyambut dan sekarang sudah menunjukkan pukul setengah delapan artinya setengah jam lagi cafe Zyzy akan buka tetapi Eldan masih harus berkutat dirumah membantu sang ibu juga adik perempuannya sedangkan Naresh sudah berangkat kerja sejak jam tujuh pagi.


"Yakin kamu nggak telat, Adam?" tanya sang ibu dan Eldan menggelengkan kepalanya.


Pagi tadi Eldan sudah menceritakan pekerjaan barunya dihadapan sang ibu, adik-adiknya dan Naresh. Naresh sendiri hanya diam lalu tanpa kata pergi berangkat kerja. Eldan tak terlalu memperdulikan sikap sang kakak setelah pertengkaran mereka.


"Iya. Bossnya baik kok, bu. Juga kenalan sih. Makanya agak sedikit longgar,"


"Tapi, tetap saja, diakan bosmu,"


Eldan hanya berdeham dan menganggukkan kepalanya.


"Jadi, beneran nih kakak dapet pekerjaan tetap gak serabutan kayak kemarin-kemarin?"


Eldan tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


Vina bertepuk tangan bahagia, "Jadi pengen cepat-cepat dapat kerja,"


"Selesaikan dulu sekolahmu. SMA aja belum tamat," ujar Eldan menyentil dahi Vina.


Vina mengerucutkan bibirnya dan mengusap dahinya, "Iya. Iya," Eldan tersenyum lalu melihat jam tangannya.


"Bu, berangkat dulu, ya. Cafenya udah mau buka," ujar Eldan menghampiri sang ibu lalu menyalimi tangannya.


"Hati-hati dijalan," Eldan menganggukkan kepalanya.


"Jaga ibu. Yang dirumah hanya kamu sama adik."


Vina menganggukkan kepalanya dan juga ikut menyalimi tangan Eldan.


"Tenang aja. Kalau ada apa-apa tinggal...," ujar Vina meletakkan tangannya ditelinga yang sudah dibentuk seperti gagang telepon.


Eldan terkekeh dan mengacak pelan rambut Vina, "Aku pergi,"


🎡📋🎡TBC🎡📋🎡

__ADS_1


__ADS_2