
Happy Reading
PS:Menjelangakhir
πFirst Meet U (2)
*Adam terus berjalan kesana kemari menawarkan minuman yang dibawanya untuk para tamu undangan dan tak lupa ia terus memberikan senyuman pada para tamu yang mengambil minuman dari baki yang dibawanya.
Adam menghembuskan napasnya panjang saat ia memasuki dapur untuk mengambil minuman lagi. Sekarang sudah jam setengah 9 malam tapi para tamu belum ada yang ingin meninggalkan acara malah semakin ramai saja.
Adam baru saja tersenyum pada salah satu tamu wanita yang mengambil minum dari bakinya saat ia mendengar keributan yang tak jauh darinya membuat Adam penasaran apa yang sedang diributkan disana.
"Ck! Sudah baik kutemani kemari. Kau masih saja memasang wajah galakmu," ujar seorang gadis memakai gaun putih berlengan panjang transparan dan memperlihatkan bahunya yang putih mulus.
Adam terdiam dan terus melihat gadis tersebut yang wajahnya tidak asing bagi Adam. Sepertinya Adam pernah melihatnya wajah itu tapi ia sudah lupa dimana ia melihatnya. Maafkanlah ingatan jangka pendeknya ini.
"Ya! Bagaimana mungkin aku tidak memasang wajah galak. Lihatlah pakaian apa yang kau gunakan ini,"
Gadis itu memutar bola matanya malas dan saat si pria akan mengucapkan kata-katanya lagi tapi terhenti karena ada yang memanggil namanya. Wajah gadis itu terlihat sebal dan semakin terlihat sebal saat Reyhan mendekati dua orang itu.
"Playboy cap badak mulai beraksi," guman Adam saat ia melihat Reyhan mulai menggoda gadis.
Entah apa yang dilontarkan Reyhan karena wajah gadis itu terlihat marah sekarang sedangkan Reyhan terlihat senang. Gadis itu menolehkan kepalanya tepat kearahnya saat Reyhan dan pria yang bersama gadis itu terlibat pembicaraan.
Gadis itu terdiam dengan mata bulatnya menatap kepadanya dan Adam sendiri juga tidak bisa mengalihkan pandangannya seolah ada magnet yang menariknya untuk terus melihat gadis itu*.
*Tak berapa lama gadis itu tersenyum lembut padanya membuat Adam segera mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Adam berjalan cepat menuju dapur dan meletakkan bakinya yang masih tersisa dua minuman diatas meja. Adam duduk dikursi didepan meja dan mengatur napasnya yang tiba-tiba saja terasa sesak juga jantungnya yang entah mengapa bisa berdegup dengan kencang.
"Kamu nggak papa, Dam?"
Adam mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya pada teman yang baru saja dikenalnya itu.
"Tapi, pipimu merah gitu sampai telinga. Sakit?"
Adam segera menyentuh pipi dan telingan lalu beranjak dari duduknya dan secepat kilat menuju toilet.
Adam melihat wajahnya pada cermin dan benar saja pipinya memerah sampai ke telinga. Adam segera membasuh wajahnya dan kembali melihat cermin tapi tetap saja pipinya memerah sampai ke telinga.
Selama 17 tahun Adam tumbuh tak pernah sekalipun Adam mengalami hal seperti ini. Ini pertama kali untuknya. Hanya dengan sebuah senyum lembut saja berhasil membuat Adam seperti ini. Sungguh diluar nalar Adam.
Apakah ini yang orang bilang? Apakah ia baru saja jatuh cinta*?
__ADS_1
πππππ
"Hei! Adam! Hei!"
Adam tersadar dari lamunannya saat Zyta mengguncang bahunya dan menatap Zyta bingung tapi Zyta juga ikut bingung.
"Apa yang kau lamunkan?"
Adam tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan terlalu banyak melamun,"
Adam menganggukkan kepalanya. Dan mereka sama-sama terdiam menikmati hembusan angin malam yang terasa sejuk malam ini. Mungkin saja saat ini orang-orang tengah mencari mereka.
"Kudengar, kau bekerja diperusahaan ayah?"
Adam berdeham mengiakan dan mereka kembali sama-sama terdiam .
Zyta yang bingung tengah mencari topik pembicaraan sedangkan Adam tengah mengatur detak jantungnya saat ia mengingat ingatannya beberapa tahun yang lalu.
Adam mengingat gadis yang tersenyum padanya saat acara itu. Gadis itu adalah gadis yang ada disebelahnya saat ini.
Ia ingat sekarang. Itu Zyta dan pasangannya adalah Kane. Gadis yang berhasil membuat Adam merasakan apa itu jatuh cinta pada pandangan pertama sekarang duduk disebelahnya.
"Sej... Ya Tuhan!! Adam, ada apa denganmu? Kau sakit?" tanya Zyta khawatir saat ia menolehkan kepalanya pada Adam dan pipi pria itu memerah dan semakin memerah sampai ketelinga saat Zyta memanggil namanya.
"Kalau sakit kenapa tidak bilang dari tadi," ujar Zyta menarik kesimpulannya sendiri karena Adam hanya diam saja.
"Kalau begitu kita kembali kerumah saja. Kau perlu istirahat," ujar Zyta beranjak dari duduknya dan menghampiri Adam untuk membantu pria itu berdiri padahal Adam dalam keadaan baik-baik saja saat ini tapi Zyta pikir Adam tidak punya tenaga karena sakit.
Adam hanya diam saja saat Zyta mencoba membantunya berdiri. Adam tak beranjak sedikitpun dari duduknya membuat Zyta mengerutkan dahinya bingung
'Apa Adam sakit parah sampai berdiri saja tidak mampu tapi suhu badannya terasa normal? Ini aneh,' batin Zyta.
"Kalau begitu kupanggilkan orang untuk membantumu pindah kerumah," ujar Zyta berdiri dan berjalan meninggalkan rumah belajar.
"Tunggu...," ujar Adam memegang tangan Zyta membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan memandang Adam yang masih terduduk dengan bingung.
Zyta mengerjapkan matanya bingung saat Adam hanya memegang pergelangan tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Adam?"
"Jangan kemana-mana," ujar Adam lirih tapi Zyta masih dapat mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi," ujar Zyta tak yakin membiarkan dirinya untuk tinggal dan membuat sakit Adam semakin parah.
"Kumohon," ucap Adam sedikit menolehkan kepalanya tanpa menatap Zyta membuat Zyta menatap Adam bingung.
Pipi Adam tetap terlihat merah dan pandangannya terlihat malu. Memanganya apa Zyta salah berucap sampai-sampai membuat Adam malu tapi Zyta rasa ia tidak mengucapkan apapun atau jangan-jangan karena Zyta bertanya soal Adam yang bekerja diperusahaan Ayahnya.
Zyta berjongkok disamping Adam dengan pergelangan tangannya yang masih dalam genggaman Adam.
"Apa aku baru saja membuatmu malu?"
Adam tersentak saat Zyta melontarkan pertanyaan yang Adam sendiri tidak berani menjawabnya tapi Adam menganggukkan kepalanya kaku. Malu tentu saja.
"Maafkan aku. Bukan maksudku bertanya soal kau yang bekerja diperusahaan ayah,"
Adam menatap Zyta bingung.
"Maksudmu?"
"Maaf membuatmu malu karena bertanya pekerjaanmu,"
Adam mengerjapkan matanya bingung harus menjawab apa lalu ia tertawa kecil. Ternyata wanita didepannya ini tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa pipinya memerah menahan malu dan malah berpikir Adam malu karena bekerja diperusahaan ayahnya.
Adam mengangkat tangannya dan mengacap gemas rambut Zyta.
"Bukan itu yang membuatku malu,"
Zyta memiringkan kepalanya, "Lalu?"
Adam hanya tersenyum dan mengelus rambut Zyta berulang kali. Rambut Zyta terasa halus ditangan Adam membuatnya ingin terus mengelusnya setiap saat. Mungkin mengelus rambut Zyta akan menjadi kesukaan tersendiri baginya.
"Ada deh," ujar Adam mendekatkan badannya untuk memeluk Zyta.
Zyta membulatkan matanya saat Adam memeluknya. Zyta tidak mengerti apa yang tengah terjadi padanya. Semua berjalan cepat tapi Zyta senang. Walaupun tubuh Adam terbalut tuxedo tebal tapi tetap saja terasa hangat saat Zyta membalas pelukkan pria itu.
"Adam," panggil Zyta.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja,"
Zyta akhirnya hanya diam dan membiarkan Adam terus memeluknya. Tanpa Zyta dan Adam sadari dari kejauhan Evan melihat mereka berdua dengan kepala yang terus menggeleng tak percaya.
"Benar-benar deh," guman Evan beranjak dari tempat persembunyiaannya untuk kembali ke tempat acara setelah kakek-nenek memintanya dan Kane untuk mencari Zyta dan Adam yang tiba-tiba saja menghilang dari acara.
"Dasar pasangan mesum," guman Kane juga beranjak dari tempat persembunyiaannya dengan Evan tadi.
__ADS_1
π‘ππ‘TBCπ‘ππ‘