
Happy Readingeu
! : Typo Everywhere
πSecret Game
Adam telah mengganti pakaian dengan tuxedo berwarna silver yang tergantung didepan lemari kamarnya. Walau dirumah kakek-nenek Zyta tapi entah bagaimana dulu, tiba-tiba saja kamar yang pertama kali dipakainya ini dulu sekarang telah menjadi miliknya.
Adam berusaha menyimpulkan dasinya tapi tak kunjung berhasil. Ini adalah pertama kalinya bagi Adam menyimpulkan dasinya sendiri karena selama ini Adam selalu memakai dasi siap pakai.
"Tidak bisa menyimpulkannya?"
Adam membalikkan badannya lalu tersenyum lembut. Ibu Zyta balas tersenyum.
"Tante,"
Nirmala berjalan mendekati Adam dan membantu pria muda itu menyimpulkan dasinya.
"7 Tahun berlalu. Kamu semakin tampan saja," canda Nirmala disela-sela menyimpulkan dasi, Adam terkekeh.
"Bukankah aku memang tampan tante?"
Nirmala terkekeh lalu mencubit pelan pipi Adam.
"Iya.. Iya.. Kamu emang tampan, kok. Evan sama Ken aja kalah sama ketampananmu,"
Adam tertawa mendengarnya, "Tante berlebihan,"
"Nah... sudah selesai.. Lihat bagus gak simpulan tante?"
Adam mengangguk membenarkan karena simpulan dasi Nirmala sangat sempurna layaknya dasi siap pakai yang sering Adam gunakan.
"Oh ya Adam.. Tante sampai lupa," ujar Nirmala kembali berdiri didepan Adam dan memasangkan pin Phoenix yang dulu pernah diberikan nenek Zyta padanya tapi ia kembalikan lagi karena Adam merasa ia tak pantas menerimanya.
"Kenapa tante kasih lagi ke aku?"
Nirmala tersenyum, "Memangnya Zyta nggak pernah kasih tau kamu saat liat kamu pakai pin ini?" Adam menggeleng.
Nirmala menghela napasnya merutuki kebodohan anak satu-satunya itu.
"Tapi, Zyta bilang aku bakal tau suatu saat nanti," lanjut Adam saat melihat Nirmala mengerutkan dahinya dan berkomat-kamit.
Tetap saja Nirmala kembali menghela napasnya.
"Nenek Zyta juga pernah memberikan pin seperti ini kepadaku hanya saja dalam bentuk bunga untuk para wanita dan Phoenix untuk wanita," ujar Nirmala berjalan menuju kursi dan mendudukinya.
Nirmala membuka kerah baju gaunnya dan menunjukkan pin berbentuk bunga sakura pada Adam.
"Jika kamu mendapatkannya. Itu artinya kamu diterima dikeluarga ini sebagai anggota keluarga tak resmi,"
__ADS_1
Adam mengerutkan dahinya tak mengerti membuat Nirmala terkekeh.
"Melihat ekspresimu membuat tante ingat jaman dulu waktu bibi dari ayah Zyta memberi tau tante soal arti pemberian pin ini," ujar Nirmala menyentuh pin yang terpasang dikerah baju dan tersenyum saat mengingat ia pernah berada diposisi Adam.
Nirmala berdiri dari duduknya dan mendekati Adam, "Kamu pasti nggak paham. Maksudnya nenek Zyta merestui hubungan kalian dan menginginkanmu menjadi anggota keluarga ini. Statusmu saat ini memang masih sebagai anggota tak resmi tapi beberapa saat lagi kamu akan menjadi anggota keluarga ini,"
"Selama waktu itu tiba teruslah berpikir," ujar Nirmala mengedipkan sebelah matanya dan berjalan keluar saat salah satu pelayan mengatakan kalau acara akan segera dimulai dan Nirmala diminta untuk ke tempat acara sebelum acara dimulai.
Adam masih tidak paham apa maksud dari perkataan Nirmala. Adam berbalik dan menyentuh pin Phoenix yang terpasang dituxedonya dengan pikiran berkecamuk.
"Anggota tidak resmi dan akan menjadi anggota keluarga ini tidak lama lagi?"
Adam terus berpikir apa maksud dari perkataan Nirmala.
"Jangan-jangan?!!" guman Adam menutup mulutnya saat ia mencoba mengartikan maksud dari perkataan Nirmala.
Adam menggelengkan kepalanya menyangkal pemikirannya sendiri tapi di dalam hatinya ia berharap itulah maksud dari perkataan Nirmala.
πππππ
Adam berjalan mengelilingi rumah kakek dan nenek Zyta. Para pelayan yang biasanya sibuk dijam-jam tertentu saat ini terlihat sibuk semuanya. Adam masih tak tau acara apa yang diadakan kakek dan nenek Zyta sampai para pelayan sesibuk ini.
Tanpa sadar Adam berjalan sampai ditempat dimana ia pertama kali bertemu dengan kakek Zyta. Dari dulu hingga sekarang tempat itu tidak mengalami perubahan sedikitpun. Masih sama seperti dulu. Adam tersenyum jika mengingat dulu ia pernah berbincang dengan Zyta disini.
"Mengingat masa lalu?"
Kakek menghembuskan napasnya pelan, "Bukankah kita pertama kali bertemu disini?" Adam berdeham mengiakan.
"Kupikir dulu kau orang yang menakutkan,"
Kakek berdecak tak terima.
"Apa aku semenakutkan itu?"
Adam mengedikkan bahunya.
"Dasar!" ujar kakek dan mereka sama-sama terdiam menikmati suara gemericik air.
"Mungkin kau sudah mendengar ini berulang kali tapi tak terasa sudah 7 tahun berlalu,"
"Tidak usah membahas 7 tahun berlalu lagi," Kakek tertawa.
"Kenapa jadi ingat cucuku?"
Adam berdecak dan memutar bola matanya malas. Kakek kembali tertawa lalu berbalik dan menepuk bahu Adam.
"Tak usah mengelak. Lagipula sebentar lagi kau juga akan menjadi cucuku," ujar kakek membuat Adam kembali mengerutkan dahinya dan kembali mengingat asumsinya tadi.
__ADS_1
"Jangan bermain tebak-tebakkan denganku," ujar Adam dengan dahi berkerut kesal tapi kakek hanya tertawa menanggapinya.
"Aku pergi dulu dan kau jangan lama-lama disini. Acaramu akan dimulai," ujar kakek kembali menepuk bahu Adam dan berjalan meninggalkan Adam dengan segala spekulasi yang bercokol dipikirannya.
Adam tak habis pikir. Anggota keluarga Zyta memang sudak sekali bermain teka-teki yang menyebalkan hingga Adam harus dibuat pusing 7 keliling.
πππππ
"Tuan muda, anda diminta untuk segera menuju tempat acara,"
Adam tersentak kaget saat seorang pelayan meminta menuju ke tempat acara digelar. Adam berdeham mengiakan dan segera menuju tempat acara.
"Adam!!"
Adam kembali tersentak kaget saat suara Kane memanggilnya. Adam berbalik dan menatap Kane datar. Kane berhenti dan memiringkan kepalanya membuat Adam juga memiringkan kepalanya tanpa sadar.
"Ada apa?" tanya Adam saat Kane terlihat fokus pada pakaian yang dikenakannya.
"Kenapa hanya kau yang memakai tuxedo berbeda?" guman Kane pada dirinya sendiri tapi dapat didengar oleh Adam.
"Memangnya yang lain memakai apa? Bukankah kau juga tuxedo?"
Kane menggelengkan kepalanya, "Tak apa-apa. Ayo kita ke tempat acara," ujar Kane merangkul bahu Adam.
"Kane," Kane berdehem mengiakan.
"Sebenarnya kakek dan nenek mengadakan acara apa?"
Kane mengedikkan bahunya juga tidak tau, "Entahlah. Saat aku tadi bertanya pada para pelayan mereka tidak memberitahuku,"
"Apa yang sedang disembunyikan kakek?"
"Entahlah. Pak tua itu memang suka sekali bermain rahasia-rahasiaan,"
Adam kembali pada pikirannya sendiri. Seingat Adam sebelum kakek pergi, kakek berkata kalau ini adalah acaranya. Tapi, Adam rasa ia tidak mengadakan acara apapu atau jangan-jangan kakek berniat mengadakan acara penerimaannya menjadi wakil direktur.
Tuhan, Adam tidak menginginkan acara seperti ini. Ini terlalu berlebihan untuk Adam. Apalagi Adam bukanlah anggota keluarga Mezzaluna. Jadi, ia tidak memerlukan acara seperti ini.
πππππ
Adam dan Kane sudah sampai di taman depan yang sudah penuh oleh tamu undangan yang hadir. Bedanya kali ini tamunya tak sebanyak acara ulangtahun atau acara resmi lainnya mungkin yang hadir hanya orang-orang penting saja.
Tapi belum tentu juga karena beberapa diantaranya ada wajah yang asing untuk Adam.
"Adam!"
Kane dan Adam menoleh ke sumber suara. Nirmala melambaikan tangannya meminta dua pria tampan tersebut mendekat padanya. Adam mengerutkan dahinya saat melihat pakaian Nirmala yang berubah menjadi kebaya.
"Kok baju tante berubah?" tanya Adam dan Nirmala hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Mulailah acaranya," ujar kakek pada MC yang berdiri tak jauh dari mereka. MC tersebut mengangguk dan acarapun dimulai.
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘