
Happy Reading
! : Typo Everywhere
📋7 Years
"Jadi, ada apa kau ingin bertemu denganku?"
"Kak Zyta. Dia kabur. Dan aku butuh bantuanmu untuk mencarinya,"
"Kabur?"
Evan menganggukkan kepalanya. Di dalam hati Evan bingung kepada Alex terlihat tenang dan biasa saja.
Alex tersenyum sinis, "Aku tidak akan mengatakan kemana Zyta pergi,"
Evan meneguk ludahnya, "Maksud kakak?"
Alex membalikkan badannya dan menunjuk Kane dan Adam yang berada tepat dibelakangnya dan Evan membulatkan matanya lalu menghela napas panjang.
"Ternyata sudah ketauan,"
Evan menepuk dahinya mendengar candaan Kane bahkan Kane memamerkan senyum menawannya. Alex kembali menghadap Evan.
"Aku tau kalian akan mencariku karena tadi aku bertemu dengannnya," ujar Alex mengarah pada Adam yang berada dibelakangnya.
"Kalau begitu, aku tidak perlu sungkan-sungkan lagi. Kemana Zyta?" ujar Kane masih dengan senyum yang terpantri dibibirnya.
"Aku lebih suka kau merasa sungkan padaku, Kane,"
"Alex, aku sedang tidak ingin bermain-main seperti dulu,"
"Hmm.. siapa yang mengajakmu bermain, Kane?"
"Kau....," geram Kane.
Alex tertawa mengejek, "Kenapa Kane? Tidak bisa melakukan apapun? Percuma saja jika kau memukulku. Kau tidak akan berani bukan?"
Kane hanya diam saja tanpa menjawab, ia mengalihkan pandangannya saat Adam menatapnya.
"Kak Alex,"
"Ayo, Kane. Pukul aku seperti dulu atau kau akan tau akibatnya," ujar Alex masih dengan tawa penuh ejeknya.
"Kenapa diam Kane? Apa kau.... Akhh!!!!" pekik Alex saat ia baru saja akan berbalik tiba-tiba sebuah tinjuan melayang mengenai wajahnya.
"Karena Kane tidak bisa melakukannya maka aku yang akan melakukannya. Jika kau tidak ingin mengatakannya maka aku akan mencarinya sendiri," ujar Adam melangkah meninggalkan cafe.
Evan menatap Adam, Kane, dan Alex bergantian, bingung siapa yang harus dibantu terlebih dahulu.
"Kak Adam, tunggu!!" teriak Evan memutuskan mengejar Adam yang sudah kembali ke parkiran.
Kane berdiri dari duduknya dan menghampiri Alex.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Mau kau melakukan apapun itu terserah padamu dan aku tak peduli. Lagipula dia sudah mati," ujar Kane melangkah pergi meninggalkan cafe menyusul Adam dan Evan.
"Kane sialan!!" umpat Alex menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah lalu ia juga pergi meninggalkan cafe.
Kejadian tadi cukup membuatnya malu karena hampir seluruh pengunjung cafe melihat penasaran kepada mereka.
📋📋📋📋📋
Adam menyandarkan kepalanya pada kaca begitupun dengan Evan sedangkan Kane fokus menyetir. Mereka bertiga fokus kepada pikiran mereka masing-masing.
"Kukira masalah kalian sudah selesai," ujar Evan pada Kane.
"Ku pikir begitu, tak ku sangka ia masih memikirkannya,"
"Sudah beberapa tahun berlalu. Onee-san pasti hidup dengan tenang disana,"
__ADS_1
Kane berdeham mengiakan.
"Daripada memikirkannya, bagaimana denganmu Adam?"
Adam mengangkat kepalanya dan berdeham.
"Hubungan kalian bukankah akan berakhir?"
Evan mengerutkan dahinya bingung dan memandang Kane dan Adam bergantian.
"Kurasa kurang beberapa bulan lagi," ujar Adam kembali menyandarkan kepalanya di jendela.
Kane beberapa kali melirik melalui kaca spion.
"Ayolah. Zyta tidak akan pergi selamanya. Ia sudah beberapa kali kabur seperti ini. Kau siap-siaplah jika benar-benar akan menikah dengannya nanti," goda Kane tapi Adam hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Tunggu sebentar. Hubungan kalian akan berakhir?" tanya Evan yang masih tak memahami arah pembicaraan Kane dengan Adam.
Kane mengerutkan dahinya memandang Evan bingung.
"Kau tidak tau?"
Evan menggelengkan kepalanya.
"Adam dan Zyta tidak benar-benar berpacaran,"
Evan terbatuk-batuk karena tiba-tiba saja tersedak ludahnya sendiri.
"Aku masih tidak paham?" tanya Evan setelah ia dapat mengontrol batuknya.
"Adam...," ujar Kane melirik Adam dari spion tapi Adam hanya diam dan memandang keluar.
Kane melambaikan tangannya meminta Evan mendekat.
"Adam seorang gigolo," bisik Kane.
Evan menatap Kane tak percaya lalu beralih pada Adam yang duduk dibelakang, "Jangan menatapku seperti itu," ujar Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari luar mobil.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Kane.
"Hah~ Seperti rencana awal,"
"Kau yakin?" Adam menganggukkan kepalanya.
📋📋📋📋📋
"Kau yakin tidak ingin ke rumah kakek?"
Adam menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih sudah mengantarku,"
Kane menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Kau istirahatlah. Besok hari pertamamu kuliahkan? Semoga saja semuanya berjalan lancar,"
"Hmm..."
Kane pamit dan meninggalkan pelataran rumah Adam.
'Hmm.. semoga saja,'
📋📋📋📋📋
Pagi menyambut dan hari ini adalah hari pertama Adam menjadi pegawai di salah satu perusahaan milik keluarga Mezzaluna.
7 Tahun berlalu, dengan dibekali otak pintar milik ayahnya yang menurun padanya, Adam dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat hingga ia sekarang sudah menyandang gelar Magisternya.
"Hari pertama bekerja, tuan?"
__ADS_1
Adam menolehkan kepalanya dan tersenyum saat ia melihat Kane berdiri dibelakangnya.
Kane berjalan mendekati Adam dan mereka bersalaman lalu berpelukkan sebentar. Selama 5 tahun pula Adam dan kakaknya dibantu Kane dari Jepang mengambil alih perusahaan Sayudha.
Tapi sekarang, Adam perusahaan berada dibawah kendali kakaknya.
Perusahaan terbesar berpusat di kota S dan rencananya Adam akan menjalankan perusahaan yang bercabang di kota J.
"Baru sampai?" tanya Adam.
Kane menggeleng, "Sudah dua hari yang lalu tapi karena terkena jet-lag jadi aku baru bisa menemuimu sekarang,"
Adam berdecak, "Banyak alasan. Bilang saja kau tidak ingin menemuiku," dengus Adam mengalihkan wajahya dan bersedekap.
Kane terkekeh, "Ohhhh... jangan merajuk, sayangku. Sudah kubilang aku terkena jet-lag jadi tidak bisa menemuimu," ujar Kane mengedipkan matanya dan mencolek dagu Adam.
Mereka tidak sadar kalau saat ini mereka masih berada di lobby perusahaan dan menjadi tontonan para pegawai yang baru saja datang.
Para pegawai sama-sama membicarakan ketampanan dua pria yang tengah saling menggoda satu sama lain dan diantaranya ada yang berpikiran kalau Adam dan Kane adalah sepasang kekasih.
"Apa kalian ini memamerkan kemesraan kalian?"
Kane dan Adam yang saling melayangkan godaan mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Evan!!" pekik mereka saat melihat Evan yang berjalan mendekat.
"Ikut aku," ujar Evan mengambit leher dua pria yang memiliki tinggi sama dengannya dan membawa mereka menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Setelah lift tertutup, Evan melepaskan ampitannya dan bersedekap. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa kalian gay?" tanya Evan membuat Kane dan Adam saling memandang lalu merangkul satu sama lain dan tersenyum jenaka.
"Benar sekali," ujar mereka bersamaan membuat Evan bergidik ngeri.
"Dasar gila," ujar Evan menggelengkan kepalanya.
Evan terdiam menikmati pemandangan luar perusahaan dari dalam lift sedangkan Kane dan Adam tengah bercanda, entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga tertawa-tawa seperti itu.
Tak dapat dipercaya Evan sekarang menjadi sahabat Adam dan Kane. Takdir mempertemukan mereka menjadi sahabat melewati Zyta. Kakak sepupunya yang manis dan baik.
Sudah 7 tahun berlalu, entah bagaimana keadaan Zyta saat ini. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keadaan Zyta.
Terakhir kali yang mereka dengan Zyta berada di Kanada tapi setelah itu tidak diketahui lagi dimana keberadaannya.
"Katanya, Zyta berada di Jepang,"
Evan menolehkan kepalanya pada Kane.
"Jepang?"
Kane menganggukkan kepalanya.
"Dia datang kerumah. Kata orang rumah ia menemui papa tapi saat aku datang dia sudah tidak ada dirumah," jelas Kane.
"Lalu?" tanya Adam.
"Aku sudah menyuruh orangku untuk mencarinya, tapi masih belum ada kabar,"
Mereka terdiam setelah mendengar masih belum ada harapan apapun dari keberadaan Zyta.
"Tak terasa sudah 7 tahun berlalu. Zyta masih saja kucing-kucingan dengan kita," lanjut Kane memandang lurus ke arah luar.
Evan mengangguk, "Sungguh keras kepala,"
"Aku merindukannya. Entah bagaimana keadaannya sekarang," ujar Kane.
"Ya, semoga saja dia baik-baik saja," ujar Adam ikut memandang keluar lift.
Pikiran Adam terpantri pada Zyta. Ia memikirkan bagaimana keadaan Zyta setelah 7 tahun berlalu. Entah bagaimana Zyta setelah 7 tahun. Apakah ada perubahan atau tidak ada sama sekali. Setiap waktu ia selalu berdoa pada Tuhan agar segera dipertemukan dengan Zyta. Adam penarasan bagaimana respon Zyta jika melihatnya nanti.
__ADS_1
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡