Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
35 : Yesterday Chatting


__ADS_3

Happyto Readingto


! : Typo Everywhere


πŸ“‹Yesterday Chatting


'Akhirnya dapat juga,'


Adam menaikkan sebelah alisnya saat membaca pesan yang baru saja diterimanya. Adam tidak mengerti apa maksud dari pesan tersebut.


'Ini Siapa?' – AdamNaresh


'Eumm.. Orang yang mengenalmu. Mungkin,'


Adam menggelengkan kepalanya membaca pesan tersebut. Didalam hatinya timbul rasa penasaran atas pemilik pesan tersebut.


'Aneh. Tapi aku nggak kenal kamu,' – AdamNaresh


Baru saja Adam akan meletakkan ponselnya benda itu lebih dulu bergetar menandakan ada pesan masuk.


'Kalau gitu kenalan gimana?'


Adam tersenyum kecil. Ia sangat penasaran dengan pesan yang diterimanya.


'Boleh. Siapa namamu?' – AdamNaresh


'Secret Admirer,'


Adam mengerutkan dahinya. Apa orang ini sedang main-main dengannya?


'Hah? Maksudnya?' – AdamNaresh


'Nggak. Nggak. Cuman bercanda,'


'Ada-ada aja,' – AdamNaresh


'Tapi, siapa namamu?' – AdamNaresh


'Rahasia,'


Dahi Adam semakin berkerut dan ia mulai merasa kesal.


'Loh, kok rahasia?' – AdamNaresh


'Iya, nanti kamu tau,'


Adam menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja orang yang ingin mengganggunya.


'Siapa sih namamu? Kasih tau aja deh,' – AdamNaresh


'Iya. Iya.'


'Namaku.....,'


Adam meletakkan ponselnya dengan kesal saat pesan yang diterimanya tidak memberikannya jawaban apapun.


'Rahasia,'


Adam berdecak saat membaca balasan pesannya padahal ia sudah menunggu hampir ada 15 menit.


'Kamu ngajak main-main?' – AdamNaresh


'Ehhh.. nggak ya.. namaku emang rahasia,'


'Nggak usah main rahasia-rahasiaan. Kasih tau! Cepet!' – AdamNaresh


'Ya udah. Ku kasih tau tapi janji simpan nomerku, okey,'


'Iyaa,'


'Oke...,'


'Namaku....,'


'Queen,'


Adam kembali mengerutkan dahinya saat pengirim pesan itu memberitahukan namanya. Queen? Apa namanya benar-benar Queen?


'Sherlyzyta Queen,'

__ADS_1


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


"Hey.. hey.. Sadarlah?! Adam?!!"


Adam tersadar dan mengerjapkan matanya memandang Kane bingung.


"Adam?"


Kane menganggukkan kepalanya dan juga ikut menadang Adam bingung. Ia merasa jika ia tidak salah memanggil nama pria sebayanya ini Adam.


"Hmm.. bukankah itu namamu? Adam Naresh Sayudha,"


Adam menunduk dan ucapan Kane membuatnya sadar siapa dirinya. Benar apa yang dikatakan Kane. Namanya adalah Adam bukan Eldan.


Setelah sekian lama ia menggunakan nama Eldan, membuatnya lupa siapa nama aslinya bahkan ia juga lupa kalau ia dulu juga anak orang kaya. Tapi, itu dulu sebelum ayahnya meninggal dan ia pindah ke kota J.


"Kau tidak bisa membohongiku, Adam. Bahkan juga kakek dan nenek Zyta,"


Adam mengangkat kepalanya menatap Kane kaget.


"Kau..... Ah! Apa kakek dan nenek Zyta tidak memberitahumu apapun?"


Adam menggelengkan kepalanya.


"Mereka itu," ujar Kane menggeram kesal.


"Jangan marah padaku. Aku hanya mencari waktu yang pas,"


"Kakek?!" ujar Kane saat ia melihat kearah pintu setelah mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya, Adampun juga ikut menoleh.


"Kau.. bagaimana bisa kau tau kami disini?"


Kakek Zyta menunjuk vas bunga krisan plastik yang berada diatas lemari kecil. Kane mengerutkan dahinya lalu berdiri dan menghampiri bifet kecil itu. Kane mengangkat bunga tersebut dan mengeluarkan isinya.


"Dasar!!" ujar Kane berbalik untuk kembali duduk dan menunjukkan kamera kecil yang didapatinya di dalam vas, kakek mengedikkan bahunya acuh.


"Siapa yang menyuruhmu duduk disana?" ujar Kane sengit saat kakek Zyta duduk diantaranya dan Adam.


Kakek berdecak, "Berani sekali kau bersikap tak sopan padaku?!!"


Kali ini Kane yang berdecak, "Untuk apa aku bersikap begitu padamu?"


"Aku tidak sudi mengakuimu kakekku," ujar Kane tanpa menoleh dan fokus menyeduh teh yang baru.


"Apalagi aku, juga tidak sudi mengakuimu cucuku,"


"Cih! Kalau begitu, apa yang kau lakukan disini, kakek-kakek?" ujar Kane kembali ke meja dan meletakkan teko tersebut juga memberikan satu gelas lagi pada kakek Zyta yang sudah diisinya dengan teh.


Adam yang melihat interaksi dua pria berbeda umur dihadapannya ini hanya bisa mengerutkan dahi bingung. Kane terlihat tidak menyukai kakek Zyta tapi ia tetap melayani kakek Zyta dengan adu mulutnya.


"Tentu saja bertemu cucuku yang lainnya," ujar kakek tenang sembari meminum tehnya dan mengedipkan sebelah matanya pada Adam.


Adam mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan bingung karena mendapat serangan tiba-tiba dari kakek Zyta.


Kane menggidikkan bahunya, "Apakah sifat playboymu kambuh?"


Kakek berhenti minum dan menatap Kane sengit.


"Apa maksudmu?!!"


Kane mengedikkan bahunya, "Kakekku bilang, kau adalah seorang playboy,"


Kakek meletakkan gelas teh dengan kasar, "Apa saja yang diucapkan si sialan itu?" tanya kakek mencondongkan tubuhnya pada Kane meminta penjelasan.


Kane menggaruk pipinya, "Eumm... ada banyak dan.. dan.. dan aku tidak mengingat semuanya,"


Kakek menjauhkan tubuhnya dan menghela napas panjang.


"Orang itu!! Awas saja jika aku datang ke Jepang!!" ujar kakek mengepalkan tangannya dan Kane mengelus lengan kakek menenangkan pria paruh baya yang bisa dibilang juga termasuk kakeknya.


"Oh ya?! Sampai lupa. Kedatanganmu kemari, dalam rangka apa?"


Kakek meletakkan kembali gelasnya.


"Sudah kubilangkan, menemui cucu sahabatku dulu," ujar kakek tersenyum pada Adam membuat Adam mengerutkan dahinya bingung.


"Kakek.. mengenal kakekku?"


Kakek Zyta mengangguk dan lanjut meminum tehnya. Adam terdiam dan pikirannya kembali ke masa lalu.

__ADS_1


Adam ingat sekarang, ia pernah bertemu dengan kakek Zyta dan saat itu kakeknya masih hidup, mungkin itu sebabnya Adam merasa pernah melihat wajah kakek Zyta tapi karena waktu itu dia masih kecil, Adam tak terlalu mengingatnya.


"Kau ingat sekarang?"


Adam mengangkat kepalanya dan mengangguk sedangkan Kane memandang Adam dan kakek Zyta bingung.


"Kakek, kau pernah bertemu dengan Adam?"


Lagi-lagi kakek hanya menganggukkan kepalanya.


"Dimana?" tanya Kane merasa tak puas dengan jawaban kakek.


Kakek menunjuk lantai, "Dirumah ini?"


Dan kakek kembali mengangguk.


"Tapi, kenapa aku tidak pernah bertemu dengan Adam?"


Kakek meletakkan gelasnya dan menghela napas kesal. Niatnya ingin bersantai sembari meminum teh tapi Kane terus saja mengeluarkan suaranya, "Tentu saja. Adam hanya sekali datang kemari dan waktu itupun dia tidak keluar dari ruang kerjaku dan memilih menunggu kakeknya yang tengah membahas bisnis denganku. Dan Adam, apa kau mengingatnya?"


Adam menganggukkan kepalanya, "Ingat. Jika tidak salah waktu itu umurku baru 4 tahun,"


Kane membuka mulutnya tak percaya.


"Hebat sekali. Padahal itu terjadi saat kau masih kecil. Apa kau juga mengingat wajah pria tua ini?" tanya Kane menunjuk kakek Zyta yang jarinya langsung ditepis kasar oleh kakek Zyta.


Adam kembali mengangguk, "Hmm.. saat pertama kali bertemu kakek. Aku merasa pernah menemuinya,"


Kakek Zyta terkekeh, "Ingatanmu kuat dan kau juga cerdas. Sangat mirip dengan kakekmu,"


Kane mengerutkan dahinya bingung. Jika Adam sehebat itu, lantas mengapa ia tak melanjutkan sekolahnya dan lebih memilih putus sekolah dan meninggalkan kota S?


"Jika kau sehebat itu, kenapa pergi dari kota S dan bukankah disana ada perusahaan milik kakekmu?"


Adam tersenyum miris, "Perusahaan kakek sekarang ada dibawah kendali anak angkat kakek. Saat kakek meninggal, entah bagaimana kejadiannya semua harta warisan kakek yang harusnya milik ayah malah menjadi milik paman,"


"Milik pamanmu?"


Adam menganggukkan kepalanya.


"Tunggu, bukankah pamanmu seharusnya tidak mendapat warisan apapun setelah apa yang dilakukannya?" tanya kakek.


"Memang seperti itu tapi....,"


Adam terdiam. Pikirannya kembali dimana saat pembacaan surat wasiat kakek.


Waktu itu adalah masa terkelam dalam hidupnya. Kakeknya sudah memberitahunya jika semua kekayaan yang dimiliki kakek akan diwariskan pada ayahnya tapi entah bagaimana tiba-tiba saja semua menjadi milik pamannya yang nyatanya bukan anak kandung kakek dan juga pamannya sudah membuat kakeknya murka.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan kakek. Biarkan saja paman menikmati kekayaan kakek. Mau dia melakukan apa saja aku juga tak peduli. Yang kupedulikan adalah ibu dan adik-adik,"


Kakek dan Kane sama-sama terdiam. Sedangkan kakek tidak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja.


Ia tahu kejadian apa yang menimpa anak angkat kakek Adam dan kejadian itulah yang membuat paman Adam itu tidak mendapatkan warisan apapun selain rumah sederhana dan kecil.


Tapi, kenapa semuanya menjadi seperti ini.


"Adam!" panggil Kane menepuk bahu Adam.


"Aku akan membantumu,"


Adam dan Kakek memandang Kane bingung.


"Kane, apa maksudmu?" tanya kakek.


"Kakek, aku akan membantu Adam mengambil kembali perusahaan ayahnya. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi," ujar Kane membuat kakek terdiam.


Adam melambaikan tangannya menolak. Ia merasa tak enak hati.


"Tidak. Tidak perlu. Aku juga...,"


"Tidak, Adam. Kane benar. Biarkan dia membantumu mengambil lagi perusahaan yang seharusnya sekarang menjadi milikmu dan kakakmu,"


"Tapi...,"


"Setidaknya hal ini yang bisa kami lakukan untuk memenuhi keinginan kakekmu,"


Adam mengerutkan dahinya. Keinginan kakek? Jangan-jangan keinginan kakek yang pernah kakek katakan padanya kalau ia dan keluarga akan dititipkan pada sahabat kakek jika hal buruk terjadi.


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘

__ADS_1


__ADS_2