
πIn Grandma's House
Zyta dan Eldan sekarang sudah sampai di rumah nenek Zyta. Rumah bergaya Jepang khas sang nenek menyambut mereka dengan halaman yang luas dan pepohonan yang rindang menyejukkan hati, disanalah acara ulangtahun nenek akan diadakan.
Meja, kursi dan beberapa pernak-pernikpun sudah ditata dengan rapi disana. Eldan melajukan mobilnya dengan pelan menuju garasi yang sudah ditunjukkan posisinya oleh Zyta.
"Nanti lewat depan. Nenek suka marah kalau lewat pintu samping,"
Eldan menganggukkan kepalanya dan mengikuti Zyta keluar dari mobil. Eldan terpana melihat keindahan rumah milik nenek Zyta.
"Nenek mbak orang Jepang, ya?"
Zyta menganggukkan kepalanya dan juga ikut memandangi rumah neneknya yang sangat mencolok mata itu.
"Nenek dari Jepang sedangkan kakek orang Indonesia,"
"Rumahnya beda sendiri dari yang lain," ujar Eldan masih tetap memandang kagum rumah nenek Zyta.
"Hmm.. Jangan kaget. Keluargaku orangnya memang banyak yang aneh-aneh,"
"Oh My!! Cintaku!! Ternyata kau sudah sangat besar!!!" pekik Zyta menghampiri salah satu pohon bonsai yang telah menjulang tinggi dan hampir mencapai rumah dua lantai.
Zyta memegang daun-daun pohon tersebut lalu memeluknya, "Kau tumbuh dengan baik, sayang,"
'Kau juga aneh, mbak," batin Eldan menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sreekkk...
Suara pintu dibuka membuat Eldan mengalihkan pandangannya dari Zyta menuju pintu tersebut. Disana berdiri wanita paruh baya dengan pakaian khas Jepang melekan ditubuhnya.
"Siapa kamu?" tanyanya pada Eldan.
Eldan mengedarkan matanya bingung ingin menjawab apa hingga tanpa sengaja ia menatap Zyta. Wanita itu juga ikut menatap arah yang ditatap Eldan.
"Zyta?!"
Zyta menghentikan aksinya saat merasa namanya dipanggil oleh suara yang sangat dikenalinya dan menolehkan kepalanya.
"O bachan!!(nenek)" pekik Zyta segera berhambur memeluk neneknya.
"Nenek, Zyta kangen,"
Nenek Zyta terkekeh mendengar ucapan manja dari cucunya.
Ia mengelus sayang lengan Zyta, "Nenek juga,"
"Dan, siapa ini?"
Zyta menolehkan kepalanya kearah Eldan lalu melepaskan pelukannya dari sang nenek dan memeluk lengan Eldan.
"Pacar Zyta," ujar Zyta dengan senyum dibibirnya.
__ADS_1
"Eldan," ujar Eldan membungkukkan badannya.
Walaupun tak yakin apakah ia benar tapi dahulu Eldan pernah membantu seniornya dari SMA dulu untuk membantunya menjamu orang dari Jepang diacara milik ayah seniornya. Nenek Zyta tersenyum lalu menghampiri mereka dan meraih satu tangan Eldan yang lainnya.
"Kau tampan dan tinggi. Sangat cocok dengan cucuku yang satu ini. Namamu juga bagus dan mulai sekarang biasakan dirimu memanggilku nenek sama seperti Zyta,"
Eldan membulatkan matanya tak urung tetap menanggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo masuk," ujar nenek Zyta mengajak Zyta dan Eldan masuk.
"Oh! Sudah sampai? Cepat sekali,"
"Mik, jangan terlalu dingin seperti itu. Bukankah kau merindukan Zyta?" ujar nenek Zyta memukul pelan lengan anak pertamanya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Zyta.
"Ayah!!" ujar Zyta segera melepaskan sepatunya dan segera menerjang tubuh sang ayah dengan pelukkan eratnya.
"Zyta kangen," ujar Mikhail membalas pelukkan Zyta tak kalah eratnya.
"Ayah juga,"
"Bagaimana keadaanmu selama disini? Baik-baik sajakan?" Zyta menganggukkan kepalanya.
"Iya, ayah,"
"Sudah. Sudah kita lanjutkan didalam saja," ujar nenek Zyta.
"Siapa ini?" tanya Mikhail saat dia mendapati Eldan yang berdiri disamping sang ibu.
Mikhail membulatkan dan memandang putri semata wayangnya tak percaya. Zyta mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Sudah. Sudah. Lebih baik kita masuk dan berbincang bersama yang lainnya," ujar nenek Zyta menggandeng tangan Eldan masuk menuju ruang tamu.
"Zyta," panggil Mikhail.
Zyta mendengus mendengar ayahnya memanggil namanya, "Baiklah. Baiklah. Terserah ayah ingin melakukan apa," ujar Zyta paham dengan maksud dari panggilan ayahnya.
"Anak pintar," ujar Mikhail mengacak pelan rambut anak perempuannya yang akan selalu menjadi anak perempuan kecilnya sedewasa apapun Zyta nanti.
πππππ
"Apa kau melihat Zyta?" tanya Eldan pada salah seolah pembantu yang berpapasan dengannya.
Pembantu tersebut mengangguk dan memberitahu dimana Zyta berada.
"Disana, tuan,"
Eldan mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju tempat Zyta berada.
Sejak sepeninggalan Zyta, Eldan benar-benar mendapat berbagai macam pertanyaan dari keluarga besar Zyta yang kebanyakan berisi laki-laki dan yang paling banyak memberikannya pertanyaan adalah ayah Zyta tepat seperti dugaan Zyta sebelumnya. Tapi untungnya disana masih ada nenek Zyta dan ibunya yang sesekali membantunya mengalihkan pembicaraan.
"Hai," ujar Eldan pada Zyta yang tengah duduk dengan kaki dilipatnya dan dijadikannya tumpuan kepala.
__ADS_1
Zyta mengadahkan kepalanya lalu tersenyum pada Eldan, "Hai," sapanya balik.
Eldan duduk bersila disamping Zyta. Tiba-tiba saja Zyta terkekeh memandangnya.
"Kenapa?" tanya Eldan bingung.
"Kau terlihat tampan memakainya," puji Zyta tersenyum pada Eldan.
Eldan mengalihkan pandangannya kearah lain merasa malu membuat Zyta kembali terkekeh melihatnya.
"Apa pakaiannya terasa tidak nyaman?"
"Emm.. sedikit," ujar Eldan.
"Maafkan nenekku, ya. Ia memang mewajibkan para lelaki dikeluarga untuk memakai pakaian itu dan untuk para perempuan bebas memilih. Aku tidak tau mengapa nenek melakukan itu,"
Eldan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa dan lagipula ini adalah pertama kalinya aku memakainya," Zyta tersenyum lega mendengarnya.
"Tapi, tenang saja. Kau hanya perlu menggunakannya saat malam hari saja. Besok pagi kau bisa melepaskannya dan menggunakan pakaian biasa," Eldan menganggukkan kepalanya paham.
"Hei! Hei! Apa-apaan ini? Pria dan wanita yang belum menikah dilarang berduaan," ujar Mikhail saat tak sengaja mendapati Zyta dan Eldan.
Baru saja akan menghampiri mereka tangannya sudah lebih dahulu dicegah oleh sang istri yang entah datang darimana.
"Suamiku, ternyata disini. Kemari, ada yang ingin kubicarakan," ujar Mala menggandeng tangan Mikhail pergi.
"Tapi..,"
"Ayo," ujar Mala menekankan kalimat singkatnya.
Mikhail menghela napasnya dan menuruti kemauan sang istri. Mala menoleh pada Zyta yang mengacungkan kedua jempolnya lalu mengedipkan matanya membuat Zyta terkekeh pelan.
"Kau sudah bertemu ibuku?"
Eldan menganggukkan kepalanya, "Hmm... dia wanita yang baik dan ramah,"
"Apa aku juga baik dan ramah?" tanya Zyta tersenyum menatap Eldan dalam.
Eldan kembali mengalihkan pandangannya pada kolam disamping mereka.
"Hmm.. hmm..," jawab Eldan menganggukkan kepalanya.
Zyta terkekeh melihat wajah malu Eldan.
"Eiyy.. tak usah malu. Kau semakin tampan jika malu seperti itu," goda Zyta membuat Eldan menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya.
Zyta terkekeh geli melihatnya. Ia senang bisa menggoda Eldan seperti saat ini dan ia berharap semoga saja mereka terus seperti ini selamanya.
Ya. Semoga saja.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘
__ADS_1