
Happy Read~ing
! : Typo Everywhere
📋Kept Secret
"HAI!!! ADAM!!!" pekik Kane saat membuka pintu ruangan Adam.
Diperusahaan milik keluarga Mezzaluna, Adam menjabat sebagai wakil direktur untuk membantu ayah Zyta yang sejak Zyta kabur suka sekali berpergian entah kemana bersama istrinya dan semua pekerjaan ayah Zyta sudah pasti dilipahkan sepenuhnya pada Adam hingga Adam sendiri merasa bingung sebanarnya siapa yang menjadi boss disini?
Adam hanya menatap sekilas dan kembali fokus pada dokumen-dokumen didepannya. Ia tak menyangka dihari pertamanya bekerja sudah bertumpuk belasan dokumen yang harus dipelajari. Sekarang saja ruangan direktur tengah kosong dari penghuninya.
Kane mengumpat pada Adam yang mengacuhkannya. Kane masuk lebih dalam dan menghampiri Adam lalu duduk didepannya.
"Kau mengacukanku boss kecil,"
"Jangan memanggilku boss kecil. Aku hanya pegawai biasa," Kane berdecih.
"Mana mungkin ada pegawai baru yang langsung menjadi wakil direktur,"
"Ada. Kau sudah melihat buktinya. Ada didepan matamu," ujar Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen ditangannya.
"Kurasa kedatanganku bukan diwaktu yang tepat," decak Kane berdiri dari duduknya dan berkeliling memutari ruangan Adam yang masih biasa saja.
"Ruanganmu sangat suram. Perlu perubahan,"
"Ini juga,"
"Sebelah sini juga,"
"Bukankah lebih baik ditambahkan tanaman disini?"
"Disini juga harusnya ditambahkan furnitur lainnya agar lebih hidup,"
"Kau sungguh tidak perhatian pada ruanganmu,"
"Ada apa kemari?" tanya Adam meletakkan dokumennya dan menatap kesal pada Kane yang sejak tadi terus berkomentar mengenai dekorasi ruangannya.
Mana mungkin ia perhatian dengan ruangannya sekarang. Ia baru saja menjabat sebagai wakil direktur dan sudah mendapatkan setumpuk dokumen jadi ia mana ada waktu. Kane terkekeh dan kembali duduk didepan Adam.
"Jangan marah. Aku kemari hanya ingin memberitahumu. Kakek memintamu datang kerumah,"
Adam mengerutkan dahinya bingung, "Ada apa?"
Kane mengedikkan bahunya tak tau. Ada apa kakek memintanya datang padahal ia sudah datang menemui kakek Zyta dua hari yang lalu.
"Kurasa ada hal penting yang ingin disampaikannya,"
__ADS_1
Adam semakin mengerutkan dahinya.
"Baiklah besok aku akan datang," ujar Adam kembali berfokus pada dokumen tentang kerjasama.
"Tidak. Dia memintamu datang sekarang. Kami semua juga disuruh untuk datang,"
Adam kembali mengerutkan dahinya dan menatap Kane bingung.
"Sekarang?"
Kane menganggukkan kepalanya, "Hmm.. lagipula ini juga sudah jam pulang. Apa kau masih mau bercumbu dengan dokumen-dokumen itu?"
Adam memutar bola matanya dan menatap Kane malas.
"Dokumen-dokumen ini sekarang lebih menarik daripada dirimu,"
Kane membulatkan matanya.
"Apa kau bilang? Jadi, kau mengkhianatiku begitu?"
Adam hanya mengedikkan bahunya.
"Kalian mulai lagi," Kane memutar badannya.
"Hai, Evan sayang," sapa Kane tersenyum manis pada Evan yang melangkah masuk tapi Evan tak menghiraukan Kane.
"Apakah benar-benar harus sekarang?"
Evan menganggukkan kepalanya. Adam terdiam lalu menghela napasnya dan mulai membersihkan mejanya.
Kane mencebikkan bibirnya, "Cih! Jika Evan yang mengatakannya, kau langsung berkemas," ujar Kane merasa Adam tidak adil padanya karena lebih memilih mendengarkan ucapan Evan dan mengacuhkannya.
"Kita pergi," ujar Adam berjalan mendahului disusul Kane dan Evan dibelakangnya.
📋📋📋📋📋
Saat ini mereka berada didalam mobil milik Evan dengan Kane yang menyetir dan Adam dibelakang. Setiap kali mereka bertemu maka Kane yang akan menyetir, Evan dikursi samping dan Adam dikursi belakang.
"Entah ini hanya perasaanku saja atau bagaiamana, aku merasa kalau ayah Zyta tidak terlalu memperdulikan kaburnya Zyta," ujar Kane membuka suara.
Saat ini mereka masih berada ditengah-tengah kemacetan kota J menuju rumah kakek dan nenek Zyta.
"Maksudmu?" tanya Evan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya.
"Dasar bodoh! Maksudku paman tidak terlihat panik sama sekali saat mengetahui Zyta kabur," Evan tampak berpikir.
"Bukankah waktu itu dia panik?"
__ADS_1
Kane manatap Evan datar, "Itu bohong. Aku pernah tak sengaja melihatnya terlihat biasa saja saat keluar dari ruang diskusi,"
Evan langsung tersadar, "Ah! Benar! Kakek juga terlihat biasa saja," ujar Evan membenarkan ucapan Kane.
"Apa jangan-jangan selama ini kakek dan paman yang membantu kaburnya Zyta?" tebak Kane setelah ia berpikir-pikir orangtua Zyta dan kakek neneknya adalah orang-orang yang terlihat biasa-biasa saja atas kaburnya Zyta kali ini.
"Aku jadi curiga sekarang," ujar Evan.
Adam yang sejak tadi diam mendengarkanpun juga berpikiran sama dengan Kane.
Benar juga, selama ini kakek terlihat tidak terlalu peduli dengan kepergian Zyta. Malah kakek terlihat lebih fokus pada masalahnya ketimbang masalah yang cucu kandungnya sendiri.
"Apa yang tengah mereka sembunyikan dari kita semua?" ujar Kane dan Adampun juga berpikiran sama.
📋📋📋📋📋
Mereka sampai dirumah kakek dan nenek Zyta tak lama setelahnya dan keluar dari mobil setelah memarkirkannya digarasi yang sudah terparkir beberapa mobil dari anggota keluarga yang lainnya.
Saat akan melewati pintu samping, salah seorang pelayan mencegah mereka, "Maaf atas kelancangan saya, tuan-tuan tapi, nyonya besar berpesan meminta tuan muda untuk lewat pintu depan,"
Adam menatap Kane dan Evan yang mengedikkan bahunya tak tau.
"Ini aneh. Kenapa taman depan banyak kursi, meja, dan dekorasi? Apakah akan ada acara malam ini?" ujar Evan saat ia baru menyadari jika taman ramai oleh orang-orang yang menata meja, kursi dan beberapa dekorasi yang lainnya. Kane dan Adampun juga baru menyadarinya saat Evan bilang.
'Ada apa sebenarnya ini?' batin Adam.
"Kurasa akan ada acara besar mal... akhh!!!!" pekik Kane kaget saat ia baru saja akan membuka pintu tapi pintu itu sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan adiknya.
"Yui?!!!!"
"Anata wa toshidesu, nii-san, (kamu lama, kakak)" ujar Yui berjalan meninggalkan ketiga pria tampan yang berstatus lebih tua darinya itu didepan pintu.
Yui berhenti dan berbalik, "Hokanohito wa matteimasu!(yang lainnya sudah menunggu!)" ujar Yui datar dan kembali berjalan menuju ruang tamu.
"Yui-chan masih saja dingin,"
Kane mengangguk mengiakan ucapan Evan tentang adiknya yang kelewatan dingin. Ia khawatir jika adiknya ini tidak memiliki kekasih nantinya diumurnya sekarang.
"Sudahlah. Kita masuk dan menemui yang lainnya," ujar Adam masuk lebih dahulu.
Adam berjalan menuju ruang tamu, ia mengerutkan dahinya saat melihat ruang tamu yang penuh bahkan ada ibu dan kakaknya yang tengah berbincang dengan orangtua Zyta. Adam mengerutkan dahinya dan baru saja akanbertanya Evan ebih dulu menyela.
"Ada apa ini?"
Semua orang menghentikan perbincangan mereka dan melihat kearah Adam juga Evan. Mereka hanya tersenyum dan membubarkan diri masing-masing. Kakek juga ikut pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kalian sungguh lama. Kalian membuat kami harus menunggu lama. Masuklah ke kamar kalian dan ganti pakaian kalian dengan pakaian yang sudah disiapkan," ujar kakek menepuk bahu Adam lalu melangkah pergi diikuti nenek yang tersenyum misterius pad Adam.
__ADS_1
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡