
Happy Reading
!:typobertebaran
PS:Menjelangakhirhayat
📋Thank You
Zyta menatap lekat Kane dan Evan secara bergantian. Kane maupun Evan sama-sama mengalihkan pandangan mereka kearah lain.
“Sebenarnya ada apa dengan kalian ini?” tanya Zyta yang diacuhkan oleh dua orang didepannya.
Zyta mengepalkan tangannya menahan kesal. Kesabarannya sudah mulai habis karena dua orang sepupunya ini.
“AKH!!! ZYTA!!!” pekik Kane maupun Evan secara bersamaan saat merasakan pukulan dimasing-masing paha mereka sedangkan Zyta hanya menatap datar kedua sepupunya ini.
Kane maupun Evan sama-sama mengusap paha mereka dan kembali mengalihkan pandangan mereka. Cukup. Kesabaran Zyta benar-benar habis saat ini.
“Akh!”
Kane dan Evan sama-sama meringis sakit saat Zyta mencengkram rahang mereka untuk melihat Zyta yang menundukkan kepalanya menahan kesal.
“Kalian!!” tekan Zyta semakin mengencangkan cengkramannya.
Kane dan Evan saling melirik satu sama lain dan meneguk ludah mereka, menunggu dengan takut apa yang akan dilakukan setelah ini. Zyta mengangkat kepalanya perlahan dan membuat Kane dan Evan semakin takut.
“Sebenarnya. Apa. Yang. Terjadi. Dengan. Kalian?!!” ujar Zyta menekan setiap katanya dalam kalimatnya menandakan dia benar-benar kesal sekarang.
Kane dan Evan saling melirik, saling melempar menyuruh menjelaskan pada Zyta.
“Sudah cukup,” ujar Zyta pelan dan dalam.
“Akh!!” pekik Kane dan Evan saat Zyta menarik maju Kane dan Evan mendekat dengan tangan yang masih dengan setia mencengkram rahang mereka.
“Bicaralah!”
“Tapii, lepaasskan duluu,”
Zyta langsung melepaskan cengkramannya pada Evan tapi tidak pada Kane.
“Aukuu juugyaaa,”
Zyta juga melepaskan cengkramannya pada Kane. Kane dan Evan sama-sama mengusap rahang mereka.
“So?”
Kane berdecak, “Tidak ada yang perlu dijelaskan,”
Zyta mengerutkan dahinya tak puas dengan jawaban Kane lalu mengalihkan pandangannya pada Evan.
“Kenapa melihatku seperti itu. Aku hanya sedang dalam mode malas saja,” ujar Evan.
__ADS_1
Zyta menghela napasnya dan menggeleng heran.
“Ada-ada saja. Tapi, bukan karena ibu memintaku tetap tinggal dikamar Adam, kan?” ujar Zyta mencondongkan tubuhnya membuat Kane dan Evan langsung gugup.
Zyta tersenyum kecil, “Jadi, benar tebakanku?”
Kane maupun Evan hanya terdiam dan mengalihkan pandangan mereka.
“Ya Tuhan!!! Ada-ada saja kalian ini,” ujar Zyta menjauhkan tubuhnya dari Kane dan Evan lalu menyandar pada kursi.
“Bisakah kalian bersikap biasa saja? Seperti anak kecil saja,”
“Ini bukan seperti anak kecil tapi untuk menjaga keutuhanmu,”
Zyta menatap Kane datar. Kata-kata Kane entah mengapa memancing kekesalannya kembali.
“Kau pikir aku akan melakukan ‘itu’ pada Adam dan Adam akan melakukan ‘itu’ padaku?”
Kane mengedikkan bahunya, “Mungkin saja. Makhluk gaib ada banyak dan tersebar dimana-mana,”
Zyta merasa semakin kesal dengan Kane hingga rasanya ia ingin sekali melayangkan tinjunya pada Kane.
“Zyta, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa,” ujar Kane berpindah duduk menjadi berlutut pada Zyta dan menangkup kedua tangan Zyta.
“Kamu adikku yang paling manis dan mana mungkin aku membiarkanmu bersama dengan Adam. Jika bersama denganku, itu bukan masalah tapi jika dengan Adam tentu saja menjadi masalah,” Zyta hanya menatap Kane datar.
“Lebih baik kamu menikah denganku saja. Aku akan menjagamu dengan baik adikku yang manis,” ujar Kane diikuti dengan senyuman lebarnya dan Evan yang melihat itu menatap Kane aneh.
“Kau memang pengidap Siscon,” ujar Zyta melepaskan tangannya pada Kane dan berdiri lalu berjalan meninggalkan Kane yang meneriaki namanya dengan Evan.
Zyta mengeratkan haori yang dipakainya saat angin berhembus pelan menerpa kulitnya. Sebelum keluar kamar dan berjalan-jalan, Zyta tadi melihat jam dan menujukkan pukul setengah tiga pagi dan dapat dipastikan seluruh anggota keluarganya masih terlelap.
Ia terbangun dari tidurnya karena haus dan niatnya hanya mengambil minum tapi akhirnya ia memutuskan berjalan-jalan menyusuri rumah karena dirinya memang sudah tidak mengantuk lagi. Tanpa sadar Zyta melangkahkan kakinya hingga sampai dirumah belajar.
Zyta mengerutkan dahinya saat dari kejauhan ia melihat seseorang tengah berdiri disana. Setelah diamati secara seksama ternyata itu adalah Adam. Zyta segera melangkahkan kakinya mendekati Adam.
“Kenapa disini?” tanya Zyta menaiki tangga satu per satu.
Adam menolehkan kepalanya lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Terus lagi apa disini sendirian? Tidak bisa tidur?” Adam menganggukkan kepalanya.
“Sama. Aku juga tidak bisa tidur,” guman Zyta mengadahkan kepalanya dan melihat bulan yang masih bundar sempurna dan memancarkan cahaya terangnya.
Keheningan akhirnya menyelimuti mereka. Zyta maupun Adam tidak tau harus berbicara apa satu sama lain.
“Adam,” panggil Zyta dan Adam berdeham mengiakan.
“Bagaimana aku harus memanggilmu sekarang? Adam atau kak Adam?”
Adam mengedikkan bahunya, “Apapun bisa,”
__ADS_1
“Baka~(Bodoh~)”
Adam langsung menolehkan kepalanya pada Zyta yang tersenyum lebar.
Ia memang tidak bisa bahasa Jepang tapi karena terlalu sering mendengar Kane mengucapkan kata tersebut membuat rasa ingin taunya muncul dan mencari tahu artinya dari kata tersebut. Adam tetap menatap Zyta tak percaya. Melihat ekspresi Adam yang menurut Zyta sangat menggemaskan membuat Zyta tertawa pelan.
“Nggak mungkinlah, aku panggil kamu gitu,”
Adam tidak menjawab apapun dan akhirnya mereka sama-sama terdiam.
“Terima kasih,” ujar Zyta tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan, Adam menolehkan kepalanya menunggu Zyta kembali berbicara.
Zyta tetap saja diam dan Adam tidak tau harus mengucapkan apa lagi. Sejak kedatangannya kemari saja sudah membuat Adam bingung pada dirinya sendiri. Hanya karena ia tidak bisa tidur dan tanpa disadarinya ia sudah berjalan sampai ketempat ini.
Zyta menghirup udara malam dan menghembuskan dengan perlahan. Hawa dingin yang menerpa wajahnya entah mengapa tidak terlalu terasa sedingin tadi. Mungkin karena ada Adam disebelahnya.
Zyta tersenyum kecil karena pemikirannya. Memang apa hubungan Adam dengan udara malam ini. Zyta menutup matanya dan membukanya perlahan. Diamnya Adam membuatnya bingung.
Apa ia baru saja melakukan suatu kesalahan atau kepulangannya tidak membuat Adam senang. Tapi, sikapnya tadi pagi menunjukkan hal lain. Pipi Zyta memanas saat ia menyadari akan sikap Adam pagi ini.
‘Manis~’ batinnya.
Sikap Adam yang malu-malu seperti itu membuatnya gemas. Entah apa yang terjadi selama ini tapi Zyta suka dengan sikap Adam yang mulai menunjukkan perubahan. Ia merasa Adam lebih terbuka terhadapnya.
Zyta menolehkan kepalanya dan tersenyum pada Adam yang belum mengalihkan pandangannya darinya. Zyta mendekatkan tubuhnya pada Adam. Diulurkan tangannya hingga menyentuh pipi Adam. Zyta mendekatkan wajahnya pada Adam dan mata Adam membulat atas tindakan berani Zyta.
Zyta menjauhkan wajahnya dari wajah Adam, “Terima kasih untuk semuanya,” ujar Zyta terseyum lembut.
Adam masih saja terdiam. Ia tidak tau melakukan apa. Ia kaget dengan sikap Zyta yang tiba-tiba tadi. Hal itu membuat tubuhnya terasa kaku bahkan untuk berbicara saja lidahnya terasa kelu. Senyum Zyta hilang dan memandang Adam bingung.
Sekarang Zytalah yang membulatkan matanya akan sikap Adam yang tiba-tiba menangkup wajahnya dan mendekatkan wajah mereka dengan cepat bahkan Zyta belum mengatakan apapun. Akhirnya Zyta hanya tersenyum saat Adam mencium bibirnya.
Tak jauh dari sana terdapat delapan pasang mata yang tengah mengawasi Adam dan Zyta. Salah satu diantaranya memukul orang yang berjongkok disebelahnya sepertinya. Dan orang yang dipukul menatap dipukul menatap dipemukul kesal.
“Sakit!! Sialan!!” ujar Evan pada Kane yang baru saja memukulnya.
“Kau lihat itu...,” ujar Kane menggigit bajunya karena kesal dan sedih sedangkan Evan hanya memutar bola matanya malas.
Memang apa salahnya sepasang kekasih bermesraan ditambah lagi dalam waktu dekat inipun mereka juga akan menikah.
“Putriku sudah besar ternyata,” ujar Mikhail dengan wajah sedihnya sedangkan Nirmala hanya terkekeh dan mengusap-usap punggung suaminya.
“Padahal rasanya baru kemarin aku menggendong tubuh bayinya,” ujar ibu Evan diangguki sang suami.
“Kau benar. Rasanya baru kemarin aku mencium-cium pipinya dan sekarang ia sudah dicium oleh prianya,” ujar nenek juga tersenyum.
“Ia sudah dewasa sekarang,” ujar kakek tanpa mengalihkan pandangannya dari Adam dan Zyta yang sekarang berpelukan.
Walau sudah tua tapi ia masih dapat melihat dari kejauhan senyum lebar Adam untuk Zyta. Dengan sikapnya selama ini, ia senang ada orang yang mau menjaga cucu pertamanya itu. Sejak dulu ia sadar, ia sudah terlalu keras pada Zyta tapi semua ini karena ia tidak ingin cucunya itu kenapa-kenapa.
Dan jauh didalam hatinya ia sangat menyayangi cucu pertamanya itu walau ia tau cara ia menunjukkan kasih sayangnya itu salah. Tapi, dibalik semua itu, ia ingin yang terbaik untuk Zyta. Dan orang yang tengah dipeluk cucunya itulah yang terbaik bagi Zyta.
__ADS_1
Ia yakin itu.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡