Gigolo Feeling

Gigolo Feeling
45 : Misunderstanding


__ADS_3

Happiey Readingiey


!:Typo every~where~


PS:Menjelangakhir


πŸ“‹Misunderstanding


Zyta menghembuskan napasnya lelah. Ia sudah mulai mengantuk dan beberapa kali ia ketiduran dengan posisi duduk bersila disamping Adam. Seperti ada lem yang membuat matanya menempel tapi Zyta masih bisa menahannya dan berusaha tetap terjaga.


Ia harus mengganti handuk didahi Adam dan kalau ia sampai ketiduran maka handuknya akan kering. Apalagi ia punya kebiasaan buruk yaitu mudah sekali tidur tapi bangunnya susah. Seburuk apapun tempat itu bahkan ia bisa tertidur. Dalam keadaan apapun. Mau ramai ataupun sepi.


"Ya Tuhan... aku... mengantuk.. sekali..," guman Zyta membuka paksa matanya dengan tangannya tapi tetap saja rasa kantuk itu begitu kuat membuatnya tak berdaya.


"Tidur sebentar, tidak akan terjadi apa-apa," guman Zyta memindahkan baskom berisi air hangat dan merebahkan tubuhnya disebelah Adam dengan tangannya yang ia gunakan sebagai bantalan.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Suara kicau burung diluar yang terdengar sama kedalam kamar membuat tidur Zyta sedikit terusik tapi ia terlihat enggan untuk membuka matanya. Zyta malah semakin menyamankan dirinya pada guling dipelukkannya yang terasa hangat bahkan terasa halus didagunya ditambah lagi menguarkan aroma wangi.


"Wangi..," gumam Zyta terus menghirup aroma tersebut dan semakin mengeratkan pelukkannya.


Anehnya guling ini juga terasa hangat dan keras tapi Zyta tak memperdulikannya karena gulingnya ini benar-benarnya membuatnya nyaman.


Sreekkk...


"YA TUHAN!! ZYTA!!!" pekikkan seseorang membuat Zyta langsung membuka matanya karena kaget, ia bahkan sampai terduduk dan melihat siapa yang berpekik sekencang dan mendapati sang ibu didepan pintu tengah berkecak pinggang.


Zyta mengucek matanya dan menguap pelan lalu merenggangkan tangannya. Baru saja ia akan menyibak selimutnya tapi ia baru saja sadar kalau ia saat tidur tidak memakai selimut tapi tangannya malah menyentuh sesuatu yang keras dan lembut.


Pandangannya menurun kebawah dan ia membulatkannya matanya. Ia menoleh kearah samping dan mendapati Adam disampingnya dengan mata tertutup dan tangan pria itu memeluk pinggangnya bahkan handuk didahi pria itu sudah hilang entah kemana. Zyta segera mengalihkan pandangnya kepenjuru ruangan.


'Ini kamar pria itu,' batin Zyta merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya ia ketiduran dikamar Adam.


Zyta menepuk dahinya. Nirmala menggelengkan kepalanya.


"Cepat bangun dan bersihkan dirimu. Sebelum itu, cek suhu tubuh Adam masih panas atau tidak. Ibu tinggalkan keperluanmu dan Adam disini," ujar Nirmala kembali menutup pintu dan Zyta segera meletakkan tangganya didahi Adam mengecek suhu tubuh pria itu, apakah masih deman atau tidak?


Zyta menghela napasnya panjang saat ia merasakan suhu tubuh Adam yang belum juga menurun. Tentu saja karena semalam Adam belum sempat dibangunkan untuk meminum obat karena tidur pria itu sangat pulas.


Zyta menyingkirkan tangan Adam dari tubuhnya lalu berdiri dan mengambil barang-barang yang ibunya tinggalkan didepan pintu. Ada pakaiannya, bubur dan obat penurun panas.


Ibunya ini memang benar-benar ingin sekali membuatnya terus menerus berada disamping Adam dan tidak mengijinkannya sedikitpun untuk kembali kekamarnya. Ia memang senang tapi tidak juga harus seperti ini bahkan menyuruhnya mandi dikamar Adam.


Dilihatnya jam di dinding dan masih menunjukkan pukul setengah 8 dan sarapannya akan siap jam 8 tepat nanti tapi Zyta sudah merasa lapar. Mungkin ini karena semalam ia juga hanya makan sedikit.

__ADS_1


Zyta kembali menuju Adam mengecek kembali suhu badan pria itu dan masih tetap saja panas. Zyta menghembuskan napasnya panjang lalu menggoyangkan tubuh Adam membangunkan pria itu.


Adam bergumam pelan dan membuka matanya, Zyta tersenyum dan bersyukur Adam mau membuka matanya.


"Apa merasa pusing?"


Adam menganggukkan kepalanya lemah membuat Zyta khawatir melihat Adam yang terlihat lemas seperti itu.


"Makan dulu lalu minum obat dan lanjutkan tidurmu. Sini biar kusuapi," ujar Zyta tersenyum dan membantu Adam setengah duduk lalu menyuapinya dengan telaten.


Setelah memakan habis buburnya dan meminum obat, Zyta membantu Adam kembali tidur. Zyta merapikan peralatan makan dan menaruhnya diatas meja.


"Mau kemana?" tanya Adam dengan suara serak dan lemahnya saat Zyta berjalan menuju pintu.


Zyta mengerutkan dahinya, "Tidak kemana-mana. Aku mau kekamar mandi,"


Adam ber-oh ria dan menganggukkan kepalanya. Adam kira Zyta akan meninggalkannya sendiri.


Zyta menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil saat Adam buru-buru menutup matanya. Zyta membuka pintu keluar kamar dan memanggil dua pelayan yang berjaga didepan pintu dan ia yakin itu pasti perintah ibunya.


Seusai mandi dan mengganti gaunnya yang sungguh merepotkan dan membuatnya merasa tak nyaman tapi bisa membuatnya nyaman-nyaman saja saat tidur, dengan yukata.



Zyta kembali duduk disamping Adam dan kembali mengecek suhu tubuhnya. Merasakan ada yang menyentuh dahinya, Adam membuka matanya perlahan. Adam melebarkan matanya melihat Zyta dengan balutan yukatanya dengan rambut yang disanggul disamping ditambah hiasan rambut membuatnya bertambah cantik.


"Kenapa?"


Zyta menyetuh bahu Adam dan Adam malah tersentak kaget membuat Zyta semakin bingung dibuatnya. Ada yang tidak beres dengan pria didepannya ini.


"Kau tidak apa-apa?"


Adam menggelengkan kepalanya dengan cepat. Zyta menggelengkan kepalanya tak percaya. Baru saja Zyta akan membuka mulutnya lagi tiba-tiba pintu diketuk dan dari luar pelayan memberi tahu kalau sarapan telah siap.


Zyta merapikan menaikkan selimut Adam hingga mencapai bahunya lalu mengelus pelan rambut Adam setelah itu ia berdiri dan meninggalkan Adam untuk sarapan.


Adam menghembuskan napasnya panjang setelah mendengar suara pintu ditutup. Jantungnya berdetak dengan kencang dan membuatnya sedikit kesulitan bernapas, itu semua disebabkan oleh Zyta dan juga Adam tidak mengerti mengapa ia menjadi seperti ini hanya karena melihat Zyta.


πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹πŸ“‹


Zyta memasuki ruang makan yang disana hanya terdapat Kane, Evan dan ibunya. Entah pergi kemana paman, bibi, kakek-neneknya dan sang ayah. Zyta duduk diantara Kane dan Evan yang tengah menyantap sarapannya.


"Kemana yang lainnya," tanya Zyta pada ibunya.


"Entahlah. Mungkin masih dikamar mereka,"

__ADS_1


"Ayah?"


"Tantu saja masih tidur. Kamu ini masa lupa sama ayahmu itu gimana?"


Zyta menganggukkan kepalanya. Ayahnya baru akan bangun nanti jika jam menunjukkan angka 11, barulah dia bangun.


Zyta menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat kedua sepupunya yang hanya diam saja.


Zyta sedikit mencondongkan tubuhnya, "Apakah ada sesuatu yang terjadi?" ujar Zyta pelan pada ibunya menunjuk Kane dan Evan bergantian.


Nirmala juga mencondongkan tubuhnya mendekati putrinya itu, "Entahlah. Sejak mereka duduk sudah diam seperti itu. Kalau Kane mungkin karena semalam dan kalu Evan...,"


Nirmala menjauh dan mengedikkan bahunya tak tau mengapa Evan juga hanya diam saja seperti Kane. Zyta tak mengerti mengapa dua orang disamping kanan dan kirinya ini menyantap sarapannya dalam diam sedangkan biasanya merekalah yang paling ramai jika tengah makan bersama seperti ini.


"Pagi...," sapa ayah Zyta yang tiba-tiba saja datang dan duduk disebelah istrinya.


Nirmala dan Zyta mengerutkan dahinya menatap Mikhail dan yang ditatapa balik menatap bingung.


"Kenapa?" ujar Mikhail.


Nirmala dan Zyta menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Nggak biasanya aja kamu bangun pagi,"


Mikhail mengerucutkan bibirnya.


"Memangnya tidak boleh,"


"Ih! Ayah geli tau. Udah tua masih aja kayak anak kecil," ujar Zyta.


Mikhail mendengus, "Biarin. Kan cuman sama ibumu. Iya nggak, sayang?" ujar Mikhail tersenyum lebar pada istrinya itu dan Nirmala hanya menggelengkan kepalanya tak percaya melihat tingkah suaminya yang benar seperti yang dibilang Zyta.


Kayak anak kecil.


"Oh ya Kane, nanti...," ujar Mikhail mengalihkan pandangannya pada Kane dan berhenti saat melihat Kane hanya diam saja.


Ia juga merasa bingung lantas menyenggol istrinya. Nirmala menolehkan kepalanya dan menatap suaminya itu bingung. Mikhail menujuk Kane dengan dagunya. Nirmala mengedikkan bahunya dan menggeleng tak tau. Mikhail mengerutkan dahinya lalu mengalihkan pandangannya pada Evan yang ternyata juga sama seperti Kane.


Mikhail menyenggol kaki Zyta dengan kakinya. Zyta yang tengah memakan sarapannya mengadakan kepalanya dan menatap sang ayah bingung. Mikhail menunjuk Kane dan Evan bergantian dan Zyta menggelengkan kepalanya tak tau. Mikhail kembali mengerutkan dahinya.


"Kane, Evan, kalian nggak apa-apa, kan?"


Kane dan Evan sama-sama mengadahkan kepalanya secara bersamaan lalu menggeleng dan melanjutkan makan mareka.


Zyta, Mikhail, dan Nirmala saling pandang bingung apa yang terjadi pada dua orang pria disamping kanan kiri Zyta.

__ADS_1


πŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘TBCπŸŽ‘πŸ“‹πŸŽ‘


__ADS_2