
Happiyy Readiiingg
! : Typo ne everywhere
📋 This is Finally?
Sejak hari itu, Zyta tak pernah lagi bertatap muka dengan anggota keluarganya dan jika tanpa sengaja bertemu Zyta segera pergi menghindar dan jika mereka ingin menemuinyapun Zyta tetap sama, memilih kabur. Beberapa kali juga Kane datang mengunjungi Zyta di apartementnya atau dirumah sakit tapi Zyta lagi-lagi menghindar.
Bahkan ia juga tak pernah menghubungi orangtuanya lagi setelah itu. Zyta membutuhkan waktu untuk sendiri jadi ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk keluarganya.
Waktu yang terus berjalan, tak terasa sudah memakan waktu 5 bulan lamanya dan itu artinya sudah 5 bulan Zyta menjalani hubungannya dengan Eldan. Dan kurang 2 bulan lagi hubungan Zyta dan Eldan akan berakhir.
Tapi, karena kejadian yang terjadi di ulangtahun nenek 4 bulan yang lalu, Zyta tak pernah lagi menemui Eldan barang sedetikpun.
"Zyta, kakak sepupu lo udah disana 2 jam. Seenggaknya temui dulu dia. Bilang aja lo lagi gak mau diganggu," ujar Alex bersandar di dinding dan menatap Zyta yang duduk dikursi kerjanya kesal.
Zyta diam saja dan hanya melirik. Alex berdecak kesal. Wanita didepannya ini tiba-tiba saja datang keruangannya dan langsung mengambil alih kursi kerjanya.
"Masalahnya disini lo ganggu pekerjaan gue," ujar Alex menunjuk dirinya sendiri dengan kesal.
"Kalau mau kerja, ya, kerja aja," ujar Zyta acuh membuat Alex menggertakkan giginya tak sabar dan kehabisan kata-kata.
"Sialan lo! Gimana gue mau kerja. Lo aja duduk dikursi gue!!" ujar Alex akhirnya menghampiri Zyta dan bersedekap kesal didepan gadis itu dan lagi-lagi Zyta hanya meliriknya.
"Lo juga ganggu saat ada pasien!" lanjut Alex melotot pada Zyta.
Zyta hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Dasar!!!" geram Alex keluar dari ruangannya dengan kekesalan yang memuncak.
Tak berapa lama Alex kembali keruangannya karena jarak ruangan Alex dan Zyta juga tidak berjauhan, "Kakak sepupu lo udah gue suruh pergi,"
Zyta membulatkan matanya dan berdiri lalu menghampiri pintu dan mengintip lewat jendela kecil dipintu dan benar, kakak sepupunya sudah tidak duduk diruang tunggu.
Zyta menghembuskan napasnya lega, "Lo bilang apa sama dia?" ujar Zyta.
"Gue bilang kalo lo ada diruangan gue dan gak mau keluar,"
Zyta kembali membulatnya dan melayangkan satu pukulan dilengan Alex.
Alex terkekeh senang, "Lo percaya omongan gue?"
Kali ini Zyta membuka mulutnya dan Alex tertawa.
__ADS_1
"Sialan!" ujar Zyta kembali memukul Alex kali ini benar-benar kencang karena berhasil membuat Alex yang notabanenya berbadan kecil mengaduh kesakitan.
Zyta tersenyum mengejek dan segera meninggalkan ruangan Alex untuk kembali ke ruangannya.
Zyta membuka pintu ruangannya dan dengan langkah lebar berjalan menuju kursi. Ia menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya. Sudah lewat 4 bulan dan ia masih suka main kucing-kucingan dengan keluarganya bahkan dengan Eldan.
Ngomong-ngomong soal Eldan, tak terasa sudah ada 5 bulan. Zyta membuka matanya dan duduk termenung menatap matahari terbenam disela-sela gedung yang terlihat dari ruangannya. Karena dirinya yang terus saja kabur jadi pertunangannya dengan Eldanpun tak jadi dilaksanakan.
Kurang 2 bulan lagi, perjanjian mereka berakhir dan bodohnya selama 5 bulan ini bukannya memanfaatkan waktu mereka tapi Zyta malah menghindar. Selama menghindar tak dapat dipungkiri Zyta merindukan Eldan. Walaupun waktu bersama mereka dapat dihitung jari tapi Zyta menyukainya.
Zyta tersenyum miris, "Dasar bodoh!" gumannya.
"Maaf, pak! Tapi anda..,"
Zyta mengalihkan pandangannya dari matahari ke pintu. Zyta membulatkan matanya dan berdiri dari duduknya.
Disana.
Berdiri pria yang tengah dirindukannya. Napas pria itu terengah-engah, terlihat sekali kalau pria itu baru saja berlari menuju ruangannya.
"El.. Eldan?"
"Pak..," seru salah seorang perawat yang kelihatannya berusaha mencegah Eldan masuk tadi.
"Ada apa?" tanya Zyta to the point.
Eldan berjalan pelan menghampiri Zyta yang berada dibalik meja periksanya. Eldan berdiri tepat didepannya dan Eldan yang lebih tinggi dari Zyta membuat gadis itu harus mengadahkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Eldan yang terlihat sayu dan disana, entah Zyta yang terlalu berlebihan atau tidak tapi Zyta dapat melihat kerinduan disana.
"El...,"
Zyta menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Eldan memeluknya dan semakin erat membuat Zyta sesak dan kesulitan untuk bernapas.
Zyta memukul-mukul punggung Eldan meminta laki-laki itu untuk melepaskannya dan untungnya Eldan mengerti dan melepasakan Zyta sedangkan Zyta segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Setelah selesai mengatur napasnya Zyta bersedekap dan menatap Eldan tajam.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Eldan tersenyum gugup dan mengelus belakang kepalanya, "Emmm...,"
Eldan bingung ingin menjawab pertanyaan Zyta. Walaupun hanya pertanyaan yang mudah tapi terasa sulit bagi Eldan untuk mengucapkannya.
"Ada yang ingin kau sampaikan?"
__ADS_1
Eldan menganggukkan kepalanya cepat dan Zyta mengangkat sebelah alisnya.
"Mbak, aku sudah memutuskan. Aku akan kul...," ucapan Eldan terpotong.
"Dokter Zyta!"
Zyta dan Eldan sama-sama menolehkan kepalanya kepintu.
"Cintya!" ujar Zyta dan Eldan bersamaan.
Zyta merutuki dalam hatinya, ia lupa jika ada janji temu dengan Cintya saat ini dan malah fokus pada kedatangan tiba-tiba diruangannya.
Cintya menutup mulutnya tak percaya dan langkah pelan ia menghampiri Eldan. Cintya mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Eldan. Cintya meneteskan air matanya dan dengan segera memeluk Eldan juga sempat mencium pipi Eldan.
"Eldan.. Eldan.. kamu kemana saja?" ujar Cinyta diantara isak tangisnya.
Zyta mengalihkan pandangannya tak ingin melihat dan entah mengapa hatinya berdenyut sakit. Apakah ia terlalu menikmati hari-harinya yang singkat dengan Eldan?
"Cin.. Cintya?"
"Kurasa kalian membutuhkan waktu bicara berdua. Aku pergi dulu," ujar Zyta menepuk bahu Eldan.
"Dokter Zyta!"
Zyta menghentikan langkah tanpa berbalik saat Cintya memanggilnya.
"Terima kasih,"
Zyta mengacungkan jempolnya keudara dan segera pergi dari ruangannya.
Setengah berlari Zyta meninggalkan ruangan dan membuat beberapa perawat saling pandang bingung. Zyta dapat melihat dengan jelas sekali bagaimana wajah bahagia Cintya saat wanita itu bertemu dengan Eldan. Tanpa sadar langkah Zyta membawanya menuju taman dimana ia pertama kali bertemu dengan Cintya.
Zyta duduk dikursi panjang yang dulu diduduki Cintya saat bertemu dengannya. Zyta duduk diam bersandar. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipinya.
"Aku.. Aku menangis?"
Zyta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menumpahkan airmatanya tanpa suara apapun.
Zyta mengangkat kepalanya saat ia merasakan sebuah pelukan, "Teruskan saja jika itu membuatmu lebih baik,"
Tanpa diminta dua kali Zyta kembali menumpahkan airmatanya. Alex semakin mengeratkan pelukkannya ketika Zyta berbalik dan balas memeluknya.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
__ADS_1